Masih perlukah ada tugu di bundaran Jalan ?

bundaranhi-copy1

Bundaran, kata dasarnya bundar dengan sinonimnya bulat adalah sebuah bentuk lingkaran dalam 2 dua dimensi, yang diidentifikasi dengan ukuran jari-jari ( r atau R) dan diameter ( Ǿ ).
Bundaran adalah sebuah luasan lahan yang dapat berfungsi sebagai sebagai ruang publik pada umumnya berada di pusat kota khususnya pada sebuah pusat pemerintahan apakah tingkat kecamatan atau kabupaten/kota atau bahkan tingkat provinsi. Biasanya disekeliling bundaran besar tersebut berdiri bangunan-bangunan pemerintah , pusat peribadatan dan pusat perputaran roda ekonomi . Bundaran yang seperti ini disebut Alon –alon yang oleh pemerintah dapat digunakan untuk upacara kenegaraan atau kegiatan kenegaraan lain selain upacara, tapi yang umum memanfaatkan ruang publik ini adalah masyarakat sendiri baik sebagai tempat melepas lelah, bercengkrama dengan kawan-kawan disaat teduh atau di sore hari sampai menjelang magrib. Atau pada hari-hari libur rutin seperti hari minggu akana menjadi pusat olah raga masyarakat seperti jogging, jalan santai atau senam missal seperti senam lansia, senam kesegaran jasmani, senam tai ci, dll.
Namun masih ada sebuah bundaran lagi yang skalanya lebih kecil dan tempatnya tidak mesti dipusat kota, tepatnya adalah di perpotongan dua atau lebih jalan raya atau dalam bahasa sehari-hari adalah di perempatan jalan. Bundaran inipun dibuat dengan sebuah maksud tentunya, antara lain untuk memperlambat kecepatan kendaran bermotor sehingga arus lalu lintas menjadi lebih baik, atau sebagai wadah untuk meletakkan penunjuk arah jalan atau tujuan.
Seiring waktu dalam sebuah pemerintahan yang mempunyai periode-periode pemerintahan tentunya setiap periode akan mempunyai ciri atau peninggalan yang dapat dikenang atau diingat, dimana salah satu kenangan tersebut adalah berupa sebuah tugu.
Dibangunnya sebuah tugu tentunya pula dengan sebuah maksud tertentu pula apakah untuk tugu peringatan atau tugu pemujaan atau pula tugu kenangan, dan lain-lain.
Tapi bagaimana kalau sebuah tugu dibangun di tengah bundaran diperempatan jalan ? adakah sebuah tujuan yang esensial sehingga tugu dibangun di tempat tersebut ? jawabnya pasti ada tujuannya, mungkin sebagai hiasan mempercantik kota seperti di Kota Denpasar di simpang lima yang terkenal dengan istilah simpang siur, disana dibangun tugu patung Bima/werkudoro yang besar atau di Jakarta di jalan thamrin ada tugu Kresna bersama Arjuna naik sebuah kereta dengan 10 ekor kuda penarik yang gagah tidak mengenal takut akan panah dan pedang dalam perang baratayudha. Atau juga ingin mengenalkan tentang khas budaya lokal seperti tugu batu hapu, tugu rumah banjar, dll. Dan ini tidak hanya di Indonesia, bahkan di belahan dunia lainpun demikian juga seperti di Jeddah adalah tugu sepeda besar ( masyarakat banjar sering bercerita bahwa di Jeddah ada sepeda nabi Adam ??!! . . . )
Membangun sebuah tugu tidaklah sulit, banyak designer, banyak seniman, dan banyak kontraktor yang dapat melaksanakannya selama rencana pembangunan tersebut ada dananya.
Yang sering terlupakan dalam sebuah perencanaan adalah bagaimana setelah bangunan tersebut selesai dibangun ? bagaimana pemeliharaannya ? darimana sumber dananya ? adakah yang mampu memeliharanya atau menjaganya ?
Tidak sedikit dana yang harus disisihkan untuk memelihara sebuah tugu karena dia harus terang dengan efek pencahayaan yang memerlukan arus PLN yang semakin hari semakin mahal tapi sering byar pet . . . ada tamannya yang harus dirawat agar selalu nampak indah dan asri dan kebersihannya yang harus tetap terjaga.
Hanya ada dua pilihan bagi kita terhadap keberadaan tugu tersebut.
Pertama, dipertahankan tentunya dengan konsekwensi harus dipelihara dan terawat dan memerlukan alokasi anggaran yang cukup besar setiap tahunnya.
Kedua, dibuang saja atau digusur, ganti dengan lapangan rumput hijau dengan ditengahnya dibuat penunjuk arah, ini tentunya biaya perawatan dan pemeliharaan tidaklah begitu besar.
Itulah pilihan !

Iklan

1 Komentar

  1. Bundaran untuk di kota martapura kayanya ngga ada tempat yang pas gitu kecuali bundaran liang anggang (gambut) hal ini dikarenakan jalan2 yang ada kota Martapura itu sendiri lumayan kecil dan saraf dengan arus lalu lintas truk batu bara..ditaro median jalan aja banyak yang nabrak…nah kalo bundaran simp.4 banjarbaru oke juga pak, saya sendiri lebih cenderung ke tugu.. mungkin bisa diperbaiki/rehab tugu yg ada didekat jembatan irigasi sei. paring…udah kuno pak..dipercantik dong mungkin bisa dibikin kaya di bali ada patung kresna..atau seperti di sebelah kantor Radar banjarmasin yg lagi diolah.. banyak ikon pahlawan kalsel bikin aja pak…cuma kalo bisa buat yg sesuai dengan karakter martapura itu sendiri..yakni kota serambi mekkah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s