Temu Wicara Kebahasaan dan Kesastraan di Kalimantan Selatan

Cuaca cerah di atas Kota Banjarmasin terutama di Mahligai Pancasila, suhu diperkirakan 38˚ C saat itu peserta Temu Wicara Kebahasaan dan Kesastraan duduk gelisah sambil melihat jam tangan yang telah menunjukkan pukul 09.45 dimana acara tersebut menurut undangan dimulai pukul 09.00 pagi. Beberapa saat kemudian kegelisahan tersebut terobati dengan adanya pengumuman penyelenggara bahwa karena menunggu pembicara dari Dept Pendidikan Jakarta yang pesawatnya delay maka kepada peserta agar maklum dan dipersilahkan untuk menikmati hidangan makanan ringan sekaligus minum the atau kopi.

Tepat jam 10.30 Acara dimulai dengan pemandu cantik dari TVRI Banjarmasin memperkenal nara sumber antara lain Pak Dedy dari pusat, Dekan FKIP Unlam dan Assisten I Sekda Provinsi Kalimantan Selatan.

Banyak terungkap segala permasalahan bahasa dan sastra di Indonesia, khususnya di provinsi Kalimantan Selatan ditengah hiruk pikuknya perkembangan dunia yang mengglobal tanpa batas menembus sampai ke rumah rumah di segala penjuru dan pelosok.

Peserta yang diundang dalam temu acara tersebut cukup lengkap, dari unsur pemerintah kabupaten kota, dimulai dari Sekda, Kesbanglinmas dan Diknas, dtingkat propinsi adalah semua unsure muspida, guru guru, para siswa, seniman, budayawan, wartawan, dst.

Beberapa hal menarik yang patut kita renungi bersama antara lain :

1. Zaman penjajahan belanda kita dipaksanakan melalui sekolah sekolah untuk berbahasa Belanda, di zaman penjajahan Jepang juga demikian, hasilnya banyak yang fasih dan paham akan keduanya, sekarang di zaman kemerdekaan yang umurnya sudah 63 tahun ternyata kita pada semua sekolah diwajibkan member pelajaran Bahasa Inggris. Bagus tapi masih perlu untuk direnungkan kembali. Karena ini sudah kebablasan sebagai contoh di Banjarmasin ada sekolah Internasional yang mengajarkan bahsa Indonesia dengan pengantar bahasa Inggris !

2. Bagaimanakah yang dikatakan bahwa bahasa Indonesia itu sudah dipakai dengan baik dan benar sesuai kaidahnya. ? apakah apabila seseorang berbicara dengan bahasa Indonesia kemudian tidak dapat diketahui darimana asalnya melalui dialeknya ? Padahal semestinya biarlah seseorang berbahasa Indonesia dengan dialeknya masing masing selama kaidahnya benar, dan juga bahasa khan semestinya menjadi alat pemersatu dengan keberagaman dialeknya.

3. UU Pendidikan Nasional mengamanatkan 20 % dari total anggaran APBN, APBD Prov, Kab/Kota harus dialokasikan untuk dunia pendidikan, maka salah satunya adalah pendidikan bahasa Indonesia. Yang banyak berperan dalam pengembangan bahasa Indonesia adalah tentunya para tokoh yang sering berbicara dimuka public, para seniman dengan karya karyanya, para wartawan dengan tulisan tulisannya di karon maupun di majalah, produser dan para bintangnya. Merekalah yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia karena mereka adalah figure publik yang dicontoh dan ditiru oleh masyarakat. OLeh sebab itu perlu disisihkan sebagian dari 20 % tersebut untuk menggeluti elemen ini.

4. Dalam bahasa tulisan terutama dalam surat menyurat yang dikeluarkan oleh instansi resmi pemerintah pusat, prov, kab/kota semuanya didasarkan pada tata naskah dinas yang telah dibakukan dalam sebuah peraturan. Untuk hal ini yang sangat berkompeten adalah LAN yang seharusnya selalu memperbaharui setiap waktu sesuai dengan perkembangan kaidah bahasa Indonesia.

Itulah yang terungkap dalam temu wicara yang hanya berlangsung singkat sampai saat azan dzuhur berkumandang dari Masjid Agung Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s