24 jam bagi muslimin/muslimat

Sebuah tawaran pembagian waktu dalam sehari semalam bagi muslimin/muslimat & mukminin/mukminat , waktu-waktu atau pukul yang ada dalam pembagian waktu ini sifatnya tentative menyesuaikan dengan jadwal waktu sholat lima waktu pada masing-masing daerah yang tentunya tidak sama.

Tawaran ini lebih banyak ditujukan kepada mereka yang telah berumur 40 tahun ke atas, sesuai bunyi ungkapan “ life begins at 40” atau kalau mau mengambil panutan kepada Rasulullah Saw mulai mendapat kewajiban menyebarkan agama Islam sesuai sifat seorang Rasulullah yaitu tablik pada saat beliau berumur 40 tahun.

Diharapkan dalam waktu sehari semalam tidak ada waktu yang terbuang percuma bagi seorang muslimin/muslimat & mukminin/mukminat maka jadwal inilah yang tersusun dimulai dari bangun tidur di pagi hari hingga kembali tidur di malam hari :

04.00     bangun pagi, mandi, wudlu

04.15     Sholat sunnat wudlu

Sholat sunnat tahajud

Sholat sunnat witir

05.00     ke mesjid

Sholat sunnat tahiyyatul masjid

I’tikaf

Sholat sunnat Subuh

Sholat Subuh

06.00     Membaca do’a do’a yang datang dari Rasulullah Saw, par sahabat, and orang shaleh-shaleh

Menbaca segala tasbih dan dzikir

Membaca Al-Qur’an

Tafakur dan Muraqabah

07.00     Sholat sunnat Isyra’

Sholat sunnat Istikharah

Kembali kerumah, sarapan

Berangkat kerja

09.00     Sholat sunnat Dhuha

Menuntut ilmu yang bermanfaat pada agama

Ibadah-ibadah sunnat

Berbuat kebajikan kemapada kaum muslimim

Bekerja untuk keluarga

12.00     ke mesjid

Sholat sunnat Tahiyyatul masjid

Sholat sunnat sebelum Zohor

Sholat Zohor

Sholat sunnat sesudah Zohor

Pulang ke rumah/tempat kerja dan makan siang

16.00     ke masjid

Sholat sunnat Tahiyyatul masjid

Sholat sunnat sebelum Asar

Sholat Asar

Pulang ke rumah/tempat kerja

Laksanakan kegiatan seperti antara Sholat sunnat Dhuha dan Zohor

18.00     ke masjid

Sholat sunnat Tahiyyatul masjid

Sholat sunnat sebelum Magrib

Sholat Magrib

Sholat sunnat sesudah Magrib

Ibadah-ibadah sunnat lainnya

Sholat sunnat sebelum Isya

Sholat Isya

Sholat sunnat sesudah Isya

Pulang ke rumah

21.00     Kegiatana bersama keluarga

23.0        Mutalaah kitab/zikir/memca Al-Qur’an/salawat/dll

Wudlu

Sholat sunnat Wudlu

24.00     Tidur

Demikian jadwal ini hanya sebagai acuan saja dan disesuaikan dengan rutinitas yang dimiliki oleh masing-masing muslimin/muslimat/mukminin/mukminat.

Salah satu upaya untuk mendapat anak/keturunan

Dalam kehidupan nyata banyak pasangan suami istri yang sudah berumur belum beruntung memiliki keturunan karena berbagai sebab seperti ketidak suburan dari pihak suami atau sebaliknya, atau keduanya memang sudah tidak subur lagi.

Saat ini teknologi sudah maju pesat, banyak kemungkinan dan peluang bagi pasangan suami istri untuk memperoleh peluang kembali dalam mewujudkan angan memiliki keturunan.

Terlepas dari semua usaha tersebut, berdo’a kepada Allah SWT adalah yang terpenting sebagaimana Allah SWT membimbing kita dengan memberi contoh dalam Al-Qur’an pada surah Al-Anbiya’ ayat 89 dan ayat 90 yang berbunyi sebabagi berikut :

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdo’a kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik’.”

“Maka Kami kabulkan (do’a)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusuk kepada Kami.”

Yang menarik untuk disimak ada beberapa hal, antara lain :

  1. Kalimat  “Engkaulah ahli waris yang terbaik”, maksudnya adalah sekira Allah tidak mengabulkan do’anya, yaitu tidak memberinya keturunan, maka Zakaria menyerahkan dirinya kepada Allah sebab Allah adalah ahli waris yang terbaik.
  2. Terkabulnya sebuah do’a, tentu dengan syarat bahwa perlu selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan serta dalam berdo’a agar bersungguh-sungguh dengan penuh harap dan cemas kepada Allah SWT.

Semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin

Millennium Development Goals (MDGs)

Tujuan Pembangunan Milenium (“Millennium Development Goals”, atau MDGs) mengandung delapan tujuan sebagai respon atas permasalahan perkembangan global, yang kesemuanya harus tercapai pada tahun 2015.  Tujuan Pembangunan Milenium adalah hasil dari aksi yang terkandung dalam Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangi oleh 147 kepala Negara dan pemerintahan pada UN Millennium Summit yang diadakan di bulan September tahun 2000.

Delapan butir MGDs terdiri dari 21 target kuantitatif dan dapat diukur oleh 60 indikator.

  • Tujuan 1: Memberantas kemiskinan ekstrim dan kelaparan
  • Tujuan 2: Dicapainya pendidikan tingkat dasar yang merata dan universal
  • Tujuan 3: Memajukan kesetaraan gender
  • Tujuan 4: Mengurangi tingkat mortalitas anak
  • Tujuan 5: Memperbaiki kualitas kesehatan ibu hamil
  • Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain
  • Tujuan 7: Menjamin kelestarian lingkungan
  • Tujuan 8: Menjalin kerjasama global bagi perkembangan kesejahteraan

Tujuan Pembangunan Millennium:

  • menyintesis dalam satu paket komitmen-komitmen terpenting yang dibuat secara terpisah-pisah dalam berbagai konferensi dan pertemuan tingkat tinggi internasional yang diadakan pada tahun 1990-an;
  • merespon secara eksplisit tentang interdependensi antara pertumbuhan, upaya pembasmian kemiskinana dan perkembangan yang berkesinambungan;
  • mengenali bahwa upaya perkembangan bergantung kepada pemerintahan yang demokratis, pengaturan oleh hukum, kehormatan pada hak azasi manusia, perdamaian dan keamanan hidup;
  • mempunyai tenggat waktu dan target yang dapat diukur beserta dengan indikator dalam memantau kemajuan, dan;
  • membawa dalam kebersamaan, sebagaimana terkandung pada Tujuan 8, tanggung jawab dalam memajukan Negara berkembang dengan Negara maju, dalam kerjasama global yang dituangkan dalam International Conference on Financing for Development di Monterrey, Mexico pada bulan Maret tahun 2002, and juga pada Johannesburg World Summit on Sustainable Development pada bulan Agustus tahun 2002.

Implementasi Tujuan Pembangunan Milenium

Pada tahun 2001, menanggapi permintaan dari para pemimpin dunia, Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa menghadirkan Perencanaan Menuju Pengimplementasian Deklarasi Milenium (“Road Map towards the Implementation of the United Nations Millenium Declaration”). Perencanaan tersebut merupakan ikhtisar yang terpadu dan komprehensif menguraikan berbagai strategi potensial dalam memenuhi tujuan dan komitmen dari Deklarasi Milenium.

Sejak itu, peta strategis tersebut telat menelurkan laporan tahunan.  Isi laporan tahunan 2002 memfokuskan pada kemajuan dibuat dalam pencegahan konflik bersenjata dan pencegahan penyakit menular, termasuk HIV/AIDS dan Malaria.  Laporan tahunan 2003 menekankan pada strategi perkembangan dan strategi perkembangan berkelanjutan.  Tahun 2004 berfokus pada keterpisahan digital dan pengekangan kriminal antar Negara.

Pada tahun 2005, Sekretaris Jendral menyiapkan laporan terpadi berjangka lima tahun berisi kemajuan dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium. Laporan ini meninjau ulang implementasi dari keputusan yang diambil dari hasil berbagai konferensi dan sesi khusus yang membahas negara-negara yang paling tidak berkembang, kemajuan dalam memerangi HIV/AIDS dan pendanaan untuk perkembang dan perkembangan yang berkelanjutan.

