Selayang Pandang Ekspedisi Sungai 15/16 Nov 2008

Sabtu pagi yang sejuk di sebuah dermaga pekauman dengan langit sedikit mendung, nampak peserta ekspedisi sungai sedikit tegang dengan sesekali memandang ke atas. Mungkin dengan sebuah do’a “ mudahan jangan hujan !”. Akupun do’anya sama, mudahan jangan hujan juga, sebab naik kelotok atau kapal, posisi yang paling didambakan adalah diatas atap ! ! !

Dengan diiringi do’a selamat dan pesan Bapak Bupati H.G. Khairul Saleh beserta Ibu bahwa banyak yang dapat dilihat dalam alur sungai, baik itu jejak sejarah kerajaan Banjar dahulu maupun kerajaan Daha, juga banyak fenomena sosiokultural masyarakat tepian sungai.

Tepat Hari Sabtu tanggal 15 November 2008 jam 08.15 peserta ekspedisi sungai berjumlah 87 orang berangkat dari dermaga pekauman menuju dermaga Banjar Raya Banjarmasin dengan 2 buah kelotok besar.

image080

Dalam perjalanan menuju Banjar Raya banyak yang kami lihat yang pertama kali terlihat adalah banyaknya orang yang mandi di atas rakit bambu (istilah bahasa banjar ‘batang’ tapi kalau digunakan untuk sarana transportasi namanya berubah menjadi ‘ lanting’) yang berfungsi sebagai MCK (mandi,cuci,kakus). Mudah-mudahan tidak terimbas Undang-undang Pornografi, karena baik laki-laki maupun wanita mandinya ditempat terbuka dengan pakaian mandi yang khas , kalau laki-laki cukup celana pendek dan wanita cukup dengan kain sarung atau jarig sampai didada ( istilah bahasa banjar ‘tilasan di dada’).

Dari hasil catatan Tim Kesehatan yang ikut serta tercatat sebanyak 1.831 buah jamban (istilah kakus yang ada di batang/rakit) sepanjang sungai Martapura dari pekauman sampai sungai lulut perbatasan dengan kota Banjarmasin, dengan perkiraan masih ada hulu sungainya Martapura dan cabang-cabang anak sungai martapura maka diperkirkan total jamban di Kabupaten Banjar adalah 3×1.831=5.493 buah jamban.

Andai kata dalam 1 jamban dipergunakan oleh 10 orang dan asusmi kotoran manusia dalam 1hari seberat 2 ons, maka jumlah kotoran manusia yang ditampung sungai dalam 1 hari adalah 10 x 0,2 kg x 5.493 = 10.986 kg. Dulu waktu ikan disungai masih banyak, diperkitakan yang dimakan ikan cuma 30 %, sisanya yang 70 % larut terurai secara alami di sungai tapi prlu waktu yag cukup lama. Sekarang ikannya yang ada disungai jauh sangat berkurang karena setrum, potas dan racun lainnya, dapat anda bayangkan akibatnya !

Yang terlihat kedua, beberapa saat setelah kelotok bergerak nampak dermaga curah bahan galian golongan C dengan kelotok angkutan yag cukup lebar (‘jukung tiung’ dalam istilah bahasa banjar), yang menurut khabar bahwa bahan galian golongan C itu dikirim ke Batola atau ke propvinsi Kalimantan Tengah. Yang menjadi pertanyaan apakah pajaknya terpungut ? sebab tidak ada pos jaga sepanjang aliran sungai Martapura yang kami lalui ini.

Selain dermaga curah tadi, yang terlihat banyak juga adalah tempat penggilingan padi yang cukup banyak jumlahnya dengan sekam yang nampak larut ke sungai.

Nampaknya sepanjang aliran sungai Martapura ini terjadi penzona-an , misalnya ada satu zona yang khusus memproduksi batu bata mentah yang belum dibakar yang harganya Cuma berkisar antara Rp.150,- s/d Rp.200,- per biji, ada juga yang memproduksi sagu, ada yang memproduksi atap daun pohon rumbia (‘hatap rumbia’ dalam bahasa banjar) yang harganya Cuma Rp.500,- per lembar, ada yang memproduksi alat pemisah gabah yang hampa dan yang berisi dengan teknis sederhana ( “gumba’an” dalam bahasa banjar), bahkan ada juga zona yang khusus memiliki keramba pembesaran ikan bakut.

image081

Dalam tim ekspedisi kami juga ada yang berasal dari sector perhubungan, dengan komentar bahwa transportasi sungai kita sudah mulai hilang karena kalah dengan transportasi darat, tapi walaupun demikian masih nampak ada kegiatan trans[ortasi sungai walaupun minim, dimana saat ini hanya banyak digunakan untuk transportasi material pembangunan saja, tapi secara tak diduga kami berpapasan dengan 2 buah kelotok yang lengkap dengan bendera yang kami kira sudah ada kampanye, ternyata ada promosi keliling produk obat via kelotok.

