Dadahup, the Fishing Field

DSC00081

Jum’at pagi jam 09.00 tanggal 15 Mei 2009, aku bersama-sama dengan kawan-kawan mulai melakukan persiapan untuk melakukan perburuan ikan papuyu dan haruan (ikan gabus) yang menurut khabar berita ukuran besarnya diatas normal. Target lokasi  Dadahup-Palingkau Provinsi Kalimantan Tengah.

Nampaknya masing-masing mempersiapkan segala peralatan dan sarana pendukung sesuai dengan pengalaman masing-masing selama ini.

Aku sendiri juga melakukan persiapan pada pagi dan siang antara lain :

  1. Menyiapkan kawat pancing ukuran/no.12 dengan nilon (fishingline) diameter 0,30 mm kekuataan tarik 21 lbs, diberi timah pemberat supaya cepat mencapai dasar sungai atau danau sebab kalau lambat mencapai dasar sungai maka umpan akan diserbu ikan-ikan kecil atau ikan yang bermulut kecil seperti jenis sepat, sepat siam, patung, dll. Untuk lebih sempurna biasanya kuberi pelampung agar disaat umpan disambar ikan maka akan terlihat pelampungnya tertarik kedalam air sehingga kita cepat dapat bereaksi. Namun ada juga sebagian yang tidak terbiasa menggunakan pelampung, jadi polos saja !!  Untuk keberangkatan kali ini kubuat 6 set cadangan dan 2 terpasang pada stick (tantaran/ilasan).
  2. Beli umpan 6 biji ulat bumbung dan anak tabuan 2 keping.
  3. Stick (tantaran/ilasan/joran) 2 unit , panjang 3,6 m dan 4,5 m.
  4. Kurungan ikan, kali ini aku membawa tas dari anyaman purun (nama lokalnya bakul purun karena terbuat dari tanaman purun yang dikeringkan dan dianyam) sebanyak 2 buah, sebuah khusus untuk papuyu dan sebuah untuk haruan. Keuntungannya banyak memakai bakul purun ini, antara lain kulit ikan tidak rusak dan bisa direndam dalam air serta harganya murah dan tahan lama.
  5. Menyiakan stock kawat berbagai ukuran, nilon, timah, stopper, pelampung serta peralatan pendukung lainnya.
  6. Umpan untuk sang pemancing . . . . kali ini aku memilih membawa roti keju karena faktor kepraktisan saja dan minuman botol Nu Green Tea 500 ml ukuran tanggung.

Sorenya aku memeriksa kondisi mobil untuk meyakinkan saja supaya keberangkatan ke dadahup ini lancar tidak terhambat karena mobil angkutan.
Tepat jam 01.00 malam Sabtu mulai meluncur dari bincau untuk menjemput rombongan, sehingga baru jam 01.30 rombongan lengkap dan berangkat meninggalkan kota Martapura.

Karena masih malam hari, jalanan Martapura Banjarmasin masih lengang kecuali truk-truk batu bara dan sesekali mobil klas minivan dan sedang melintas berpapasan, sehingga mobil kami melaju tanpa hambatan yang berarti. Kira-kira jam 02.00 kami sudah sampai di lampu merah Gatot Subroto, sebelumnya direncanakan lewat jalan pintas Km 17 tapi aku ingat bahwa jalan tersebut sedang dalam peningkatan kualitas alias ada pekerjaan peningkatan. Akhirnya diputuskan lewat Jl. Gatot subroto menuju Bundaran Kayutangi Banjarmasin.

Sampai di jembatan kayu tangi ujung mobil masih melaju lancar sampai jembatan Barito yang panjang bentangnya 1.040 meter yang berada di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Naah . . .sejak melintas jembatan Barito ini mobil mulai melambat kecepatannya bukan karena drivernya ngantuk tapi karena jalannya rusak berat, lapis permukaan hilang artinya sisa perkerasan saja dan banyak kubangan dan lubang yang besar padahal statusnya adalah jalan Nasional atau jalan Negara.  Tapi begitu memasuki Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah . . . wow . . . jalannya mulus, entah itu ATB atau HRS tapi yang jelas hitam mulus walaupun belum ada garis pembatas jalannya.

Mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi sehingga tanpa terasa sudah sampai di bundaran Kota Kapuas, kalau terus akan sampai ke Palangka Raya tapi kami belok kanan menuju Palingkau, jalannyapun masih mulus hanya ada beberapa jembatan kayu yang lantai maupun railbannya yang rusak tapi tidak menjadi masalah.

Akhirnya kami sampai di Palingkau jam 03.30 pagi, hari masih gelap tapi pasar Palingkau terang benderang bercahaya, bukan karena lampu penerangan jalan tapi dari warung-warung yang buka dan berjualan makanan minuman dan lain-lain.

Suatu pemandangan yang unik, yang menjadi pelanggan warung-warung tersebut bukan seperti di jalan A. Yani antara Martapura sampai Binuang yang warungnya  terang benderang ditepi jalan dan banyak truk truk batubara parkir, tapi warung ini terang benderang  dan yang parkir adalah kendaraan roda 2 dan mobil-mobil pick-up maupun mpv yang semuanya berisi para pemancing baik yang amatir mapun profesional. Merekalah yang duduk-duduk mengisi warung tersebut sambil menunggu subuh dan fajar pagi menyingsing.