Tujuan 1: Mengentaskan kemiskinan ekstrim dan kelaparan

Indikator

Tujuan 1a: Mengurangi hingga setengahnya Penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan ekstrim

  • 1.1 Proporsi penduduk yang hidup di bawah $1 (PPP) per hari
  • 1.2 Rasio kesenjangan tingkat kemiskinan
  • 1.3 Porsi dari populasi dalam kategori 20% penduduk termiskin dalam konsumsi nasional

Target 1b: Mencapai ketenagakerjaan yang produktif dan pekerjaan layak merata, termasuk wanita dan usia muda

  • 1.4 Tingkat pertumbuhan produk nasional bruto per orang
  • 1.5 Rasio tingkat keperkerjaan penduduk
  • 1.6 Proporsi penduduk yang bekerja dan berpenghasilan $1 (PPP) per hari
  • 1.7 Proporsi tenaga kerja yang menghidupi diri sendiri dan yang menghidupi keluarga di dalam angka total penyerapan tenaga kerja

Target 1c: Mengurangi Jumlah penduduk yang menderita kelaparan hingga setengahnya

  • 1.8 Jumlah balita dengan berat badan di bawah normal
  • 1.9 Proporsi penduduk yang mengkonsumsi nilai gizi kalori di bawah standar minimum

Tujuan 2: Mencapai pendidikan dasar untuk semua

Indicators

Target 2a: Memastikan anak laki-laki dan perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar

  • 2.1 Netto jumlah pendaftaran pendidikan dasar
  • 2.2 Proporsi pelajar yang menyelesaikan pendidikan dari Kelas 1 hingga kelas akhir di pendidikan dasar
  • 2.3 Tingkat kemampuan baca-tulis laki-laki dan perempuan usia 15-24 tahun

Tujuan 3: Memajukan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan

UNDP bekerja dengan dan berpihak kepada wanita dalam advokasi kebijakan, perkembangan kapasitas wanita dan mendukung rancangan kesetaraan gender dengan berkolaborasi dengan UNIFEM.

Indikator

Target 3a: Menghapus ketimpangan gender di tingkat pendidikan sekolah dasar dan menengah pada tahun 2005, dan pada semua tingkat pendidikan pada tahun 2015

  • 3.1 Rasio anak laki-laki dengan anak perempuan yang mengenyam pendidikan tingkat dasar, menengah dan lanjut
  • 3.2 Proporsi dari wanita sebagai pekerja upahan di sektor non-pertanian
  • 3.3 Proporsi perwakilan wanita dalam parlemen nasional

Tujuan 4: Mengurangi tingkat kematian anak

Indikator

Target 4a: Mengurangi tingkat kematian anak usia 0-5 tahun hingga dua per tiga bagian

  • 4.1 Angka kematian balita
  • 4.2 Angka kematian bayi
  • 4.3 Jumlah bayi usia satu tahun yang diimunisasi campa

Tujuan 5: Memperbaiki kualitas kesehatan ibu

Indikator

Target 5a: Mengurangi angka kematian ibu hingga 75%

  • 5.1 Angka mortalitas ibu
  • 5.2 Jumlah proses kelahiran yang ditangani oleh tenaga medis terlatih
  • Target 5b: Menyediakan akses kepada kesehatan reproduksi secara merata
  • 5.3 Tingkat penggunaan kontrasepsi
  • 5.4 Tingkat kelahiran remaja
  • 5.5 Jaminan perawatan pra-kelahiran (sekurang-kurangnya satu kunjungan and minimal empat kunjungan)
  • 5.6 Kebutuhan yang belom terpenuhi dalam hal keluarga berencana

Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, malaria and penyakit menular lainnya

Indikator

Target 6a: Menghentikan dan mulai menurunkan kecenderungan penyebaran HIV/AIDS

  • 6.1 Banyaknya penderita HIV berusia 15-24 tahun
  • 6.2 Pengunaan kondom dalam aktivitas seksual resiko tinggi
  • 6.3 Proporsi dari populasi usia 15-24 tahun yang mempunyai pengetahuan tentang HIV/AIDS yang komprehensif dan tepat
  • 6.4 Rasio kehadiran di sekolah antara yatim piatu dengan bukan-yatim piatu berusia 10-14 tahun
  • Target 6b: Dicapainya akses perawatan secara merata dan universal bagi penderita HIV/AIDS pada tahun 2010
  • 6.5 Proporsi dari populasi menderita infeksi HIV tingkat lanjut yang mempunyai akses kepada pengobatan antiretroviral
  • Target 6c: Menghentikan dan menurunkan kecenderungan penyebaran malaria dan penyakit menular lainnya
  • 6.6 Jumlah insiden dan angka kematian karena Malaria
  • 6.7 Proporsi balita yang tidur menggunakan tirai ranjang yang sudah mengandung insektisida
  • 6.8 Proporsi balita yang menderita demam dan dirawat dengan obat-obatan anti-malaria yang tepat
  • 6.9 Jumlah insiden, eksistensi umum, angka kematian karena tuberkulosa
  • 6.10 Proporsi penyakit tuberkulosis (TBC) yang terdeteksi dan terobat dibawah supervisi langsung perawatan jangka pendek

Tujuan 7: Memastikan kelestarian lingkungan

Indikator

Target 7a: Mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program Negara; serta mengembalikan sumber daya alam yang hilang
Target 7b: Mengurangi kadar hilangnya keragaman alam dan menurunkan tingginya kadar kehilangan tersebut secara signifikan pada tahun 2010

  • 7.1 Proporsi dari dataran hutan
  • 7.2 Total emisi CO2, per kapita dan per $1 GDP (PPP)
  • 7.3 Konsumsi bahan perusak ozon
  • 7.4 Proporsi dari jumlah ikan dalam batasan aman lingkup hayati
  • 7.5 Proporsi dari sumber air yang digunakan
  • 7.6 Proporsi dari daratan dan laut yang terlindungi
  • 7.7 Proporsi dari spesies yang terancam punah

Target 7c: Mengurangi hingga setengahnya jumlah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar

  • 7.8 Proporsi dari populasi yang menggunakan sumber air minum berkualitas
  • 7.9 Proporsi dari populasi yang menggunakan sarana sanitasi berkualitas

Target 7d: Tercapainya perbaikan yang berarti bagi kualitas hidup untuk sekurang-kurang 100 juta penduduk yang tinggal di daerah kumuh pada tahun 2020

  • 7.10 Proporsi dari penduduk kota yang hidup di wilayah kumuh

Tujuan 8: Mengembangkan kemitraan untuk pembangunan

Indikator

Target 8a: Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, dan tidak diskriminatif.

Termasuk komitmen kepada sistem pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab, pengembangan kesejahteraan dan pengurangan tingkat kemiskinan pada taraf nasional dan internasional.

Target 8b: Mengatasi persoalan khusus Negara-negara yang paling tertinggal.

Hal ini termasuk akses bebas tariff dan bebas kuota untuk produk eksport mereka, meningkatkan pembebasan utang untuk negara berutang besar, penghapusan utang bilateral resmi dan memberikan ODA yang lebih besar kepada Negara yang berkomitmen menghapuskan kemiskinan.

Target 8c: Mengatasi kebutuhan khusus di negara-negara daratan dan kepulauan kecil (melalui Rencana Pelaksanaan Pembangunan Berkesinambungan untuk Negara kepulauan kecil, dan hasil dari sesi khusus dari Rapat Umum ke-22)

Target 8d: Menangani hutang negara berkembang melalui upaya nasional maupun Internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang.

Beberapa dari indikator dibawah ini dimonitor secara terpisah bagi Negara paling tertinggal, Afrika, Negara daratan dan Negara kepulauan kecil.

Pembiayaan pembangunan (Official Development Assistance, atau ODA)

8.1 Netto dari ODA, total dan untuk Negara paling tertinggal, sebaga persentasi dari pendapatan nasional bruto donor OECD/DAC.