Dalam waktu yang cukup panjang yaitu 4 jam, akhirnya sampailah kami di dermaga banjar raya tepat jam 12.15.

2 buah kelotok kami secara bergiliran merapat ke bus air yang akan membawa kami ke Nagara, dan kamipun melakukan transit pindah kapal (bukan pindah pesawat seperti di bandara) dengan meloncat secara hati-hati sambil membawa tas masing-masing.

image089_1image088_1image091

Setelah semua peserta berpindah ke bus air, 2 buah klotok kami kembali ke martapura, masing-masing peserta menyusun dan menata barang bawaan masing-masing. Kepada semua peserta diberi kesempatan untuk mencari snack atau rokok atau apapun tambahan makanan sesuai selera masing dan juga untuk menunaikan sholat dzuhur dan asar yang diqasar dan jama’ taqdim.

Sebelum berangkat, peserta di check kembali, ternyata bertambah 3 orang, yaitu 2 juru masak dan 1 peserta karena mereka membawa peralatan masak dan bahan masakan yang tidak muat dikelotok kami yang 2 buah tadi.

Tepat jam 13.00 kami berangkat dengan bus air menuju kota Marabahan sebagai persinggahan pertama, nampak kawan-kawan sibuk dengan celotehnya dan topiknya juga macam-macam mulai dari cerita betapa jayanya perusahaan-perusahaan kayu seperti Barito Pasific, Jayanti Jaya, dll sampai cerita bahwa di alur sungai barito juga banyak perompak. Tapi semua celoteh tadi akhir sunyi senyap , kalah dengan dengan suguhan makan siang nasi salik lauknya ayam yang aku tidak tahu dimasak apa tapi yang jelas enak dengan sambal yang tidak begitu pedas.

Peserta terbagi dua kelompok. Ada yang duduk dengan masing-masing kegaiatannya di dalam bus air dan satu kelompok lagi duduk-duduk di atas atap bus air, dan ini memang yang paling asyik dalam perjalanan lewat sungai karena pemandangan bebas luas sejauh mata memandang tanpa ada halangan.

Dua buah jembatan rangka baja yang besar dengan bentangnya yang panjang yang kami temui yaitu jembatan Barito dan jembatan Rumpiang.

Jam 18.36 kami merapat di dermaga Marabahan, kami kesempatan untuk mandi sore dan sholat magrib dan isya’ di masjid dekat dermaga. Kami sempat minum STMJ di pasar malam di kota marabahan sambil mencari tambahan snack dan lainnya.

Setiap persinggahan peserta tetap di absen, supaya jangan sampai ada peserta yang tertinggal.

Jam 19.45 tepat azan Isya’ berkumandang dan setelah azan selesai , bus air kami meluncur kembali menuju Margasari dalam suasana sungai yang gelap dan hanya nampak kerlipan lampu dari rumah-rumah penduduk ditepian sungai.

Mestinya kami makan malam sesaat setelah bus air berangkat, tapi banyak yang usul agar ditunda dulu karena msih terasa kenyang akibat jajan di pasar malam kota Marabahan, dan akhirnya jadilah makam malam jam 20.45 dengan nasi putih lauk ayam masak merah.

Sebelum makan tadi, Tim kesehatan mulai beraksi dengan buka praktek mengukur tekanan darah, check perut kembung, dll . Aku juga sempat check tekanan darah, ternyata 140/90, kata dokternya “masih aman” dan masih boleh makan sate kambing ’ kalau ada ‘.

