Air Terjun Lembah Kahung ( Lembah Kahung Waterfall )

      Dengan sebuah mobil berangkat di pagi dari kotaMartapura menuju sebuah danau buatan Riam Kanan, danau buatan ? ……….. karena danau itu adalah up streamnya bendungan Ir.Pangeran M. Noor sebagai salah satu PLTA di Kalimantan Selatan, waktu tempuh sampai ke dermaga Tiwingan di Riam Kanan (nama danau bendungan Riam Kanan) kira kira 30 menit. Sesampai di dermaga telah menuggu beberapa buah kelotok ( perahu bermesin) yang siap untuk disewa Rp. 250.000,- pulang pergi. 
        Dari dermaga Tiwingan dengan kecepatan sedang kelotok meluncur di tengah danau menyusuri alur menuju dermaga Desa Belangian yang penduduknya berjumlah 90 KK, dimana mata pencaharian pendudukan setempat adalah bertani, mencari ikan, memelihara kerbau dan sapi, tapi penduduknya sangat menjaga kelestarian hutan dibelakang desanya karena keberadaan hutan adalah bagian keberadaan kehidupan mereka sebagai sumber mengalirnya air sungai yang melintasi desa mereka dan juga tempat mereka mencari ikan untuk lauk makan sehari hari. Cukup lama, sekitar 2 jam baru sampai ke dermaga desa Tiwingan. 
        Cukup dengan berjalan kaki selama 15 menit sampailah ke desa Belangian, kalau hari masih pagi maka perjalanan dapat diteruskan menuju Lembah Kahung, tapi kalau sudah siang apalagi sore, profesional sugestion is  . . . . .  nginep aja di desa, lumayan menambah pendapatan masyarakat desa walaupun mereka tidak memasang tarif nginep atau supper n breakfast . . . . . esok paginya baru berangkat, tentunya setelah bebenah mandi pagi, menyiapkan ransum,dll . . . maklum diperjalanan nggak cafe yg buka !!! jangankan cafe, warung aja nggak ada . . . .  namanya juga di hutan ya !             
 
Dalam perjalanan menuju Lembah Kahung ada 4 pos yang harus dilewati, lembah, ngarai, sungai besar dan sungai kecil, jurang, hutan perawan. . . . . memang betul betul perawan karena jarang dimasuki mahluk yang namanya manusia.
        Dari ujung desa menuju pos I, jalannya masih datar dengan semak belukar dikiri kanan jalan setapak yang permukaan tanahnya masih becek berair terlihat jejak jejak kaki manusia disamping jejak kaki kaki lainnya, ada jejak kerbau, babi hutan, tapi . . . jangan kuatir nggak ada jejak harimau ! 
        Petualangan pertama yang ditemui adalah menyeberang sungai yang sedikit mengetarkan hati, bayangkan kalau menyeberang dengan berenang, pasti … hilang terbawa arus deras, mau nggak menyeberang  . . . . ngggak sampai sampai ke lembah kahung . Hanya ada 2 cara untuk sampai ke seberang sungai, pakai alat penyeberangan paling kuno dan betul betul natural kayak cavemen . . . memperalat mahluk lain . . . kerbau… , cara kedua sedikit lebih maju he he he . . . . kenapa sedikit lebih maju ? . . . . karena mulai menggunakan teori archimedes . . . . yaitu dengan menggunakan rakit yang terangkai dari batang batang bambu yg banyak tumbuh di sekitar sungai, tapi alat penyeberangan inipun boleh dikatakan tidak begitu manusiawi . . . . bayangkan untuk menarik getek ke seberang sungai kita harus menariknya dengan tenaga 1 piring nasi. 
        Setelah sampai diseberang, mulailah jalan mendaki dengan pemandangan kaki kaki bukit terjal menghijau kebun masyarakat tapi bukan kebun teh seperti di  lembang jawa barat, melainkan kebun kacang tanah. Hasilnya kurang memuaskan, bukan karena kacangnya tidak berisi tapi banyak diserang hama dan hamanya juga besar . . . babi. Pernah sekali minta bantuan Perbakin, hasilnya lumayan, banyak babi yg mati, cuma bertahan setahun dua tahun, berikutnya banyak lagi babinya . .. maklum babi sekali beranak jumlahnya banyak !!! nggak ikut program KB kali ? ya ??
        Tak terasa sudah 1,5 jam berjalan setelah melalui sebuah sungai besar dan 2 buah sungai kecil, sampailah di pos I, beristirahat sejenak di shelter sambil menikmati snack yg dibawa yaitu silver queen  gratis !

