Sudah adakah Desa Mandiri Energi di Kalsel ?

Pada hari kedua kunjungan kerjanya ke Provinsi Jateng, Presiden SBY dan Ibu Negara hari Rabu (21/2) mengunjungi Desa Mandiri Energi di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan. Kata Presiden, konsep Desa Mandiri Energi ini akan dibangun di seluruh tanah air.

Sangat beralasan kenapa Presiden berkata seperti diatas karena memang latar belakang konsep Desa Mandiri Energi ini (DME) merupakan salah satu program untuk pemenuhan kebutuhan energinya sendiri, penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan di desa-desa tertinggal, dengan mendorong kemampuan masyarakat setempat. Sasaran program ini salah satunya adalah melepaskan ketergantungan masyarakat desa terhadap BBM, utamanya minyak tanah. Program pengembangan Desa Mandiri Energi ini dilaksanakan secara bertahap, dimulai dengan prioritas desa binaan yang saat ini dikembangkan beberapa kabuapaten/kota, departemen, BUMN dan pihak swasta.

Sementara ini ini di desa desa banyak tergantung dengan minyak tanah, dan sementara itu pula sudah ada teknologi untuk mencari substitusinya yaitu bahan bakar nabati dan kalau tidak ada listrik dari PLN atau belum masuk jaringan PLN karena lokasi yang jauh dan tidak menguntungkan secara ekonomis bagi PLN, maka desa dapat membangun PLTMH atau PLTS sendiri.

Pengembangan Tanaman penghasil Bahan Bakar Nabati (BBN) didasarkan kepada: 1). Peraturan Presiden RI nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, antara lain menyebutkan bahwa penyediaan biofuel pada tahun 2025 minimal 5 % dari kebutuhan energi nasional. 2). Instruksi Presiden No. 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel), antara lain menyebutkan bahwa Menteri Pertanian RI mendapatkan tugas untuk: (1) mendorong penyediaan tanaman bahan bakar nabati (biofuel), (2) melakukan penyuluhan pengembangan tanaman bahan baku bahan bakar nabati (biofuel), (3) memfasilitisasi penyediaan benih dan bibit tanaman bahan baku bahan bakar nabati (biofuel), dan (4) mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan kegiatan pasca panen tanaman bahan baku bahan bakar nabati.

Arah kebijakan pengembangan tanaman penghasil biofuel adalah tersedianya energi alternatif dari biofuel secara berkelanjutan, terdesentralisasi dan terintegrasi antara kegiatan on farm dan off farm, melalui pemanfaatan sumber daya yang efisien yang didukung dengan kemampuan iptek. Untuk itu, kebijakan pengembangan penyediaan tanaman penghasil biofuel yang ditempuh adalah: (1) Penyediaan Bahan Baku dan Pengembangan Tanaman dilakukan pada wilayah yang secara teknis sesuai untuk pengembangan tanaman penghasil biofuel dan dilakukan utamanya oleh petani pekebun, (2) Penyuluhan dan Sosialisasi penyediaan dan penggunaan kepada seluruh stakeholder terkait mencakup aspek teknis, ekonomis dan sosial melalui berbagai media, termasuk pelatihan dan pendampingan; (3) Penyediaan Bahan Tanaman unggul, yang telah teruji, terdukung dengan rakitan teknologinya serta tingkat adaptabilitasnya dan: (4) Pengelolaan Pasca Panen dan Pengolahan Hasil yang memberikan nilai tambah sebesar-besarnya kepada petani pekebun. Untuk itu, pengolahan sampai menghasilkan bahan baku diarahkan dilakukan di tingkat petani atau kelompok tani/koperasi.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s