  • 8.2 Proporsi dari total bilateral, alokasi sektor dari donor OECD/DAC untuk pelayanan kesejateraan pokok (pendidikan dasar, perawatan kesehatan pokok, nutrisi, air bersih dan sanitasi).
  • 8.3 Proporsi dari bantuan bilateral resmi tidak terikat yang diberikan oleh donor OECD/DAC.
  • 8.4 ODA yang diterima oleh Negara daratan sebagai proporsi dari produk nasional bruto Negara tersebut.
  • 8.5 ODA yang diterima oleh Negara kepulauan kecil sebagai proporsi dari pendapatan nasional bruto Negara tersebut.
  • Akses pasar,
  • 8.6 Proporsi dari total impor Negara maju (dalam nilai dan tidak termasuk barang senjata) dari negara berkembang dan paling tertinggal yang bebas bea cukai.
  • 8.7 Tarif rata-rata yang dibebankan oleh Negara maju untuk produk pertanian, tekstil dan pakaian dari Negara berkembang.
  • 8.8 Perkiraan bantuan di bidang pertanian sebagai persentasi dari produk nasional bruto.
  • 8.9 Proporsi dari ODA yang tersedia untuk membantu pertumbuhan kapasitas perdagangan.
  • Pengelolaan hutang.
  • 8.10 Jumlah Negara yang telah melaksanakan butir keputusan dan memenuhi komitmen HIPC (secara kumulatif).
  • 8.11 Keringanan hutang sebagai tertuang dalam inisiatif HIPC dan MDRI.
  • 8.12 Pelayanan hutang sebagai persentasi dari barang dan jasa ekspor.
  • Target 8e: Bekerjasama dengan Perusahaan Farmasi, memberikan akses untuk penyediaan obat-obatan penting dengan harga terjangkau di negara berkembang.
  • 8.13 Proporsi dari populasi yang memiliki akses kepada obat-obatan esensial dengan harga terjangkau secara berkelanjutan.
  • Target 8f: Bekerjasama dengan swasta untuk memanfaatkan teknologi baru, terutama di bidang informasi dan komunikasi.
  • 8.14 Sambungan telepon per 100 penduduk.
  • 8.15 Pelanggan selular per 100 penduduk.
  • 8.16 Pengguna Interner per 100 penduduk.

Strategi untuk Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)

UNDP mendukung strategi pembangunan nasional berbasis MDG

Sistem PBB membantu negara-negara meningkatkan kapasitas mereka untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Untuk mendukung usaha ini, UNDP dan Proyek  Milenium telah merancang sebuah  paket layanan yang komprehensif untuk mendukung  strategi pembangunan nasional berbasis MDG. Layanan ini terfokus pada 3 pilar:

  • Diagnosis dan perencanaan investasi berbasis MDG (bantuan teknis dan keuangan yang diperlukan untuk mencapai MDGs dalam jangka panjang)
  • Memperluas pilihan kebijakan ( reformasi kebijakan sektoral dan lintas sektoral dan kerangka kerja yang dibutuhkan untuk mempercepat pemerataan pertumbuhan dan mempromosikan pengembangan daya manusia dalam jangka panjang); dan
  • Memperkuat kapasitas nasional ( memungkinkan layanan efektif pada tingkat nasional dan lokal)

Proyek Milenium

Proyek Milennium dikomisikan oleh Sekjen PBB pada 2002, bertujuan untuk mengusulkan strategi terbaik untuk mencapai MDGs dan mengembangkan rencana kerja yang nyata agar dunia dapat membalikkan masalah kemiskinan, kelaparan, dan penyakit yang dihadapi oleh milyaran orang.

Dipimpin oleh Profesor Jeffrey Sachs, Proyek Milenium merupakan badan penasehat independen dan mempresentasikan rekomendasi akhirnya, Investasi bagi Pembangunan: Sebuah Rencana Praktis untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Milenium kepada Sekretaris Jenderal pada January 2005.

Sebagian besar kinerja dari Proyek ini telah dilakukan oleh 10 divisi tematis dengan jumlah total lebih dari 250 ahli dari seluruh dunia yang meliputi: peneliti dan ilmuwan; pembuat kebijakan; perwakilan dari LSM, badan-badan PBB, bank dunia, IMF dan sektor swasta. Sejak pembentukannya, divisi-divisi tersebut telah melakukan penelitian ekstensif sesuai dengan bidang keahliannya untuk menghasilkan rekomendasi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium. Kinerja yang berkelanjutan dari Proyek ini dipimpin oleh seorang sekretariat yang berkedudukan di markas UNDP di New York.

Kemitraan

Kemitraan sangat penting untuk kinerja UNDP dan untuk mencapai MDGs. MDG yang kedelapan, “Membangun kemitraan global untuk pembangunan,” secara eksplisit meminta kemitraan, yang penting pada semua tingkat – lokal, nasional dan global-untuk pencapaian tujuh MDG yang lain dan nilai-nilai dan tindakan yang ditetapkan oleh Deklarasi Milenium (Millenium Declaration).

Mitra UNDP mencakup pemerintah, badan-badan PBB lainnya, institusi keuangan internasional, badan-badan bilateral, sektor swasta dan masyarakat sipil. Lintas negara dan daerah, UNDP sebagai jaringan pengembangan global PBB menggunakan keberadaan globalnya untuk menyatukan mitra-mitra dari berbagai latar belakang untuk berbagi keahlian, memulai usaha bersama dan mengembangkan solusi jangka panjang.

(sumber: UNDP)

Beijing Platform

Beijing Platform adalah sebuah komitmen untuk meningkatkan harkat hidup masyarakatnya, mereka melihat dari berbagai aspek yang dapat dianggap sebagai aspek pengungkit yang berpengaruh besar dalam pencapaian peningkatan harkat hidup tersebut dengan fokus kepada perempuan karena dengan terdidiknya seorang perempuan dan terangkatnya harkat seorang perempuan maka nantinya anak-anaknya dan cucunya diharapkan akan terdidik dan terangkat pula harkat hidupnya, yaitu :

1. Perempuan dan kemiskinan

a. Menelaah, menetapkan dan memberlakukan kebijakan-kebijakan ekonomi makro dan strategi pembangunan yang diarahkan untuk menangani kebutuhan dan upaya-upaya perempuan yang hidup dalam kemiskinan.

b. Memperbaiki perundang-undangan dan praktek-praktek administrasi untuk menjamin persamaan hak dan akses perempuan untuk memperoleh sumberdaya-sumberdaya ekonomi.

c. Menyediakan kesempatan bagi Perempuan untuk menabung serta memanfaatkan mekanisme dan lembaga-lembaga kredit lainnya.

d. Mengembangkan metodologi-metodologi berdasar gender dan melakukan penelitian untuk menangani peningkatan kemiskinan di kalangan perempuan.

2. Pendidikan dan Pelatihan bagi Perempuan

a. Menjamin adanya kesamaan kesempatan mendapatkan pendidikan.

b. Menghapuskan tuna aksara di kalangan perempuan.

c. Meningkatkan akses perempuan atas pelatihan-pelatihan kejuruan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pendidikan berkelanjutan.

d. Mengembangkan pendidikan dan pelatihan yang non diskriminatif.

e. Menyediakan sumberdaya-sumberdaya yang mencukupi untuk memantau penerapan perbaikan-perbaikan di bidang pendidikan

f. Memajukan pendidikan seumur hidup dan pelatihan-pelatihan bagi para remaja puteri dan perempuan.

3. Perempuan dan Kesehatan

a. Meningkatkan akses perempuan sepanjang umurnya pada pelayanan kesehatan yang memadai, terjangkau dan berkualitas, informasi dan pelayanan terkait.

b. Memperkuat program-program pencegahan terhadap penyakit yang memajukan kesehatan perempuan.

c. Mengambil prakarsa-prakarsa yang peka gender guna menanggulangi penularan penyakit-penyakit kelamin, HIV/AIDS dan permasalahan kesehatan seksual dan reproduksi.

d. Memajukan penelitian dan menyebarluaskan informasi mengenai kesehatan perempuan.

e. Memperbesar sumber-sumber dan memantau tindak lanjutan bagi kesehatan perempuan.

4. Kekerasan terhadap Perempuan

a. Melakukan langkah-langkah terpadu untuk mencegah dan menghapuskan tindak kekerasan terhadap perempuan.

b. Mempelajari tentang sebab-sebab dan akibat-akibat Kekerasan terhadap Perempuan dan mempelajari efektivitas langkah-langkah pencegahan.

c. Menghapuskan perdagangan perempuan dan membantu para korban kekerasan yang berkaitan dengan pelacuran dan perdagangan perempuan.