 

        Etape ke 2, kayak rally juga !!! . . . perjalanan masih diteruskan dengan semangat yang masih tinggi apalagi sudah rekondisi sekitar 15 sampai 20 menit, tujuan adalah pos II. Jalan masih menanjak dan mulai terjal, setelah 45 menit perjalanan mulailah detik detik mendebarkan, aroma daun dan kayu yang mulai membusuk terhembus oleh semilir angin yang merupakan khas aroma hutan tropis. Diawali dengan tumbuhan perdu kemudian udara semakin lembab dan aroma khas hutan semakin tajam . . . .  sebagai tanda bahwa kita memasuki teritorial hutan lembah kahung. Berbagai macam pohon pohon tropis yang tumbuh dengan berbagai macam ukuran besar maupun tingginya, dimana apabila kita berada di bawahnya serasa apalah artinya diri kita di tengah raksasa hutan !
        Waktu tempuh pos I ke pos II cukup lama juga, sekitar 1,15 menit , tidak terasa tapi cadangan air minum sisa separo dari yg dibawa ! Kembali istirahat sekitar 15 sampai 20 menit, dengan badan mulai terasa semakin berat walau sudah istirahat, tapi perjalanan ke pos III masih menunggu. Antar pos II dan pos III tidak banyak berbeda dengan pos pos sebelumnya, banyak pohon, tanaman merambat seperti rotan yang berduri dan jenis jenis anggrek hutan, keadaan semacam ini ditemui sampai pos IV dan air terjun lembah kahung, namun yang paling nggegirisi dari etape etape terahir menuju air terjun adalah pacat atau lintah yang dengan tenang tanpa perasaan menunggu mangsa yg tanpa sadar mendekatinya untuk menjadi donor darah. Jenisnya ada dua macam yg siap masuk lewat kaki tangan kita adalah lintah penghuni air yg gerakannya lembut halus tak terasa merayap di permukaan kulit, dan satunya lagi adalah jenis lintah yang bergeraknya sebat dan tepat serta meloncat dengan akurasi tinggi menancapkan moncongnya ke permukaan kulit gulu, bawah telinga maupun muka kita dengan tanpa diketahui dan tak terasa sama sekali sampai dia kenya
ng dengan darah yang diisapnya dan akhirnya dengan elegan dia meloncat lagi lagi ke daun atau dahan ado sekitar kita. Dengan sisa sisa kekuatan yang telah dipakai selama 7 jam, akhirnya sampailah ke air terjun lembah kahung. 
        Sirnalah rasa lelah, letih , lapar dan dahaga tergantikan dengan indah dan segarnya air terjun lembah kahung. Tidak banyak orang yang sampai ke air terjun tersebut, so don’t miss it.

Iklan

8 Komentar

  1. menarik sekali info nya.
    saya pengen sekali kesana.

  2. Untuk mengunjungni lembah kahung disarankan pada musim panas atau kemarau akan lebih terasa keindahan dan kesejukannya !!

  3. Mohon Izin untuk mengambil artikel ini ! mungkin akan saya tebitkan lagi dengan beberapa perubahan dan penambahan atau pengurangan isi ! kebetulan saya beberapapernah beberapa kali menjelajahi hutan di sekitar waduk riam kanan salah satunya Hutan Kahung!

  4. Silahkan dan terima kasih untuk diperkaya kazanahnya. Wassalam

  5. Aku sudah pernah ke Lembah Kahung bulan April 2009. Kita hanya bertiga, Aku dan dua orang temanku. Perjalanannya memang sangat melelahkan. Malam pertama kami menginap di kediaman pembakal(kepala desa). Besoknya kami mulai melakukan perjalanan. Saat menyeberangi sungai (waktu itu tidak ada rakit), kedalamannya sepinggang. Selanjutnya, kita memasuki padang rumput terus Hutan Lebat dan kami menginap di Selter kembar. Besoknya kami kembali meneruskan ke Air Terjun.

  6. Bravo, saat ini adalah saat yang cukup tepat untuk kelembah Kahung karena musim panas.

  7. sip insya allah kami akan kembali,keindahan tidak terlupakan,apalagi ke ramahan penduduk belangian

    • Alhamdulillah..mudah-mudahan aku masih bisa suatu saat nanti menikmati keindahan alam belangian..mohon doanya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s