Perjalanan Martapura – Samarinda PP

Perjalanan ke Samarinda kali ini, aku bersama sama dengan rombongan BKD menggunakan 2 buah mobil dalam rangka Seminar Peningkatan Kapasitas Teknologi Informasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam Rangka Percepatan Reformasi Birokrasi.

Diawalai dengan kesepakatan bahwa berangkat beriringan dengan start jam 06.00 hari minggu tanggal 19 Oktober 2008 di Bincau Martapura, ternyata baru terealisasi jam 06.30 pagi. Perjalanan dari Martapura menuju ibukota kabupaten pertama yaitu Rantau, berjalan lancar dan sampai di Binuang sebagai kota persinggahan, ini memang direncanakan untuk makan pagi disini dengan menu pundut dengan lauk ayam kampung goreng atau telur asin dan menu ini hanya ada di warung Beruntung Binuang. Sampai di Rantau sekitar jam 08.00 langsung menuju kota Kandangan yaitu ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sampai sejauh ini jalan masih lancar.

Dari Kandangan tanpa berhenti perjalanan masih diteruskan melalui kota Barabai sebagai ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, juga sama , nothing change . . . . . . artinya kalau travelling pagi pada jalan darat masih lancar tanpa gangguan traffic jam dan jalannya juga masih bagus dalam artian tidak rusak bergelombang atau berlubang dengan kubangan berair.

Dari Barabai menuju Paringin, ibukota Kabupaten pemekaran dari kabupaten Hulu Sungai Utara yaitu kabupaten Balangan, jalan mulai menyempit dengan lebar rata-rata 6 meter dan bahu jalan yang kadang tidak menentu lebarnya, ada yang 0,5 meter sampai dengan 1 meter. Namun ada perubahan yang cukup mencolok, mungkin karena aku sudah lama tidak lewat jalan ini lagi, yaitu lebar jalan menjelang masuk kota Paring lebarnya menjadi 2 x 6 meter dengan rencana median ditengahnya selebar 1 meter. Satu lagi yang berubah bagi aku yaitu banyaknya gedung-gedung pemerintah namun diantara gedung-gedung ada dua gedung yang paling megah yaitu Kantor Bupati Balangan dan Kantor DPRD Balangan. Bravo pak Bupati Balangan . . . . . . . tapi patut dimaklumi beliau Ir. Sevek adalah seorang civil engineer dan pengalaman di Kimpraswil yang cukup lama sampai menjadi Kepala Kimpraswil Provinsi Kalimantan Selatan.

Melintas perempatan kota Paringin sebagai kota lama, jalan agak tersendat karena di perempatan itulah terjadi perputaraan roda ekonomi masyarakat Paringin dengan pasar tradisionalnya. Dimana masyarakat di desa desa datang membawa hasil bumi untuk dijual kepada para pedagang pasar yang akan menjual kembali dengan menggelarnya dipinggir jalan sebagai PKL, namun ada juga yang sudah memiliki toko tetap. Secara umum Paringin sudah menggeliat untuk bergerak maju mengejar kakaknya yaitu kota Amuntai.

Tanpa terasa hampir 30 menit perjalanan , sampailah kami di pertigaan Mabu’un, suatu daerah baru yang akan dikembangkan menjadi kota yang baru setelah Tanjung sebagai ibukota Kabupaten Tabalong, karena nampak terlihat fasilitas fasilitas umum mulai bermunculan seperti SPBU, terminal antar propinsi, pasar yang representative, dan yang nampak megah adalah kantor DPRDnya, dengan sebuah keyakinan bahwa Mabu’un akan tumbuh menjadi kota besar karena dia dilintasi jalan nasional yang menghubungkan provinsi Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Timur. Dengan landmark dipertigaan Mabu’un adalah tugu obor yang tak pernah padam sejak didirikan beberapa puluh tahun yang lalu dengan bahan bakar gas alam abadi.

