Eks Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zaleha dijadikan apa ?

Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zaleha Martapura, adalah satu-satunya rumah sakit umum di Kabupaten Banjar yang sedang berkembang untuk menjadi rumah sakit tipe B dengan klasifikasi teaching hospital.

Suatu keputusan yang patut diacungi jempol karena jauh melihat ke depan bahwa Martapura akan menjadi kota penyangga Banjarbaru yang dalam waktu dekat akan menjadi Ibukota provinsi Kalimantan Selatan, terbukti bahwa langkah itu sudah berjalan tahapannya, pertama pemprop sudah membeli tanah dan pengumuman Koran bahwa dalam waktu dekat kantor-kantor pemprop di Banjarmasin akan dilelang.

Sebagai ibukota propinsi tentu fasilitasnya juga harus memadai, maka tidak lah salah kalau RSUD Raza menjadi rumah sakit tipe B, kedua di Banjarbaru sudah berdiri dan berjalan menelorkan dokter-dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat maka sudah sepaturnyalah pemkab Banjar menyikapi ini dengan menjadikan rumah sakit umum daerah Raza tempat belajar dan praktek dijadikan praktek para mahasiswa kedokteran unlam. Ketiga, dapat mempersingkat waktu saudara-saudara kita yang sakit dari banua enam, sebab bagi mereka waktu sangat berharga untuk segera mendapatkan pertolongan.

pkm02-copy

Atas dasar itu maka dilakukanlah relokasi RSUD Raza, karena lokasi yang ada sekarang ini sangat tidak memungkinkan untuk menampung kegiatan-kegiatan RSUD Raza yang akan dikembangkan, dan terpilihlah lokasi eks PKM untuk dijadikan RSUD Raza yang baru.

Yang menjadi pertanyaan sekarang !

Akan dijadikan apa areal eks RSUD Raza tersebut ?

exrsuraza

Kalau menurut aku, jadikan lapangan terbuka hijau dengan dikelilingi track untuk jalan kaki dan jogging, dan keliling terluarnya buatkan drainase yang lebar dan dalam agar air cepat turun dari lapangan terbuka hijau. Langgarnya jangan dihilangkan tapi tempatkan disudut belakang lapangan dengan bangunan yang mungil tapi megah bergaya !

Kalau menurut anda akan sebaiknya dijadikan apa ?

Iklan

14 Komentar

  1. Ruang terbuka hijau menarik juga. bukankah Kab. Banjar juga minim ruang publik?
    Selain jadi taman kota dan tempat bersantai, maka disitu juga kalau bisa disediakan titik humap alias hot spot gratis untuk publik, ini yg penting nih, orang banyak bisa internetan gratis…
    🙂

    yang penting asal jangan pasar pak… hehehehe…
    dan antisipasi 1 hal lagi, bahwa setiap ruang terbuka itu biasanya akan mengundang kaki lima, yang jika dibiarkan, pada gilirannya akan mengundang kekumuhan.
    😦

    baidewei..
    Banjarbaru cuma jadi Kota Pusat Pemerintahan Propinsi Kalsel kan Pak? Bukan menjadi Ibukota Propinsi Kalsel. Karena kalau menjadikannya sebagai ibukota propinsi, tentu saja memerlukan perubahan UU pula. Setidaknya itu yg saya rekam dari uraian pihak pemprop. Statuta ibukota propinsi tetap dipegang Banjarmasin.
    yaa.. ini cuma soal status hukum saja sih, yang pasti orangnya bakal numpuk di Banjarbaru.
    🙄

  2. Satu harapan yang sama yaitu jangan jadi pasar lagi, kebanyakan pasar nanti siapa lagi yang “beli toko untuk berdagang” tapi kalau yang beli toko untuk investasi pasti banyak, ini mengakibatkan pasar jadi sunyi senyap tak berpenghuni.
    Oh ya betul ada yang menarik yaitu “humap” ini tambahan yang baru untuk ruang publik, tidak mahal tapi sangat bermanfaat untuk masyarakat umum, baik itu pelajar, mahasiswa, maupun para pedagang. Mohon pertimbangan, di Martapura khan ada lapangan Cahaya Bumi Selamat dimana di dalamnya ada tugu yang tinggi, andaikata di atasnya kita pasang titik hot spot kira-kira radiusnya bisa mencakup sampai berapa meter dari titik tersebut ?
    Wassalam

  3. lapangan Cahaya Bumi Selamat dimana di dalamnya ada tugu yang tinggi, andaikata di atasnya kita pasang titik hot spot kira-kira radiusnya bisa mencakup sampai berapa meter dari titik tersebut ?

    nah.. ini sudah persoalan teknis nih.. Pak… hehehe…

    Pertama, yg harus diperhatikan betul adalah penggunaan perangkat yang memang untuk outdoor, jika ingin maksimal, walau pada dasarnya perangkat indoor juga bisa digunakan.