5. Perempuan-perempuan  dan konflik senjata

a. Meningkatkan partisipasi perempuan dalam penyelesaian konflik di tingkat-tingkat pengambilan keputusan dan melindungi perempuan-perempuan yang hidup dalam situasi konflik bersenjata dan konflik-konflik lainnya atau di bawah pendudukan asing.

b. Mengurangi pembelanjaan untuk keperluan militer yang berlebih-lebihan dan melakukan pengawasan terhadap persenjataan.

c. Mempromosikan bentuk-bentuk penyelesaian konflik tanpa kekerasan dan mengurangi kejadian-kejadian penyalahgunaan hak-hak asasi manusia sewaktu terjadi konflik bersenjata.

d. Mendorong sumbangan perempuan untuk membina budaya perdamaian.

e. Menyediakan perlindungan, bantuan dan pelatihan kepada perempuan pengungsi dan perempuan-perempuan lain yang tersingkirkan, yang memerlukan perlindungan internasional, juga kepada perempuan yang di dalam negerinya sendiri disingkirkan.

f. Memberikan bantuan kepada perempuan di negara-negara jajahan dan daerah perwalian.

6. Perempuan dan ekonomi.

a. Memajukan hak-hak dan kemandirian ekonomi perempuan, termasuk akses mereka atas lapangan kerja, kondisi-kondisi kerja yang memadai serta pengendalian sumber-sumber ekonomi.

b. Memfasilitasi persamaan akses perempuan pada sumber-sumber, kesempatan kerja, pasar dan perdagangan.

c. Menyediakan pelayanan-pelayanan bisnis, pelatihan dan akses atas pasar-pasar, informasi dan teknologi, terutama bagi perempuan yang berpenghasilan rendah.

d. Memperkuat kapasitas ekonomi perempuan dan jaringan kerja komersialnya.

e. Menghapus pengkotak-kotakan jabatan dan semua bentuk diskriminasi ketenaga-kerjaan.

f. Memajukan harmonisasi kerja dengan tanggung jawab terhadap keluarga bagi perempuan dan laki-laki.

7. Perempuan dalam kedudukan Pemegang Kekuasaan dan Pengambilan Keputusan

a. Mengambil langkah-langkah untuk menjamin akses dan partisipasi penuh perempuan dalam struktur-struktur kekuasaan dan pengambilan keputusan.

b. Meningkatkan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan.

8. Mekanisme-mekanisme Institusional untuk kemajuan perempuan

a. Membentuk atau memperkuat mekanisme-mekanisme nasional dan badan-badan pemerintahan lainnya.

b. Mengintegrasikan perspektif gender ke dalam perundang-undangan, kebijakan-kebijakan pemerintah, serta semua program dan proyek.

c. Menyusun dan menyebarluaskan data yang telah dipilah-pilah menurut gender dan informasi untuk perencanaan dan evaluasi.

9. Hak-hak Asasi Perempuan

a. Memajukan dan melindungi hak-hak asasi perempuan, melalui penerapan secara penuh semua perangkat hak-hak asasi manusia, terutama Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.

b. Menjamin adanya persamaan dan sikap non-diskriminatif di hadapan hukum maupun dalam praktek-praktek kehidupan.

c. Pemberantasan buta hukum.

10. Perempuan dan Media Massa

a. Meningkatkan partisipasi dan kesempatan perempuan untuk berekspresi dan mengambil keputusan di dalam dan melalui media massa serta teknologi-teknologi komunikasi yang baru.

b. Memajukan gambaran-gambaran yang seimbang dan tidak klise tentang perempuan dalam media.

11. Perempuan dan Lingkungan

a. Melibatkan perempuan secara aktif di dalam pengambilan keputusan mengenai lingkungan di semua tingkat.

b. Meningkatkan kepedulian dan perspektif gender ke dalam kebijakan-kebijakan dan program-program untuk pembangunan berkelanjutan.

c. Memperkokoh atau membentuk mekanisme-mekanisme pada tingkat nasional, regional dan internasional untuk menilai dampak pembangunan dan kebijakan-kebijakan lingkungan terhadap perempuan.

12. Anak-anak Perempuan

a. Menghapuskan semua bentuk diskriminasi terhadap anak-anak perempuan.

b. Menghapuskan sikap dan praktek budaya yang negatif terhadap anak-anak perempuan.

c. Memajukan dan melindungi hak-hak anak perempuan dan meningkatkan kesadaran akan kebutuhan-kebutuhan dan potensi anak-anak perempuan.

d. Menghapuskan diskriminasi terhadap anak-anak perempuan dalam bidang pendidikan, peningkatan ketrampilan dan pelatihan-pelatihan.

e. Menghapuskan diskriminasi terhadap anak-anak perempuan dalam bidang kesehatan dan gizi.

f. Menghapuskan eksploitasi ekonomi terhadap buruh anak dan melindungi anak-anak perempuan di tempat kerja.

g. Menghapuskan tindak kekerasan terhadap anak-anak perempuan.

h. Memajukan kesadaran anak-anak perempuan dan partisipasi mereka dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik.

i. Memperkuat peranan keluarga dalam meningkatkan kedudukan anak-anak perempuan

Deklarasi Almaty

Untuk Kependudukan dan Pembangunan
Diadopsi pada Pertemuan Parlemen Asia ke 20 untuk
Kependudukan dan Pembangunan

Alatau Health resort, Almaty, Kazakhstan

29 September 2004

Pembukaan

Kami, Parlemen dari negara-negara Asia/Pacifik yang bertemu di Almaty, Kazakhstan, pada tanggal 28-29 September 2004, di pertemuan ke 20 parlemen seasia untuk membahas tentang isu kependudukan dan pembangunan, merumuskan deklarasi sebagai berikut :

Kami memberikan penguatan atas komitmen kami untuk mencapai tujuan dalam pencapaian. Deklarasi Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan yang diadakan di Kairo atau yang disebut juga sebagai the Cairo Declaration of the International Conference on Population and Development dan yang tercantum di dalam Rencana Aksi atau Programme of Action (POA) di dalam  Deklarasi Kairo tersebut. Kami kembali memberikan penguatan tanpa memberikan penjelasan antara hubungan kependudukan dan pembangunan berkelanjutan (termasuk lingkungan, ketahanan pangan dan minuman, pelayanan kesehatan), kami tidak bisa menjawab tantangan regional masalah kependudukan dan pembangunan.

Negara-negara yang berada di Asia-Pasifik yang kaya akan peninggalan budaya dan berbeda di berbagai hal. Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, disamping itu juga negara-negara yang tergabung dalam Asia-Pasifik ini harus menghormati berbagai kebudayaan yang berbeda didalam memahami perubahan sosial dan jender dari berbagai pandangan, sangatlah penting untuk semua negara dalam jangka panjang memahami dalam memberikan pandangannya terhadap masalah kependudukan dan pembangunan, termasuk hak-hak kesehatan reproduksi, jender, memerangi masalah kekerasan terhadap perempuan, ketahanan pangan,lingkungan, remaja, anak muda dan usia lanjut pada tingkat provinsi. Pandangan ini perlu disesuaikan pada situasi tertentu ditiap-tiap negara.

Kami anggota parlemen dari negara-negara Asia-Pasifik, menghimbau agar pemerintah di negara kami menyusun strategi dalam jangka panjang untuk menjawab masalah kependudukan dan pembangunan berkelanjutan di daerah tingkat Asia Pasifik, dan mendukung secara penuh ketepatan waktu dalam pelaksanaannya. Kami juga menghimbau agar terjalinnya kerjasama dalam menangani kesulitan untuk menghadapi masalah ini.

Negara-negara yang berada di kawasan Asia Pasifik menghadapi situasi yang berbeda-beda dalam menangani masalah penduduk dan pembangunan ini. Di negara-negara lain misalnya menghadapi masalah sedikitnya anak-anak dan menuanya penduduk dan negara lainnya masih dalam menjalani perubahan transisi secara demograpis dan menikmati bonus dalam masalah kependudukan. Dan negara lainnya masih menghadapi masalah lajunya penduduk. Di negara-negara yang lalu seperti menjalani transisi secara ekonomi.

Isu-isu terkait didalam deklarasi ke 20 Almaty

Struktur Demographis :

Setiap negara mempunyai masalah kependudukan yang berubah-ubah dan perlu menjelaskan hubungannya dengan perkembangannya. Di negara lain, tantangan terbesar masih memperbaiki penurunan kelahiran hidup, dimana di negara lain, angka kelahiran sudah dikurangi dan usaha-usaha terpusat pada penurunan angka kematian. Migrasi juga masih menjadi bagian masalah penting di negara-negara lain; diperlukan juga pemahaman yang lebih baik dan perlu juga diperhitungkan pada penyusunan strategi pada tingkat provinsi. Di negara lain dimana angka kelahiran hidup telah diturunkan, masalah lansia juga bertambah penting untuk ditanggapi. Didalam memahami konteks ekonomi yang berkembang secara pesat di negara-negara Asia Pasifik, sangatlah diperlukan penyusuan strategi jangka panjang dalam upaya untuk memahami penyeimbangan dalam penanganan masalah kependudukan dan pembangunan.