Mesin mobil masih belum panas dan driver masih nampak kokoh memegang kemudi, perjalanan masih diteruskan menuju perbatasan Kalsel Kaltim. Setelah sekian ratus km jalan nasional dilalui dengan kontur datar tidak ada jalan turun naik kecuali tikungan tikungan tajam, maka mulailah jalannya sekarang mendaki dan menurun. Kalau hanya mendaki dan menurun saja tentunya tidak menjadi masalah bagi mobil dan driver, tapi setelah kecamatan Jaro jalannya mulai rusak, rusak berat lagi sehingga kecepatan mulai agak tersendat. Akhirnya sampailah kami di tugu perbatasan , dan nampaknya tugu perbatasan dengan pintu gerbangnya yanag tinggi ini didesign sebagai tempat pemberhentian semua angkutan, karena di kanan jalan ada halaman yang cukup luas untuk parkir 20 buah mobil dan juga tersedia warung warung minum serta musholla yang representative untuk ukuran daerah setempat yanga rata-rata bangunannya adalah konstruksi kayu, karena musholla tersebut dibangun dengan konstruksi beton. Di atas tebing di bangun sebuah pasanggrahan dengan tipe rumah banjar bubungan tinggi sebagai tempat perisitirahatan bagi siapa saja yang ingin melepas lelah dengan berbaring menikmati sejuknya udara pegunungan.

Tepat jam 12.45 siang setelah beristirahat kami memasuki wilayah provinsi Kalimantan Timur dengan jalan yang menanjak terus, dan tanjakan yang terkenal sejak jaman dahulu adalah tanjakan gunung rambutan, tapi sekaranag sudah tidak seseram dahulu beberapa tahun yang lalu. Pertama karena disekitar tanjakan tadi sudah banyak permukiman penduduk dengan membuka warung warung makan dan minum, kedua ketinggian tanjakannya sekarang sudah jauh berkurang karena puncak tertingginya sudah dipangkas sehingga tanjakannya menjadi landai.

Jalan masih menanjak terus dan mobil masih dengan persneling rendah, serta kadang kadang ac mobil harus kami matikan kalau tidak ingin mobil mati mesinnya . Namun setelah setengan jam perjalanan yang cukup berat bagi mobil dan pengemudi serta juga bagi penumpangnya yang ikut tegang, nampak dikiri jalan ada air terjun yang cukup tinggi dengan hembusan uap air yang sejuk menerpa muka kita kalau jendela mobil dibuka. Disinipun tersedia areal parkir yang cukup luas pula untuk beristirahat mengembalikan tenaga dan semangat, bahkan dapat pula bagi yang ingin mandi atau sekedar mencuci muka disekitar air terjun tadi yang tentunya kita akan segar kembali setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Tidak ada laut yang tak bertepi, dan tak ada gunung yang tak berpuncak, akhirnya jalanan kami mulai menurun dan menurun, andaikan mungkin . . . ini berandai andai saja, mesin mobil kami matikan maka mobil akan meluncur terus tanpa haris kehabisan bahan bakar, tentunya dapat menghemat bahan bakar . . . . harapan kami beda dengan pengalaman driver, yang mengatakan mesin harus tetap hidup kalau tidak hidup maka remnya tidak berfungsi, bila rem tidak berfungsi . . . . maka mobil akan emergency landing di jurang ! Tepat jam 14.15 sampailah kami di Simpang Tiga Kuaro sebagai tempat persinggahan tetap untuk angkutan jurusan Banjarmasin Balikpapan/Samarinda. Disini ada sebuah warung special seperti halnya warung Beruntung di Binuang dengan menu andalannya pundut panas dengan telur asin, maka disini andalannya adalah payau masak habang (payau adalah menjangan/rusa/kijang liar, masak habang adalah adalah bumbu Lombok merah atau kalau di jawa timur diistilahkan dengan masak bali).

Disini kami istirahat cukup lama untuk ukuran perjalanan jauh, kami sempat makan dengan santai bahkan masih dapat menghabiskan 2 batang rokok ji sam su kretek. Juga mengontrol mesin, air radiator, kekencangan ban, dan lain-lain serta juga mengisi bahan bakan di SPBU.

Jam 16.00 perjalanan kami lanjutkan kembali dengan rasa segar dan semangat baru serta bahan bakar full tank seperti orang-orang yang didalam mobil semuanya full tank alias kenyang ! beberapa kecamatan kami lalui kembali seperti Long Ikis, Long Iram, Long Kali, oh ya . . . . ada satu daerah yang sering menjadi bahan guyonan dan bahan cerita yaitu kampung Babulu dengan sebuah pertanyaan yang konyol dan lucu apabila kita tanyakan kepada orang disamping kita . . . . . sudahkah babulu nak ? . . . . .’”