    Usul saya Pak, kalau hanya ingin mengcover area yang tidak terlalu luas, yakni lingkup lapangan Cahaya Bumi Selamat, dan ruang terbuka hijau idaman itu, tidak masalah hanya menggunakan 1 buah antenna omni (bukaan 360 derajat), namun saya tidak suka (-secara teknis) jika hal yang sama digunakan untuk covered area yang jauh lebih luas, maka saya lebih merekomendasikan 3 x antenna directional @ 120 derajat. Analogi sederhana untuk alasan teknisnya adalah debit air Pak…

    Sebagai contoh, perangkat yg kami pasang di lapangan Murdjani pada dasarnya di setting untuk jarak 7 km udara, dan hanya dengan bukaan 110 derajat.

    perangkat sangat banyak pilihan, apalagi jika tidak ingin mengcover area yg sangat luas. cuma memang tetap harus memperhatikan kualitas dan beberapa hal lainnya.

    kayaknya ini dulu Pak.. sisanya nanti, kalau saya ingat…
    😦

  4. ok terima kasih masukannya, semoga menjadi alternatif untuk dilaksanakan. wass

  5. setujuuuuuu sekali pak., dan nanti nya bisa di gunakan untuk apel gabungan atau apel peringatan hari besar lain nya… soal y di depan kantor bupati kekecilan…

  6. Tolong do’a, semoga dalam waktu dekat, tahap pertamanya adalah pembongkaran yang masih menunggu persetujuan DPRD sebagai penghapusan asset daerah terlebih dahulu. wass

  7. Kota yang ideal seyogyanya mempunyai areal bukaan yang cukup, dimana areal yang difungsikan akan memberi nilai tambah bagi masyarakatnya. Selain itu yang lebih penting adalah areal bukaan dapat menyelematkan ekosistem saat ini sampai waktu mendatang. Banyak pembuat kebijakan masih berfikir jesaat/jangka pendek yang sebenarnya justru akan merugikan kita jika diimplementasikan secara permanen. Menurut saya hal lebih bijak jika orientasi sebuah pemikiran harus bermakna dalam waktu dan kurun waktu yang sangat panjang. Selamatkan bumi kita dengan selalu mengedapankan kepentingan publik dalam jangka panjang, sebab tanpa disadari kita semua termasuk dalam kategori perusak alam dan ekosistem tanpa kita sendiri menyadari. Terakhir berbuatlah yang baik untuk menuju perubahan walau itu hanya sebiji sawi.

  8. Sependapat bahwa agar kita selalu mengedepankan kepentingan publik dalam jangka panjang, untuk itu sudah sepatutnya kita mendengar suara-suara publik terhadap sesuatu yang akan kita laksanakan ke depan, dan apabila suara-suara publik tersebut terkumpul dan kita cari intisarinya dengan penyaringan hati nurani yang bersih dan didasarkan kepada menjaga keberlangsungan hidup manusia yang ideal yang alami dimasa yang akan datang. Wassalam

  9. Masukan saya, bagai mana kalo Lahan Eks RSU Ratu Zalecha di titik beratkan pada lapangan terbuka untuk menampung dan mengakomodir kegiatan2 formal baik non formal dengan menggambungkan unsur pendidikan,olah raga dan entertain. Misalkan ditengah2 merupakan lap. hijau untuk Upacara ato utk Acara-acara informal seperti untuk senam bersama, pameran, MTQ maupun kegiatan lainnya, t’rus di sekelilingnya dibuatkan Joging Track, sdgkan dibelakang lap.hijau menghadap Jl.A.Yani dibuatkan pendopo ato panggung Hiburan yg jg bisa digunakan utk Tribun VIP ketika kita menggelar kegiatan besar. Dan salah satu yg sangat penting adalah penghijauan. Sebaiknya ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang rindang seperti yang ada di kawasan Pasar Batuah Martapura, selain efektif untuk penyaring gas karbon juga dapat memaksimalkan penyerap air yang tergenang dilapangan hijau. Ok dah.. segitu aja dulu.. semoga impian menjadi kenyataan….

  10. Masukan yang lebih lengkap yg aku kerima ini akan lebih memperkaya perencanaan kami, sebagai informasi saat ini sedang proses penghapusan asset bangunan di atasnya di DPRD, setelah selesai administrasi penghapusan aset akan dilanjutkan dengan landclearing. Wassalam

  11. ya, saya setuju dibuat ruang publik kalau perlu ditambah tempat bermain anak yang lengkap, sehingga menjadi hiburan bagi orang tua yang mempunyai anak kecil pada sore hari atau hari libur, mohon kunjungi juga blog saya, trima kasih

  12. Terima masukannya untuk memperkaya alternatif khazanah sarana yg akan direncanakan. Wassalam

  13. sebenarnya semua sudah disebutkan pak…..tapi ada yang kurang….fasilitas umumnya yaitu MCK atau toilet, karena kalo ke CBS agak jauh dan juga kwalahan buat warga CBS dan pengunjung CBS sendiri. Saya pernah liat di alun-alun Kota Malang yang mengemas toiletnya dengan bentuk gerbong kereta api….antik !! Sarana bermain udah ada di CBS…tapi yang seharusnya di CBS belum ada saya temui yaitu Peta Wisata, Brosur Wisata dan Gardu informasi Wisata serta taman baca…yang ada malah pos ngendonnya petugas DLLAJR yang malas kepanasan…. Semoga Bapak tetap bisa berperan aktif di penataan wilayah Kabupaten Banjar, amiin….

  14. Wah cocok itu …….. Peta wisata, brosur wisata, dan gardu informasi serta taman baca !


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s