Kesehatan Reproduksi :

Upaya-upaya konkrit diperlukan untuk memastikan terpenuhinya kualitas akses informasi tentang kesehatan reproduksi dan pelayanan konseling. Di mana waktu berjalannya transisi dalam menghadapi masalah ekonomi, hal yang sangat tidak menguntungkan bagi yang benar-benar menderita  dalam mengalaminya. Perhatian sangat diperlukan untuk memastikan agar terpenuhinya akses-akses pelayanan tersebut untuk semua kalangan, jadi masing-masing individu bisa menjalankan hak-hak  reproduksinya termasuk orang miskin, minoritas, dan remaja. Bagi yang akan menjadi ibu, kesehatan perempuan memerlukan perhatikan dan pelayanan khusus. Generasi  muda sekarang adalah tumpuan harapan masa depan, dan kita perlu memberikan perangkat kesehatan yang memadai agar mereka bisa mendapatkan dan menjalankan hidup yang produktif. Perhatian secara khusus sangatlah diperlukan untuk memastikan agar kebutuhan dasar dari remaja terpenuhi. Di berbagai negara, perbaikan kualitas kesehatan reproduksi bagi anak bisa menurunkan secara signifikan angka yang tinggi yang diakibatkan oleh kematian ibu dan bayi juga angka  prevalensi yang tinggi dari aborsi dan penyakit menular seks lainnya dan juga memperbaiki kualitas kehidupan dari penduduk kita semua.

STI/HIV/AIDS :

Menjadi kekhawatiran bagi kita semua penyebaran  yang sangat pesat dari STI/HIV/AIDS di daerah kita, potensi yang menyeramkan akibat penyimpangan perilaku  sehat dari penduduk dan masyarakat kita, dan akibat upaya-upaya pencegahan yang selama ini kurang diperhatikan. Kekhawatiran ini ditimbulkan dari tidak tersedianya pelayanan pengobatan yang terjangkau dan memadai. Di mana negara kita menghadapi berbagai tahapan yang ditimbulkan oleh penyakit ini, tetapi kita semua menyepakati pentingnya untuk menanggapi masalah ini segara untuk mencegah penyebaran penularan infeksi ini, khususnya diantara remaja.

Gender :

Transisi dari pembangunan yang dilakukan di bidang ekonomi belakangan ini memperburuk ketimpangan jender yang telah mengakibatkan timbulnya masalah-masalah baru menyangkut persamaan jender. Persamaan akses dalam pendidikan dan kerja, penghapusan kekerasan terhadap perempuan akan menjadi masalah-masalah yang utama di bidang ini.

Pembangunan Berkelanjutan :

Kita mengakui bahwasanya negara-negara Asia Pasifik sangat beragam, dan kaya akan alamnya; akan tetapi, mereka memungkinkan mengalami keterbatasan dalam kapasitas mereka akibat dari pengunaan sumber daya alam yang kita gunakan dengan tidak selayaknya. Diperlukan pengembangan strategi yang memadai dalam upaya menggunakan sumber daya alam dan analisa implikasi dari pembangunan kegiatan yang kita lakukan terhadap lingkungan. Kami sepakat untuk mengetahui pentingnya memelihara sistem produksi dan suply makanan tradisional. Sama pentingnya dengan menetapkan sistem penyimpanan dan distribusi. Kami sangat yakin bahwa ketahanan pangan sangatlah penting untuk menjaga stabilitas perdamaian.

Kualitas Kependudukan

Setiap orang berhak untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia. Kita harus memikirkan semua aspek kehidupan dan menjelaskan kepada setiap individu tentang kehidupan sehat yang berkesinambungan, kehidupan yang mendukung kualitas kependudukan secara umum.

Panggilan untuk melakukan aksi :

Kami, anggota Parlemen yag berada di Almaty, memberikan komitmen kami untuk melakukan aksi dan panggilan kepada anggota Parlemen Asia dan Pasifik kepada hal tersebut dibawah ini :

Membuat dan mengusahakan upaya-upaya untuk menghubungkan masalah kependudukan dan pembangunan, dan untuk menambah akses dan memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan reproduksi.
Menghimbau secara hormat kepada pemerintahan kami dan mitra-mitra pembangunannya untuk menjalin kerjasama di dalam pembangun dan melaksanakan strategi komprehensif jangka panjang untuk menjawab masalah kependudukan dan pembangunan, termasuk kesehatan reproduksi.

Mendukung pengingkatan dan mengawasi persamaan akses dalam memenuhi kualitas pelayanan kesehatan  reproduksi untuk semua kalangan termasuk kepada remaja .

Menghimbau kepada semua mitra pelaksanaan pembangunan, untuk segera bertindak dan melakukan kerjasama dan upaya konkrit untuk mencegah penyebaran lebih luas dari penyakit STI/HIV/IADS, memberikan perhatian khusus kepada remaja dan anak muda.

Mendukung peningkatan pemahaman perubahan jender dan mendukung upaya-upaya intervensi untuk memastikan partisipasi penuh dalam persamaan akses terhadap laki-laki dan perempuan dari keuntungan pembangunan. Kami memerlukan pengawasan terhadap situasi dan perubahan trend dan menghimbau secara hormat kepada pemerintah kami untuk perlunya mengambil langkah-langkah aksi, termasuk mendukung terbentuknya lingkungan yang positif.
Menghimbau kepada komunitas internasional untuk memastikan secara konsisten pertukaran perdagangan internasional dengan memperhatikan dalam tahap jangka panjang kepada masalah kependudukan dan pembangunan, terutama terhadap masalah ketahanan pangan.

Kami menghimbau kepada pemerintah kami untuk mengalokasikan sumber daya yang memadai dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kependudukan dan pembangunan.

Komitmen

Kami, anggota Parlemen memberikan komitmen kami untuk mengadvokasi dan memastikan pelaksanaan dari aksi-aksi tersebut diatas pada tingkat akar rumput, dengan konstituen kami, dan pada tingkat tertinggi di negara kami. Upaya-upaya konkrit hendaknya dilakukan, disemua tingkat dan mitra, termasuk komunitas internasional, LSM dan komunitas-komunitas didalamnya, termasuk melakukan aksi-aksi yang seharusnya dilakukan.

Kami, anggota-anggota Parlemen percaya akan perdamaian dan menghormati hak-hak azasi manusia, termasuk hak-hak reproduksi individu. Dimana pembangunan dan lingkungan itu bisa terjadi. Kami menghimbau kepada semua pemerintahan untuk secara konsisten mematuhi dan menjalankan semua komitmen yang disetujui didalam konvensi internasional untuk menghormati hak-hak asasi manusia dan perdamaian, dan untuk menyelesaikan masalah secara damai. Bersama-sama, kita hendaknya mengarah untuk memberikan kehidupan yang damai dan keamanan bagi seluruh kehidupan manusia.

Deklarasi Paris

Kami, Kepala Negara atau Perwakilan dari 42 negara berkumpul di Paris pada tanggal 1 Desember 1994 :

I. MEMAHAMI bahwa pandemi AIDS, dengan nilai dari besarnya, merupakan ancaman bagi kemanusiaan, bahwa penyebaran mempengaruhi semua kalangan masyarakat, bahwa pandemi ini menghambat perkembangan sosial dan ekonomi, terutama dalam negara yang paling terpengaruh, dan meningkatkan perbedaan di dalam dan di antara negara, bahwa kemiskinan dan diskriminasi merupakan faktor yang berperan dalam penyebaran pandemi, bahwa HIV/AIDS menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada keluarga dan komunitas, bahwa walaupun pandemi ini mengenai semua orang tanpa pengecualian, perempuan, anak dan remaja semakin cepat tertular, bahwa pendemi tidak hanya menyebabkan penderitaan fisik dan emosi, tetapi sering kali digunakan sebagai alasan bagi pelanggaran besar terhadap hak asasi manusia (HAM). MEMAHAMI JUGA bahwa segala bentuk hambatan budaya, hukum, ekonomi dan politik merintangi upaya informasi, pencegahan, perawatan dan dukungan, bahwa strategi pencegahan dan perawatan HIV/AIDS tidak dapat ipisahkan, dan oleh karena itu harus menjadi unsur terpadu dalam pendekatan yang efektif dan komprehensif untuk melawan pandemi AIDS, bahwa bentuk solidaritas lokal, nasional dan internasional yang baru yang sedang muncul, yang mencakup terutama orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan organisasi komunitas.

