Haruskah wajib belajar 12 tahun ?

Integrated efficiency on education, sebuah pokok pikiran yang menggelitik kita terhadap kebijakan pemerintah saat ini khususnya tentang “wajib belajar 12 tahun”. 12 tahun adalah satuan waktu yang teralokasi untuk menyelesaikan jenjang pendidikan SD/MI selama 6 tahun, jenjang pendidikan SMP/MTs selama 3 tahun dan jenjang pendidikan SMA/MA selama 3 tahun.

Selama 12 tahun dapat dihitung besarnya investasi yang harus  dikeluarkan oleh masyarakat dan pemerintah,  dari sisi masyarakat yang harus dibelanjakan  adalah untuk SPP, uang buku, uang praktikum, uang jajan, uang transport dan uang sumbangan-sumbangan lainnya. Dari sisi pemerintah lebih banyak lagi yanag harus dibelanjakan mulai dari penyediaan sarana prasarana pendidikaan seperti ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, perpustakaan, laboratorium, lapangan olah raga, dll; tenaga pendidik, pengawas, pegawai tata usaha, penjaga sekolah, gaji guru, dan gaji-gaji karyawan selaian guru, biaya operasional sekolah, dan banyak biaya biaya lainnya yang mungkin akan banyak memenuhi halaman ini bila ditulis semuanya. Kesimpulannya adalah tidak sedikit biaya yanag harus dibelanjakan oleh pemerintaha dan masyarakat untuk dunia pendidikan wajar 12 tahun ini.

Sudah seharusnya kita (masyarakat dan pemerintah) mulai memikirkan efisiensi terintegrasi dalam dunia pendidikan khususnya untuk wajar 12 tahun ini. Untuk memenuhi efisiensi terintegrasi ini dapat   kita pertimbangan 5 aspek efisiensi(Prof. DR. H. Suroso Imam Zadjuli, SE), antara lain adalah 1). Efisiensi waktu, kenapa harus 12 tahun diselesaikan untuk SD,SMP/Mts, dan SMA/MA kalau bisa  diperpendek , misalnya SD cukup 5 tahun, SMP dan SMA  masing-masing 2 tahun, jadi secara keseluruhan hanya 9 tahun. 2). Efisiensi Ruang, kenapa harus banyak-banyak membangun unit sekolah baru kalau kita bisa menciptakan system pendidikan yang memungkinkan siswa sekolah tidak beraada dalam ruang kelas. 3). Efisiensi pemakaian otak/pikiran, mungkin sebaiknya ditinjau kembali tentang kurikulum yang ada dan jumlah mata pelajarannya; 4). Efisiensi Manajemen, dalam lingkungan sekolah ataupun dalam lingkungan pengelola pendidikan pada lingkup pemerintahan baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota maupun tingkat kecamatan; dan 5). Efisiensi finansial, pembiayaan pendidikan juga harus ditinjau kembali terutama komponen biaya operasional pendidikan per siswa per tahun.

Kepada kawan-kawan dengan latar belakang pendidikan ataupun bukan namun memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan, kami harapkan dapat member i masukan dan pendapat tentang efisiensi pendidikan yang terintegrasi dari 5 aspek tadi.                            

Iklan

2 Komentar

  1. Konsep yang dilemparkan prof suroso merupakan ide yang cukup berani ditengah belum mampunya pemerintah menyediakan kuantitas dan kualitas pendidikan yang merata dan berkeadilan.
    Dalam konteks ekonomi saya sepakat bahwa 5 konsep efisiensi di dunia pendidikan tersebut cukup baik. Namun, belum layak menjadi sebuah kebijakan publik 5 atau 10 tahun mendatang. Mengapa? konsep tsb sudah merupakan grand design of education policy, artinya perlu ada tahapan kebijakan publik sebelum dan sesudah kebijakan itu dilaksanakan. Tahapan kebijakan dimaksud adalah persiapan infra dan suprastruktur pendidikan, membangun komitmen para stakeholders, analisis dampak psikologi, sosial dan kultur. Sehingga jangan sampai alasan ekonomi dengan nama efisiensi, kualitas pendidikan yang merata dan berkeadilan semakin dijauhkan.
    Tapi bagaimanapun ide ini cukup cemerlang ditengah makin sedikitnya pemerhati dunia pendidikan saat ini yang berpikiran ideal bukan bisnis.

  2. 5 atau 10 tahun mendatang bukanlah waktu yang lama, hanya 1 atau 2 periode kepemimpinan yang hanya sekejap berlalu, mari kita tanamkan grand design of education policy ini pada setiap orang dan mudah-mudahan menjadi konsep yang dijual dalam setiap pemilihan pimpinan negara, propinsi serta kabupaten/kota. Seperti Singapura yang membangun bangsanya selama 30 tahun melalui dunia pendidikan sehingga dapat menempatkan negaranya berhadapan dengan dengan USA, Eropa dan Jepang serta negara-negara maju lainnya. Tahap awal disempurnakannya kindergarden/Taman Kanak-kanak/PAUD, setelah setelah baru diterukan ketingkat pendidikan dasar, kemudian baru menengah atas dan terakhir sampai sekarang menempatkan universitas-uversitasnya sebagai universitas besar dunia. Semoga hayalan kita juga menjadi hayalan pemimpin-pemimpin kita. Amin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s