Potensi dan Pemanfaatan Biogas Kabupaten Banjar

Kabupaten BANJAR dengan luas wilayah 4.668,5 km2 dan jumlah penduduk sekitar 540.000 jiwa pada tahun 2008 ini, dimana pada saat ini juga terkena imbas krisis energy baik itu listrik maupun bahan bakar minyak, namun yang sangat terasa bagi masyarakat adalah bahan bakar minyak tanah. Kalaupun ada juga yang beredar di masyarakat melalui pangkalan pangkalan dan para pengecer maka jumlahnya terbatas sehingga fenomenanya selalu antri . . . . . dan berlakulah hukum dasar ekonomi supply & demand, bila barangnya langka maka harganya pasti naik, walaupun untuk gejala ini sudah ditetapkan adanya HET ! Tapi apa mampu pemerintah kab/ kota setiap hari mengontrol ?

Ada sebuah solusi tapi bukan BLT , khusus untuk Kabupaten Banjar populasi ternak sapi pada tahun 2008 jumlahnya ± 14.900 ekor dan kambing ± 5.200 ekor. Kalau 1 ekor sapi memproduksi kotoran (tahi sapi) setiap harinya ± 10 s/d 15 kg atau ± 8 liter maka total jumlah kotoran sapi di Kabupaten Banjar = 14.900 × 8 liter = 119.200 liter/hari. Belum lagi kotoran kambing !!

Secara umum limbah ini dapat dimanfaatkan gas metannya melalui teknologi sederhana dan murah untuk mengganti minyak tanah atau bahan bakar kayu yang semakin langka. Teknologi biogas sudah banyak dipakai di Indonesia tapi memang belum tersosialisasi secara besar besaran dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Setidaknya biogas ini sebagai salah satu alternative pengganti bahan bakar.

Untuk 2 – 3 ekor sapi atau lebih kurang 24 liter kotoran sapi dapat menghasilkan 4 M3 biogas, cukup untuk konsumsi 2 (dua) rumah tangga. Dengan jumlah kotoran 119.200 liter/hari maka sebetulnya dapat dihitung berapa rumah tangga yang dapat memasak tanpa minyak tanah atau kayu bakar, yaitu (119.200 : 24 ) x 2= 9.934 rumah tangga. Kalau kita anggap satu rumah tangga ada 5 orang maka di Kabupaten Banjar ada 108.000 rumah tangga.

Dapat dihitung bahwa cukup punya arti sumbangan biogas sebagai energy alternative, dari sapi 9,20 %.

Itu baru dari kotoran sapi, sedangkan populasi kambing juga cukup besar yaitu ± 5.200 ekor. Dari jumlah populasi ini diperkirakan dapat menyumbang sekitar 2 %.

Belum lagi populasi ayam yang sangat banyak terutama dari peternakan peternakan ayam buras yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten Banjar, mungkin dapat menyumbang sekitar 7 %.

Pemerintah Kabupaten Banjar dalam ini sejak 2007 sudah mulai mensosialisasikannya dengan membuat percontohan reactor biogas sederhana sebanyak 6 unit, ssdangkan pada tahun 2008 ini baru 10 unit. Padahal yang diperlukan sesuai potensi yang ada adalah 4.967 unit !!! . . . . . . masih sangat jauh . .. .. . apaboleh buat kalau mengharap dari APBD Kabupaten Banjar entah tahun berapa baru semua kotoran sapi termanfaatkan walaupun saat ini masih dapat dijadikan pupuk organic.

Inilah sebuah masukan untuk kita bersama bagaimana seharusnya pemerintah kabupaten/ kota menyikapi potensi yang ada sehingga tidak terbuang percuma.

Perlu adanya beberapa alternative design reactor biogas sesuai dengan jenis kotoran yang diproduksi, karena setiap kotoran hewam karakternya berbeda. Sudah seharusnya kita memiliki design reactor biogas masing masing untuk kotoran sapi, babi, kuda, kambing, ayam , dll.

Dan tentunya yang patut sekali untuk segera dipertimbangkan adalah biogas dari sampah yang ada di TPA, volumenya sangat besar !!! lebih baik dijadikan biogas dan didistribusikan kepada masyarakat disekitar TPA, jadi masyarakat jangan dapat baunya saja . Begitu juga pupuk organiknya.

Iklan

5 Komentar

  1. Biogas memang salah satu cara untuk lebih meningkatkan nilai lebih dari kotoran ternak selain untuk pupuk organik. Desa Bawahan Selan Kecamatan Mataraman mungkin “lebih dulu” di kabupaten Banjar yang telah membuat KOMPOR BIOGAS dari kotoran ternak untuk keperluan dapur warga, khususnya pemilik ternak yang berada di Rt. 013 Rw. 003 Pengaperan Desa Bawahan Selan. Berkat bantuan dari Pemkab Banjar, saat ini telah ada 4 (empat) unit Biogas yang sudah berhasil membantu warga mengurangi beban ekonomi rumah tangga, karena tidak lagi membeli minyak tanah yang kadang menghilang di pasaran.
    selain itu, saat ini kami juga berupaya melakukan permohonan kepada pemkab banjar agar ditambah lagi unit-unit biogas di desa kami, karena terbukti dengan biogas telah mengurangi pencemaran lingkungn terutama BAU yang biasa mampir dihidung kami.
    BLT = BIOGAS LIBAS minyak TANAH. trims

  2. Selamat siang Pak Akhmad Rizani, SP dan sebuah saran bahwa proyek yang ada tersebiut adalah proyek percontohan sebagai cikal bakal untuk pengembangan selanjutnya, dan mungkin yang dapat segera dilakukan adalah dengan swadaya masyarakat tapi mendapatkan bimbiingan teknis dari pemkab setempat. Coba rundingkan dengan masyarakat siapa saja ayang berminat setelah diketahui jumlah pasti yang berminat, pak Kades dapat langsung minta bintek kepada badan LH Kab Banjar. Bravo pak Kades, selamat meninggalkan minyak tanah ! ! !

  3. perlu adanya design reaktor untuk kotoran yg berbeda. sepengetahuan saya bos itu kotoran yang penting hancur. sedangkan di india mereka memakai sayuran,buah-buahan. tapi di blender dulu boss. tapi kalau tai sapi masak di blender. kan tdk ya boss.
    buat yg sederhana dulu boss,jangan mimpi dapat dana APBD. yang penting IT IS WORK.
    mana jiwa amatirnya boss 73

  4. wah pada semangat membangun negeri ni ya. ayo semangat terus menuju indonesia yang lebih baik.

    • Semoga kita semua semangat membangun negeri ini…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s