Dalam perjalanan menyusuri alur marabahan-margasari kami banyak berpapasan dengan tongkang batubara yang ditarik atau didorong oleh kapal tug-boat yang lampunya terang benderang, bahkan kami sempat singgah di sungai putting tempat batubara di langsir dari truk ke tongkang. Dan kami berangan dan berandai-andai bagaimana setealh perda larangan angkutan batubara dilarang melewati jalan nasional dan jalan propinsi pada Juli 2009 nanti, maka alur marabahan-margasari ini akan semakin padat dan ramai dengan hilir mudiknya tongkang dan tugboat, dan kamipun berangan-angan akan membangun hotel dan restoran terapung yang dapat disinggahi para pekerja batubara.,

Di bawah terangnya cahaya bulan kami menyusur alur ini dan udara yang cukup dingin akhirnya kami sampai di margasari jam 22.15. Sebuah kejutan dan tak pernah terbayang dan terkirakan bahwa kami disambut dengan meriah dan hidangan yang tersaji di atas karpet warna merah diatas lantai dermaga, peserta ekspedisi semuanya langsung menengok dari jendela bahkan ada yang naik naik keatas kapal untuk melihat lebih jelas.

Dalam suasana udara yang dingin disuguhkan the panas dan kopi panas, siapa yang tidak bahagia? Apalagi ditambah ubi goreng dan kacang rebus yang panas pula. Suasananya sangat meriah dan penuh kekeluargaan. Selidik punya selidik, ternyata salah satu peserta ekspedisi mempunyai family di kota margasari ini !!! rupanya sebelumnya sudah saling kontak bahwa rombongan ekspedisi akan singgah di Margasari.

Cukup lama juga kami singgah di Margasari ini, jam 23.16 kembali bus air bergerak menuju persinggahan terakhir yaitu Kota Nagara di Hulu Sungai Selatan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama sekitar hampir 13 jam dan perut juga sudah terisi, terlihat peserta ekspedisi mulai ada yang menguap tanda mengantuk dan akhirnya juga banyak yang tertidur, namun sebagian juga masih banyak yang bertahan tidak tidur, ada yang masih mampu bertahan duduk di atap bus air sampai-sampai juga tertidur di atas atap juga, ada yang duduk diajungan muka.

Tidak banyak yang dapat dilihat dalam perjalanan pada alur ini karena memang sudah jauh tinggi malam dan menjelang tengah malam maka aktivitas sungaipun sunyi senyap.

Jam 03.33 pagi hari Minggu tanggal 16 November 2008 kami merapat di dermaga Kota Nagara, nampak masih sunnyi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan. Kami tetap berada dalam bus air, sampai menjelang subuh dan kehidupan sungai kota Nagara mulai terasa dengan lalu lalang kelotok denga suaranya yang cukup nyaring membangunkan orang yang masih tertidur nyenyak alam buaian mimpi indah.

Setelah matahari pagi mulai menyinarkan cahayanya , peserta mulai mengemas barang-barang bawaannya untuk siap kembali ke Martapura.

Dengan dijembut 2 buah bus perhubungan, 1 pregio, 1 L300 dan 2 buah double cabin dan truck Satpoll PP, rombongan kembali ke Martapura dengan masing-masing membawa kenangan.

Iklan

4 Komentar

  1. whuaaaaaaaaaaa… asyiknya… kapan lagi pak Yus ada yg macam ini?
    kemarin mau nekad mengajukan nama untuk ikut, tapi ragu-ragu.
    sesuai petunjuk tentara, ragu-ragu lebih baik kembali…
    🙄

    *anuuu Pak… saya tak bisa berenang*
    😥

  2. Insya Allah, dengan belajar dari pengalaman ekspedisi pertama ini, akan direncanakan kembali pada jalur yg sama tapi diteruskan sampai ke Kota Amuntai Hulu Sungai Utara. Akan dicari waktu libur yg cukup panjang yaitu 3 hari, misalkan sabtu, minggu dan senin. Masih ada kesempatan berikutnya. Jangan khawatir. Wassalam

  3. pah kpan2 waktu ulun dateng jalan2 kaya gtu juga yah,,

  4. kita cari waktunya yang pas, dan memungkinkan untuk tujuan yang lebih jauh yaitu dari mtp-bjm-marabahan-nagara-amuntai. Tapi pada bulan desember 25,26,27 ada rencana Lomba Lintas Kahung ( cross country) perorangan dan beregu (5 orang/regu) tapi masih akan papah bentuk panitianya. OK don’t worry you will faind it funny and hard work !
    take care.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s