II. MENYATAKAN kewajiban kami sebagai pimpinan politik untuk membuat perlawanan terhadap HIV/AIDS sebagai prioritas, kewajiban kami untuk bertindak dengan rasa iba dalam solidaritas/ kesetiakawanan dengan mereka yang terinfeksi HIV atau yang berisiko menjadi tertular, baik dalam masyarakat kami maupun internasional, ketetapan kami untuk memastikan bahwa semua orang yang hidup dengan HIV/AIDS dapat mewujudkan kenikmatan hak dan kebebasan mereka yang mendasar secara penuh dan sejajar tanpa kecuali dan dalam segala keadaan, ketetapan kami untuk melawan kemiskinan, stigma, dan diskriminasi, ketetapan kami untuk menggerakan semua masyarakat , sektor pemerintah dan swasta, organisasi komunitas dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS dalam semangat kemitraan sejati, penghargaan dan dukungan kami untuk kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan oleh lembaga multilateral, antar pemerintah, komunitas dan LSM, dan pengakuan kami atas peranan penting mereka dalam melawan pandemi AIDS, keyakinan kami bahwa tindakan yang lebih

tangguh dan terkoordinasi di seluruh dunia, bertahan terus menerus seperti yang dilakukan oleh UNAIDS dapat menghentikan pandemi AIDS.

III. BERJANJI DALAM KEBIJAKAN NASIONAL KAMI UNTUK melindungi dan mendorong hak individu, khususnya mereka yang hidup dengan atau rentan terhadap HIV/AIDS, melalui lingkungan sosial dan hukum, melibatkan secara penuh organisasi LSM dan organisasi komunitas serta Odha/Ohidha dalam perumusan dan penerapan kebijakan umum, meyakinkan perlindungan hukum yang sederajat bagi Odha/Ohidha dengan memperhatikan pemerolehan perawatan kesehatan, pekerjaan, perjalanan, tempat tinggal dan kesejahteraan sosial, meningkatkan rangkaian pendekatan esensial untuk pencegahan HIV/AIDS sebagai berikut:

  1. mendorong dan memudahkan penjangkauan produk dan strategi pencegahan yang sesuai dengan budaya, termasuk kondom dan pengobatan infeksi menular seksual,
  2. mendorong pendidikan pencegahan yang sesuai, termasuk pendidikan seks dan jender, untuk remaja di dalam maupun di luar sekolah,
  3. meningkatkan status, pendidikan dan kondisi kehidupan perempuan,
  4. melakukan kegiatan untuk mengurangi risiko untuk dan dengan kerja sama dengan kelompok yang rentan, seperti kelompok berisiko tinggi terhadap penularan seksual dan kelompok pendatang,
  5. keamanan penyediaan darah dan produk darah,
  6. memperkuatkan sistem perawatan kesehatan primer sebagai dasar pencegahan dan perawatan, dan memadukan kegiatan HIV/AIDS ke dalam sistem tersebut, agar meyakinkan penjangkauan yang sejajar bagi perawatan yang terpadu,
  7. menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk melawan pandemi HIV/AIDS secara lebih baik, termasuk dukungan yang cukup untuk Odha, LSM, dan organisasi komunitas yang bekerja dengan kelompok rentan.

IV. MENETAPKAN AGAR MENINGKATKAN KERJA SAMA MELALUI LANGKAH DAN PRAKARSA YANG BERIKUT.  Kami akan melakukannya dengan menyediakan perjanjian dan dukungan kami pada UNAIDS, sebagai kerangka yang pantas dan sesuai untuk menggalang kemitraan antara semua yang terlibat dan memberi bimbingan dan kepemimpinan di seluruh dunia dalam perlawanan terhadap HIV/AIDS. Ruang lingkup masing-masing prakarsa harus dijelaskan lebih jauh dan dikembangkan sesuai dengan UNAIDS dan forum lain yang terkait:

1.  Mendukung keterlibatan Odha/Ohidha melalui prakarsa untuk memperkuat kemampuan dan kerja sama antara jaringan Odha/ Ohidha dan organisasi komunitas. Dengan meyakinkan keterlibatan penuh mereka dalam penanggulangan kami terhadap HIV/AIDS pada semua tingkat nasional, wilayah, dan global, prakarsanya khususnya akan merangsang penciptaan suasana dukungan politik, hukum dan sosial.

2. Mendorong kerja sama global untuk penelitian HIV/AIDS dengan mendukung kemitraan antara sektor pemerintah dan swasta, agar memacu perkembangan teknologi pencegahan dan pengobatan, termasuk vaksin dan mikrobisida, dan untuk menyediakan langkah-langkah untuk membantu meyakinkan kemudahan penjangkauan di negara berkembang. Upaya kerja sama ini harus  memasukkan penelitian sosial dan perilaku yang bersangkutan.

3. Memperkuat kerja sama internasional untuk keamanan penyediaan darah melalui mengkoordinasi informasi teknis, mengajukan standar praktik pembuatan semua produk darah, serta mendorong didirkan dan diterapkan kemitraan untuk meyakinkan keamanan penyediaan darah di semua negara.

4. Memacu prakarsa perawatan global untuk memperkuat kemampuan nasional, terutama di negara yang paling membutuhkan, untuk meyakinkan penjangkauan layanan perawatan dan dukungan sosial secara terpadu, obat esensial dan cara pencegahan yang ada.

5. Menggerakan organisasi lokal, nasional dan internasional yang membantu remaja dan anak sebagai bagian kegiatan, termasuk yatim piatu, yang berisiko terinfeksi atau terpengaruh oleh HIV/AIDS, agar mendorong kemitraan global untuk mengurangi dampak pandemi HIV/AIDS pada remaja dan anak di seluruh dunia

6. Mendukung prakarsa untuk mengurangi kerentanan perempuan terhadap HIV/AIDS: dengan mendorong upaya nasional dan internasional yang bertujuan pemberdayaan perempuan; dengan meningkatkan status perempuan dan menghilangkan faktor sosial, ekonomi dan budaya yang merugikannya; dengan menciptakan keterlibatan perempuan dalam semua proses pembuatan kebijakan dan pelaksanaan yang penting buat mereka; serta membentuk hubungan dan memperkuat jaringan yang mendorong hak perempuan.

7. Memperkuat mekanisme nasional dan internasional yang berhubungan dengan HAM dan etika terkait HIV/AIDS, termasuk penggunaan dewan penasihat dan jaringan nasional dan wilayah yang menyediakan kepemimpinan, advokasi dan bimbingan agar meyakinkan bahwa asas non-diskriminasi, HAM dan etika merupakan bagian terpadu dalam penanggulangan pandemi HIV/AIDS.

Kami mendesak semua negara dan komunitas internasional untuk menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk langkah dan prakarsa yang dicatat di atas. Kami mendesak semua negara, UNAIDS dan penyokongnya untuk mengambil semua langkah yang mungkin untuk menerapkan Deklarasi ini sesuaidengan program multilateral dan bilateral, serta organisasi antarpemerintah dan LSM.

Negara-negara yang terwakili pada Konferensi Tingkat Tinggi Paris dan menandatangani Deklarasi:

Amerika Serikat, Argentina, Australia, Bahama, Belanda, Belgia,Brasil, Burundi, Cina, Denmark, Federasi Rusia, Filipina,Finlandia, India, Indonesia, Inggris, Itali, Jepang, Jerman, Jibuti,Kamboja, Kameroon, Kanada, Maroko, Meksiko, Mozambik,Norwegia, Pantai Gading, Perancis, Portugal, Rumania, Senegal, Spanyol, Swedia, Swiss, Tanzania, Thailand, Tunisia, Uganda,Vietnam, Zambia, Zimbabwe.

(Sumber : UNAIDS/99.43E)

Air Kendi

image043

Kendi adalah semacam tempat atau wadah air yang terbuat dari tanah liat. Dan Kendi itu berasal dari tanah Jawa. Kendi itu terus berkembang dari zaman Mesir, China, Jepang, Thailand, dan Indonesia. Kendi memiliki 2 macam jenis yaitu: – Bercorak dan – Polos bentuknya seperti teko. Biasanya kendi dimanfaatkan untuk minum dan upacara adat jawa.

Kendi termasuk salah satu jenis gerabah .Gerabah merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibentuk kemudian dibakar untuk kemudian dijadikan alat- alat yang berguna membantu kehidupan.