Sebetulnya kami tiba di Panajam tidaklah terlalu sore yaitu sekitar jam 17.00, namun antri masuk penyeberangan ini yang membuat kami kemalaman sampai di Samarinda. Bayangkan dari jam 17.00 tiba di penyeberangan, masuk kedalam kapal ferry jenis RORO jam 19.30 malam, jadi namanya penyeberangan panajam ini jarang pernah kosong, pasti antri lama walaupun kapal ferrynya beroperasi sebanyak 4 unit, tapi memang mobil yang mau menyeberang ke Balipapannya yang tidak pernah sedikit semakin tahun semakin banyak jumlah dan jenisnya. Jadi yang berubah di penyeberangan panajam ini tidak hanya jam antri tapi tarif penyeberangannya juga berubah dari Rp.75.000,- untuk jenis mobil penumpang, sekarang sudah menjadi Rp. 133.000,- untungnya penumpang dan driver tidak perlu bayar lagi !

Kapal ferry memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai dermaga Balikpapan di malam hari, ada yang duduk nonton tv dianjungan, ada yang meninkmati pemandangan kota Balikpapan di malam hari yang katanya seperti hongkong diwaktu malam nanpak cahaya lampu bersinar yang dipantulkan kembali oleh permukaan air laut seolah olah lampunya bergerak gerak menampak bayangan, dan nampak pula sebuah menara/atau cerobong berapi seperti obor pramuka saat jurit malam.

Walaupun sampai di Balikpapan sudah malam hari, tepatnya jam 20.15 namun tekad ke Samarinda sudah bulat bahwa selarut apapun harus tetap ke Samarinda sebab besok Senin pagi acara seminar sudah dimulai. Karena memang sudah yakin pasti akan datang larut malam di Samarinda dan dengan satu keyakinan pula bahwa di Samarinda tidak ada warung makan yang buka, maka kami putuskan untuk makan malam di Balikapan walaupun cukup di warteg, yang penting kenyang perut terisi.

Dari Balikpapan ke Samarinda kembali jalannya menanjak dan berliku liku dengan tikungan tajam, menyebabkan jalannya mobil tidak bias cepat ditambah pada malam itu hujan turun walaupun tidak lebat tapi cukup membuat permukaan jalan menjadi licin, inipun semakin memperlambat jalannya mobil, wal hasil . . . . . tiba di Samarinda seusai dengan perkiraan yaitu Jam 01.00 pagi Senin. Betapa susahnya mencari hotel di malam yang larut tanpa ada tempat bertanya, akhirnya dengan hunting by feeling dapatlah hotel kelas III yang lumayan bagus, artinya tidak mewah tapi bersih dalam arti sesungguhnya.

Esok paginya langsung ke PKP2A III- LAN Samarinda di Jalan Letjen MT. HAryono No.36, tidak sulit untuk menemukan gedung Kantor tersebut karena berada di tepi jalan besar, sesampainya disana langsung mendaftar sebagai peserta seminar, nampaknya pesertaanya seluruh wilyah Kalimantan walaupun yang dominan pesertanya berasal dari Kalimantan Timur. Acara dapat diselesesaikan on schedule tapi dilanjutkan dengan pengisian kuisioner dan pembagian sertifikat serta makan siang.

Selesai acara kami langsung ke Balikpapan dengan pertimbangan bahwa besok pagi bias kebih cepat datang ke penyeberangan ferry. Setelah sampai pada sore hari menjelang magrib di Balikpapan, yang pertama dilakukan sebagai prioritas adalah mencari penginapan, akhirnya dapat juga hotel baru yang lagi discount harga . . . promosi kali ya . . . . . yaitu Hotel Menara Bahtera. Hotelnya bagus bersih dst dst . . . .tapi ada pajangan yang menarik di lobby hotel yaitu sebuah motor besar merk Honda . . .yang gress . . . . antik lagi !! aku yakin pasti harga mahal .

Nah dalam perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan, kami sempat singgah disebuah resto di pinggir sungai mahakam, viewnya sangat bagus karena tempat kami duduk dapat melihat bentangan sungai mahakam yang lebar dengan arus lalu lintas trasportasi sungai yang ramai, ada tongkang batubara, ada speed boad, dan ada lagi kumpulan kayu log dalam jumlah yang besar, tidak tahu apakah ini legal atau illegal logging !

