Tatkala kata-kata tak bisa lagi menyelesaikan masalah !

Masalah ? apakah masalah itu ?

Setiap hari, baik televise, Koran, majalah atau tabaloid selalu menyuguhkan berita-berita yang rata-rata adalah dengan katagori breaking news. Ada pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, berita kriminal, krisis ekonomi yang mengglobal, dan lain-lain.

Kalau headlines kita baca lebih seksama isinya misalnya kenapa terjadi pembunuhan dengan kasus mutilasi ternyata adalah ketidak harmonisan dalam rumah tangga, kalau itu dalam sebuah keluarga, atau penculikan dengan latar belakang ingin beli mobil. Banyak contoh-contoh berita lainnya, kalau kita simak lebih dalam ternyata pasti ada masalah yang melatar belakanginya kenapa itu terjadi.

Sehingga pertanyaan tersebut dapat terjawab sederhana dengan sebuah rumusan bahwa sesuatu yang seharusnya ada atau terjadi menurut kaidah kausalistik atau sunatullah, kenyataannya secara realita tidak seperti yang diharapkan.

MASALAH = SEHARUSNYA – REALITA

Dalam upaya penyelesaian persamaan tersebut diatas banyak jalan ditempuh oleh umat manusia, kelompok orang/golongan, atau bahkan Negara. Ada yang dengan pemaksaan kehendak tanpa memperhatikan keadaan orang,kelompok/golongan/Negara lain apakah dengan tekanan kekuasaan atau kekuatan. Ada yang menyelesaikan dengan membangun sebuah komunikasi tapi inipun dengan berbagai jenis komunikasi, verbal dan non verbal. Dalam rangka membangun komunikasi ini antar para pihak yang ingin menyelesaikan permasalahan tersebut sering terjadi distorsi, entah karena emosi , entah karena cara pandang yang berbeda terhadap permasalahan, entah karena mau menang sendiri. Sehingga komunikasi deadlock (buntu). Disaat kebuntuan ini terjadi maka yang paling bijaksana adalah agar masing-masing para pihak melakukan introspeksi dengan kesadaran yang tinggi untuk kembali mencari jalan keluar yang baik bagi para pihak, sebab kalau kebuntuan dipaksakan terus. . . . . . bahayalah yang akan muncul.

Diam adalah kata kunci yang paling sakral, anda lihat bagaimana diamnya gunung yang setiap hari diterjang badai, petir, banjir bandang . . . .dalam kondisi diam semua kekuatan jiwa dan raga terhimpun untuk diexploitasi secara arif pada saat yang tepat nantinya.

Diam seperti inilah yang dikehendaki,diam yang aktif bukan diam yang pasif, pasrah menunggu nasib !

kunci dulu mobilmu, baru tawakkallah kepada Allah

6 Komentar

  1. Satu yang selalu saya yakini Pak …
    Fakta itu penting, tapi apresiasi terhadap fakta jauh lebih penting

    Karena itulah juga saya meyakini, bahwa masalah adalah sesuatu yang penting, namun apresiasi atau pensikapan terhadap masalah menjadi jauh lebih penting dari pada masalah itu sendiri.

    Namun jika kata-kata tak lagi menyelesaikan masalah, tentu sudah tak perlu lagi menyelesaikan masalah melalui kata-kata, masih banyak pilihan lain. Sebagaimana yang juga saya yakini, jika sebuah sistem sudah rusak, maka perbaikilah. Jika tak mampu memperbaiki maka tinggalkanlah, jika tak mampu pula meninggalkannya, maka hancurkanlah (dekonstruksi & rekonstruksi sistem).

  2. Terima kasih, aku dapat tambahan khasanah penyelesaian yang baru (dekonstruksi & rekonstruksi sistem). Wassalam

  3. (dekonstruksi & rekonstruksi sistem) sebagai altrnatif penyelesaian masalah adalah hal yang tak terpikirkan olehku, terima kasih masukannya. Wassalam

  4. Kalau dari sisi psikologi otak manusia, ciri-ciri masalah yang besar diantaranya adalahl Intransparansi (kekurangan informasi), multiple goals (terlalu banyak tujuan yang ingin dicapai), kompleksitas peristiwa, dan dinamis dalam artian permasalahan tersebut selalu berubah-ubah dan berkembang.

    Ada banyak teori pemecahan masalah, diantaranya

    1. divide and conquer (membagi-bagi masalah besar dalam point-point yang teraha dan mengatasi satu-persatu)

    2. Hill-climbing strategy (melakukan langkah demi langkah terurut untuk mencapai tujuan)
    3. Means-end analysis
    4. Trial-and-error (mencoba-coba)
    5. Brainstorming
    6. Morphological analysis
    7. Research (riset)
    8. Assumption reversal (menulis semua asumsi terkait masalah dan mencoba)
    9. Analogy (menemukan dan menggunakan contoh masalah lain yang mirip namun telah terpecahkan)

    dan banyak lagi lainnya…

    Setelah membaca komentar ini, saya juga punya masalah tambahan, yaitu malah jadi bingung sendiri…

  5. Akupun, akhirnya tambah banyak pilihan penyelesaian, sekarang juga jadi bingung memlilih teori dasar mana yang dipakai. Mungkin perlu pengelompokan masalah untuk disesuaikan jenis pilihan teori dengan tingkat kerumitan permasalahan dan mungkin juga penggabungan beberapa teori untuk dilaksanakan bersama. Tapi yang jelas alternatif caranya makin banyak. Terima kasih

  6. Setiap masalah, pasti ada cara pemecahannya, yg paling mudah memecahkan masalah adalah dengan berdiskusi sama teman-teman yang sepaham. makin banyak kepala yang ikut berpikir maka akan lebih mudah memecahkan masalah tersebut, tapi bisa pula sebaliknya bila teman-temannya tidak sepaham maka makin rumit jadi masalahnya hee


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s