Sejak dulu dan sampai saat ini, kendi sebagai tempat air masih belum ditinggalkan masyarakat Indonesia sebagai tempat minum walaupun kemajuan zaman dengan modernisasinya telah merambah berbagai perkakas kebutuhan manusia untuk memenuhi hajat hidupnya.

Untuk Indonesia yang wilayahnya mempunyai suhu sedang kalaupun panas tidaklah terlalu panas dan walaupun dingin juga tidaklah terlalu dingin, maka air minumpun tidaklah terlalu banyak berkembang ragam jenis minuman kalaupun ada tuak dan arak itu hanya sebagian kecil saja yang mengkonsumsi dan itupun hanya dalam acara-acara tertentu saja dalam budaya yang mereka miliki.

Diantara jenis minuman yang paling netral dan aman adalah air yanag telah dimasak dan didinginkan kembali sebagaimana suhu air normal, namun ada air putih yang nikmat untuk diminum pada pagi, siang di tengah terik atau bahkan dimalam haripun masih tetap enak dan menyegarkan dan bahkan konon menyehatkan badan adalah air kendi.

Caranya, isilah kendi dengan air yang telah dididihkan dan dinginkan kembali secara alami, tutup lubang rapat lubang kendi dan dianjurkan ditutup dengana daun pisang yang masih segar, setelah sholat Isya’ letakkan kendi yang telah berisi air tadi ditempat terbuka, usahakan tidak terlindung apapun diatasnya. Esok pagi sebelum terkena sinar matahari pagi, kendi dapat diambil dan siap untuk diminum, kalau ingin dikonsumsi pada siang hari maka dianjurkan untuk menyimpannya dalam rumah pada suhu kamar normal.

Selamat mencoba !!

Eks Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zaleha dijadikan apa ?

Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zaleha Martapura, adalah satu-satunya rumah sakit umum di Kabupaten Banjar yang sedang berkembang untuk menjadi rumah sakit tipe B dengan klasifikasi teaching hospital.

Suatu keputusan yang patut diacungi jempol karena jauh melihat ke depan bahwa Martapura akan menjadi kota penyangga Banjarbaru yang dalam waktu dekat akan menjadi Ibukota provinsi Kalimantan Selatan, terbukti bahwa langkah itu sudah berjalan tahapannya, pertama pemprop sudah membeli tanah dan pengumuman Koran bahwa dalam waktu dekat kantor-kantor pemprop di Banjarmasin akan dilelang.

Sebagai ibukota propinsi tentu fasilitasnya juga harus memadai, maka tidak lah salah kalau RSUD Raza menjadi rumah sakit tipe B, kedua di Banjarbaru sudah berdiri dan berjalan menelorkan dokter-dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat maka sudah sepaturnyalah pemkab Banjar menyikapi ini dengan menjadikan rumah sakit umum daerah Raza tempat belajar dan praktek dijadikan praktek para mahasiswa kedokteran unlam. Ketiga, dapat mempersingkat waktu saudara-saudara kita yang sakit dari banua enam, sebab bagi mereka waktu sangat berharga untuk segera mendapatkan pertolongan.

pkm02-copy

Atas dasar itu maka dilakukanlah relokasi RSUD Raza, karena lokasi yang ada sekarang ini sangat tidak memungkinkan untuk menampung kegiatan-kegiatan RSUD Raza yang akan dikembangkan, dan terpilihlah lokasi eks PKM untuk dijadikan RSUD Raza yang baru.

Yang menjadi pertanyaan sekarang !

Akan dijadikan apa areal eks RSUD Raza tersebut ?

exrsuraza

Kalau menurut aku, jadikan lapangan terbuka hijau dengan dikelilingi track untuk jalan kaki dan jogging, dan keliling terluarnya buatkan drainase yang lebar dan dalam agar air cepat turun dari lapangan terbuka hijau. Langgarnya jangan dihilangkan tapi tempatkan disudut belakang lapangan dengan bangunan yang mungil tapi megah bergaya !

Kalau menurut anda akan sebaiknya dijadikan apa ?

Selayang Pandang Ekspedisi Sungai 15/16 Nov 2008

Sabtu pagi yang sejuk di sebuah dermaga pekauman dengan langit sedikit mendung, nampak peserta ekspedisi sungai sedikit tegang dengan sesekali memandang ke atas. Mungkin dengan sebuah do’a “ mudahan jangan hujan !”. Akupun do’anya sama, mudahan jangan hujan juga, sebab naik kelotok atau kapal, posisi yang paling didambakan adalah diatas atap ! ! !

Dengan diiringi do’a selamat dan pesan Bapak Bupati H.G. Khairul Saleh beserta Ibu bahwa banyak yang dapat dilihat dalam alur sungai, baik itu jejak sejarah kerajaan Banjar dahulu maupun kerajaan Daha, juga banyak fenomena sosiokultural masyarakat tepian sungai.

Tepat Hari Sabtu tanggal 15 November 2008 jam 08.15 peserta ekspedisi sungai berjumlah 87 orang berangkat dari dermaga pekauman menuju dermaga Banjar Raya Banjarmasin dengan 2 buah kelotok besar.

image080

Dalam perjalanan menuju Banjar Raya banyak yang kami lihat yang pertama kali terlihat adalah banyaknya orang yang mandi di atas rakit bambu (istilah bahasa banjar ‘batang’ tapi kalau digunakan untuk sarana transportasi namanya berubah menjadi ‘ lanting’) yang berfungsi sebagai MCK (mandi,cuci,kakus). Mudah-mudahan tidak terimbas Undang-undang Pornografi, karena baik laki-laki maupun wanita mandinya ditempat terbuka dengan pakaian mandi yang khas , kalau laki-laki cukup celana pendek dan wanita cukup dengan kain sarung atau jarig sampai didada ( istilah bahasa banjar ‘tilasan di dada’).

Dari hasil catatan Tim Kesehatan yang ikut serta tercatat sebanyak 1.831 buah jamban (istilah kakus yang ada di batang/rakit) sepanjang sungai Martapura dari pekauman sampai sungai lulut perbatasan dengan kota Banjarmasin, dengan perkiraan masih ada hulu sungainya Martapura dan cabang-cabang anak sungai martapura maka diperkirkan total jamban di Kabupaten Banjar adalah 3×1.831=5.493 buah jamban.

Andai kata dalam 1 jamban dipergunakan oleh 10 orang dan asusmi kotoran manusia dalam 1hari seberat 2 ons, maka jumlah kotoran manusia yang ditampung sungai dalam 1 hari adalah 10 x 0,2 kg x 5.493 = 10.986 kg. Dulu waktu ikan disungai masih banyak, diperkitakan yang dimakan ikan cuma 30 %, sisanya yang 70 % larut terurai secara alami di sungai tapi prlu waktu yag cukup lama. Sekarang ikannya yang ada disungai jauh sangat berkurang karena setrum, potas dan racun lainnya, dapat anda bayangkan akibatnya !

Yang terlihat kedua, beberapa saat setelah kelotok bergerak nampak dermaga curah bahan galian golongan C dengan kelotok angkutan yag cukup lebar (‘jukung tiung’ dalam istilah bahasa banjar), yang menurut khabar bahwa bahan galian golongan C itu dikirim ke Batola atau ke propvinsi Kalimantan Tengah. Yang menjadi pertanyaan apakah pajaknya terpungut ? sebab tidak ada pos jaga sepanjang aliran sungai Martapura yang kami lalui ini.

Selain dermaga curah tadi, yang terlihat banyak juga adalah tempat penggilingan padi yang cukup banyak jumlahnya dengan sekam yang nampak larut ke sungai.

Nampaknya sepanjang aliran sungai Martapura ini terjadi penzona-an , misalnya ada satu zona yang khusus memproduksi batu bata mentah yang belum dibakar yang harganya Cuma berkisar antara Rp.150,- s/d Rp.200,- per biji, ada juga yang memproduksi sagu, ada yang memproduksi atap daun pohon rumbia (‘hatap rumbia’ dalam bahasa banjar) yang harganya Cuma Rp.500,- per lembar, ada yang memproduksi alat pemisah gabah yang hampa dan yang berisi dengan teknis sederhana ( “gumba’an” dalam bahasa banjar), bahkan ada juga zona yang khusus memiliki keramba pembesaran ikan bakut.

image081

Dalam tim ekspedisi kami juga ada yang berasal dari sector perhubungan, dengan komentar bahwa transportasi sungai kita sudah mulai hilang karena kalah dengan transportasi darat, tapi walaupun demikian masih nampak ada kegiatan trans[ortasi sungai walaupun minim, dimana saat ini hanya banyak digunakan untuk transportasi material pembangunan saja, tapi secara tak diduga kami berpapasan dengan 2 buah kelotok yang lengkap dengan bendera yang kami kira sudah ada kampanye, ternyata ada promosi keliling produk obat via kelotok.