Selasa  jam 06.00 tanggal 21 Oktober 2008 dalam keadaan hujan rintik rintik . . . kami beserta rombongan setelah makan pagi di hotel meluncur menuju penyeberangan Kariangau. Dan tiba dipenyeberangan jam 06.45 ternyata kami sudah masuk antrian yang ke sekian jauh di belakang. Setelah satu jam lebih antri baru sampai di loket pembelian karcis penyeberangan, bayangan setelah dapat karcis bias langsung masuk ferry. . ternyata kembali antri dengan parkir di lapangan, adapun yang mendapat prioritas masuk ferry adalah truk tangki BBM untuk SPBU yang rata rata ukuran truknya besar besar mampu mengangkut 10.000 liter bahkan lebih sedangkan truk tangki BBM untuk industry sama saja dengan kami antri sesuai urutan, untuk keadaan ini antrian tidak ada yang protes karena maklum memang penting. Jadi yang mendapat prioritas pertama masuk kapal ferry adalah truk tangki BBM untuk SPBU, angkutan sembako apapun jenis mobilnya, baru disusul angkutan bis antar propinsi dilanjutkan untuk angkutan umum dan pribadi lainnya.

Setelah jam10.15 punahlah sudah masa penantian sebab 1 jam lagi insya Allah kami akan sampai di Panajam, cuaca masih sama hujan rintik rintik. Kebetulan bahan bakar mobil sudah sampai pada garis E maka kami berusaha mencari SPBU terdekat, SPBU pertama yang didapati ternyata ada papan pengumuman “ solar dan bensin habis”, terpaksa beli eceran di kios bensin pinggir jalan dengan harga yang lebih tinggi. Belinya cukup 5 liter saja dengan pertimbangan bahwa 5 liter bensin mampu menempuh jarak 60 km dengan harapan ada SPBU lain yang ditemukan. Tidak berapa lama memang didapati kembali SPBU kedua yang buka tapi juga dengan pengumuman “solar ada, bensin habis”, SPBU ketiga juga dengan pengumuman yang sama, akhirnya baru pada SPBU ke empatlah yang ada, tapi harus sabar menunggu dulu antri karena truk tangki bensinnya baru datang dan akan mengisi stok tangki pendam milik SPBU. Tidak tanggiung-tanggung mobil langsung kami isi full tank 65 liter.

Jam 13.15 siang kami tiba kembali di Simpang Tiga Kuaro, kembali pula dengan menu tetap payau masak habang, setelah makan dan berisitirahat , perjalananan kami lanjutkan kembali dengan cuaca yang masih sama pula yaitu hujan rintik rintik dan langitpun masih tetap mendung dengan wan hitamnya. Cuaca seperti ini sangata berbahaya bagi semua angkutan yang lewat pada jalan yang berliku dan menanjak seperti antara Kuaro sampai dengan tugu perbatasan Kalsel Kaltim. Dugaan kami cukup beralasan dan terbukti ada beberapa buah truk angkutan material ATB (asphalt treated base) yang terbalik.

Dengan waktu tempuh 75 menit, sampailah kami diperbatasan, tanpa istirahat perjalanan tetap kami teruskan sampai di Kandangan jam 19.00 dan mampir untuk makan malam dengan masakan khasnya Katupat Kandangan. Dengan perut kenyang perjalanan pulang diteruskan dengan semangat 45 karena secapek apapun kalau sudah dirumah tidak ada masalah lagi, bisa langsung mandi dan tidur.

Nyatanya harapan tinggal harapan, mobil kami terjebak dalam macetnya angkutan batubara di ruas jalan nasional sepanjang mungkin 10 km lebih, macetnya luar biasa ! Mungkin fenomena ini . . . . . .maksudnya bukan macetnya tapi truk angkutan batubara yang lewat jalan umum . . . . hanya terjadi di propinsi Kalimantan Selatan. Semoga kejadian kejadian ini nanti bulan Juli 2009 akan berakhir seiring dengan telah terbitnya Perda Propinsi Kalimantan Selatan yang melarang semua angkutan batubara dan hasil perkebunan dilarang melalui jalan umum (jalan NAsional dan jalan Propivinsi). Saya pernah bertanya kenapa hanya dilarang pada Jalan Nasional dan jalan Propinsi saja ? ternyata jawabnya yang berhak melarang untuk jalan Kabupaten adalah masing masing Bupati. Betul juga karena wewenang pembinaan jalan kabupaten dan jalan desa adalah Bupati. Tapi akan terjadi kelucuan sementara di Kabupaten A dilarang tapi di kabupaten tetangga tidak dilarang, padahal jalannya berada dalam satu link atau satu ruas jalan yang menerus.

Dapat anda bayangkan macetnya sampai 3 jam lebih, dalam 3 jam berapa peluang perputaran uang yang hilang percuma.

Akhirnya setelah terbebas dari macet dengan kecepatan tergesa gesa (pengganti istilah kecepatan tinggi) tibalah kami kembali di rumah masing masing peserta rombongan perjalanan ke Samarinda.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s