Dalam waktu yang cukup panjang yaitu 4 jam, akhirnya sampailah kami di dermaga banjar raya tepat jam 12.15.

2 buah kelotok kami secara bergiliran merapat ke bus air yang akan membawa kami ke Nagara, dan kamipun melakukan transit pindah kapal (bukan pindah pesawat seperti di bandara) dengan meloncat secara hati-hati sambil membawa tas masing-masing.

image089_1image088_1image091

Setelah semua peserta berpindah ke bus air, 2 buah klotok kami kembali ke martapura, masing-masing peserta menyusun dan menata barang bawaan masing-masing. Kepada semua peserta diberi kesempatan untuk mencari snack atau rokok atau apapun tambahan makanan sesuai selera masing dan juga untuk menunaikan sholat dzuhur dan asar yang diqasar dan jama’ taqdim.

Sebelum berangkat, peserta di check kembali, ternyata bertambah 3 orang, yaitu 2 juru masak dan 1 peserta karena mereka membawa peralatan masak dan bahan masakan yang tidak muat dikelotok kami yang 2 buah tadi.

Tepat jam 13.00 kami berangkat dengan bus air menuju kota Marabahan sebagai persinggahan pertama, nampak kawan-kawan sibuk dengan celotehnya dan topiknya juga macam-macam mulai dari cerita betapa jayanya perusahaan-perusahaan kayu seperti Barito Pasific, Jayanti Jaya, dll sampai cerita bahwa di alur sungai barito juga banyak perompak. Tapi semua celoteh tadi akhir sunyi senyap , kalah dengan dengan suguhan makan siang nasi salik lauknya ayam yang aku tidak tahu dimasak apa tapi yang jelas enak dengan sambal yang tidak begitu pedas.

Peserta terbagi dua kelompok. Ada yang duduk dengan masing-masing kegaiatannya di dalam bus air dan satu kelompok lagi duduk-duduk di atas atap bus air, dan ini memang yang paling asyik dalam perjalanan lewat sungai karena pemandangan bebas luas sejauh mata memandang tanpa ada halangan.

Dua buah jembatan rangka baja yang besar dengan bentangnya yang panjang yang kami temui yaitu jembatan Barito dan jembatan Rumpiang.

Jam 18.36 kami merapat di dermaga Marabahan, kami kesempatan untuk mandi sore dan sholat magrib dan isya’ di masjid dekat dermaga. Kami sempat minum STMJ di pasar malam di kota marabahan sambil mencari tambahan snack dan lainnya.

Setiap persinggahan peserta tetap di absen, supaya jangan sampai ada peserta yang tertinggal.

Jam 19.45 tepat azan Isya’ berkumandang dan setelah azan selesai , bus air kami meluncur kembali menuju Margasari dalam suasana sungai yang gelap dan hanya nampak kerlipan lampu dari rumah-rumah penduduk ditepian sungai.

Mestinya kami makan malam sesaat setelah bus air berangkat, tapi banyak yang usul agar ditunda dulu karena msih terasa kenyang akibat jajan di pasar malam kota Marabahan, dan akhirnya jadilah makam malam jam 20.45 dengan nasi putih lauk ayam masak merah.

Sebelum makan tadi, Tim kesehatan mulai beraksi dengan buka praktek mengukur tekanan darah, check perut kembung, dll . Aku juga sempat check tekanan darah, ternyata 140/90, kata dokternya “masih aman” dan masih boleh makan sate kambing ’ kalau ada ‘.

Dalam perjalanan menyusuri alur marabahan-margasari kami banyak berpapasan dengan tongkang batubara yang ditarik atau didorong oleh kapal tug-boat yang lampunya terang benderang, bahkan kami sempat singgah di sungai putting tempat batubara di langsir dari truk ke tongkang. Dan kami berangan dan berandai-andai bagaimana setealh perda larangan angkutan batubara dilarang melewati jalan nasional dan jalan propinsi pada Juli 2009 nanti, maka alur marabahan-margasari ini akan semakin padat dan ramai dengan hilir mudiknya tongkang dan tugboat, dan kamipun berangan-angan akan membangun hotel dan restoran terapung yang dapat disinggahi para pekerja batubara.,

Di bawah terangnya cahaya bulan kami menyusur alur ini dan udara yang cukup dingin akhirnya kami sampai di margasari jam 22.15. Sebuah kejutan dan tak pernah terbayang dan terkirakan bahwa kami disambut dengan meriah dan hidangan yang tersaji di atas karpet warna merah diatas lantai dermaga, peserta ekspedisi semuanya langsung menengok dari jendela bahkan ada yang naik naik keatas kapal untuk melihat lebih jelas.

Dalam suasana udara yang dingin disuguhkan the panas dan kopi panas, siapa yang tidak bahagia? Apalagi ditambah ubi goreng dan kacang rebus yang panas pula. Suasananya sangat meriah dan penuh kekeluargaan. Selidik punya selidik, ternyata salah satu peserta ekspedisi mempunyai family di kota margasari ini !!! rupanya sebelumnya sudah saling kontak bahwa rombongan ekspedisi akan singgah di Margasari.

Cukup lama juga kami singgah di Margasari ini, jam 23.16 kembali bus air bergerak menuju persinggahan terakhir yaitu Kota Nagara di Hulu Sungai Selatan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama sekitar hampir 13 jam dan perut juga sudah terisi, terlihat peserta ekspedisi mulai ada yang menguap tanda mengantuk dan akhirnya juga banyak yang tertidur, namun sebagian juga masih banyak yang bertahan tidak tidur, ada yang masih mampu bertahan duduk di atap bus air sampai-sampai juga tertidur di atas atap juga, ada yang duduk diajungan muka.

Tidak banyak yang dapat dilihat dalam perjalanan pada alur ini karena memang sudah jauh tinggi malam dan menjelang tengah malam maka aktivitas sungaipun sunyi senyap.

Jam 03.33 pagi hari Minggu tanggal 16 November 2008 kami merapat di dermaga Kota Nagara, nampak masih sunnyi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan. Kami tetap berada dalam bus air, sampai menjelang subuh dan kehidupan sungai kota Nagara mulai terasa dengan lalu lalang kelotok denga suaranya yang cukup nyaring membangunkan orang yang masih tertidur nyenyak alam buaian mimpi indah.

Setelah matahari pagi mulai menyinarkan cahayanya , peserta mulai mengemas barang-barang bawaannya untuk siap kembali ke Martapura.

Dengan dijembut 2 buah bus perhubungan, 1 pregio, 1 L300 dan 2 buah double cabin dan truck Satpoll PP, rombongan kembali ke Martapura dengan masing-masing membawa kenangan.

Larutan Butuh Ulin

Seri Obat Kuat Tradisional

Larutan Butuh Ulin

Butuh Ulin adalah semacam akar muda yang tumbuh di batang pohon ulin (kayu besi) yang ada di Kalimantan (borneo) yang panjangnya rata rata 20 cm, saat ini sangat sulit memperolehnya karena pohon ulin makin langka akibat adanya illegal logging yang sudah lama berlangsung sejak dulu di pulau Kalimantan umumnya, seperti halnya juga di Kalimantan Selatan.

Untuk memperoleh butuh ulin di Kabupaten Banjar harus pesan atau inden dulu kayak beli mobil mewah, kepada masyarakat suku dayak yang masih sering masuk kedalam hutan lindung yang masih ada sisa sisa pohon ulin yang masih hidup dengan diameter 1 meter lebih.

Bahan yang diperlukan adalah sepotong butuh ulin, sekeping uang perak, sebilah jarum dan air panas 200 cc.

Cara mengolah :

Sepotong butuh ulin + sekeping uang perak + sebilah jarum masukkan ke dalam gelas, tuangkan air panas yang sudah mendidih ke dalam gelas yang berisi ketiga unsur tadi sebanyak 200 cc, diamkan selama 2 jam. Kemudian keluarkan butuh ulin, uang perak dan jarum tadi maka sudah siap larutan butuh ulin.

Dosis : diminum setiap hari menjelang tidur sesudah makan malam.

Selamat mencoba, semoga ada manfaatnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.