Pemancing amatir seperti kami . . . beda dengan pemacing profesional, pemancing profesional yang nampak tegar dan penuh semangat dengan peralatan yang sangat sederhana serba tradisional, contohnya adalah stick mereka adalah asli dari pering/paring yang dikeringkan ( dalam bahasa Banjar: dikadang), umpannyapun tidak beli cukup dengan cacing dan anak kodok (cirat) khusus untuk memancing ikan haruan. Tapi kalau nanti dibandingkan perolehannya . . . ha ha ha jangan ditanya !!!  . . . . . pasti lebih banyak mereka !!! Walaupun kami juga tegar dan penuh semangat!!  Yang membedakan lagi kami dengan pemancing profesional, adalah hasil pancingan kami, kami bawa pulang untuk dimakan sedang pemancing profesioal, hasilnya sebagian besar dijual dan dibawa pulang sekedarnya untuk lauk makan keluarga dirumah.

Tepat jam 04.15 kami melanjutkan perjalan ke Dadahup, waktu tempuh cukup lama sekitar 1 jam 15 menit, sebab walaupun jalannya mulus tapi jembatannya banyak yang rusak bahkan lantainya banyak yang jebol dan dilapis dengan batang pohon kelapa.

Disaat fajar pagi mulai terlihat kami sampai di dermaga Dadahup, kelotok sudah siap menunggu untuk mengantarkan kami kelokasi  alam berupa bekas kerokan atau bekas jalur transportasi kayu.

Dengan sedikit tergesa kami memindah perlengkapan dari mobil ke dalam kelotok, kelotoknya sebetulnya adalah jukung tiung yang besar yang biasa dipergunakan untuk mengangkut barang atau kayu, jadi tanpa atap dan lantai kecuali sedikit didekat  kemudi yang berlantai dan beratap.

Image009

Sepoi  angin pagi yang dingin  sejuk menyegarkan menerpa tubuh dan wajah kami, yang menyebabkan mata menjadi ngantuk dan memang akhirnya da juga beberapa orang dari kami yang tertidur. Nampak dikiri kanan sungai pohon-pohon bakau dan rambai padi yang lebat dan rimbun menghiasi bibir sungai dan yang khas lagi adalah gumpalan kelompok tanaman air enceng gondok (ilung dalam bahasa Banjar) baik besar maupun kecil nampak mengapung dipermukaan air mengikuti gerak arus air dan bahkan menurut informasi pemilik kelotok bahwa disungai yang kami lalui ini masih banyak berkeliaran buaya-buaya sungai baik yang moncong panjang (buaya sapit dalam istilah lokal) dan buaya biasa ( buaya kodok dalam istilah lokal). Masih menurut informasi pemilik kelotok , kata orang tuanya sungai yang kami lalui ini dulunya bukan sungai melainkan adalah saluran yang digali oleh pemerintah pada tahun 1954 yang menghubungkan antara sungai Barito dan sungai Kapuas dimana dari tahun ke tahun karena tergerus air dan erosi  maka akhirnya menjadi persis seperti sungai alam yang dalam dan lebar.

Image012

Image013

Dikiri kanan sungai nampak cabang-cabang sungai kecil dan menurut pendapatku sebetulnya adalah saluran pengglontor untuk menurunkan kadar asam air dan FeO2 yang ada pada sawah-sawah dan rawa masyarakat, dengan pola pasang surut. Adapun dimensinya rata-rata lebar 6 meter den gan kedalaman 2 meter.

Akhirnya perjalanan melintas sungai kami berakhir dimuara sungai/saluran yang kami tuju, kami disambut pemilik saluran tersebut dengan senyum dan sapaan khas mereka dalam bahasa bakumpai sebab yang bersahabat dengan pemilik saluran adalah pemilik kelotok dan salah seorang anggota rombongan kami.

Saluran/sungai di Dadahup ini punya ke khasan tersendiri, artinya ada yang bebas siapa saja boleh memancing, namun ada juga yang dipungut biaya sekedar untuk biaya pemeliharaan dan menjaga  serta membersihkan lokasi agar mudah memancing.

Begitu kelotok merapat ke tebing, dengan semangat 45 masing-masing menurunkan perlengkapannya dan tanpa babibu lansung bergerak mencari lokasi lokasi strategis untuk memancing. Memang bukan isapan jempol dan terbukti, tidak berhitung menit begitu pancing digelar langsung disambar ikan . . . fantastik !!!  Haruan 9 ons yang menyambar umpan pancing, tidak berapa lama yang lain juga disambar ikan baik itu haruan maupun papuyu  dengan standar ukuran ubaran (ubaran adalah ukuran pepuyu yang dibakar dengan berat 1,5 ons ke atas).

Ikan banyak , nyamuk banyak . . . . . . .tapi dapat diatasi dengan autan, atau saking asyiknya gigitan nyamuk kurang terasa lagi, kalau dalam bahasa Banjar  “kada kasisitan”.

Image016Image017

Tiada pesta yang tak usai, . . . . dengan wajah dan perasaan masih ingin terus memancing tapi waktu jua yang mengakhirinya karena sudah perjanjian dengan pemilik kelotok bahwa dijemput jam 15.30 sore. Masing-masing membawa ikan hasil pancingan minimal 2 kilogram dari berbagai jenis ikan yang didapat.

Pulangnya kami diiringi hujan dipertengahan jalan di kelotok menuju dermaga Dadahup, jam 16.30 kami meluncur pulang ke Martapura dan masih hujan lebat sampai di Banjarmasin, alhamdulillah dari Banjarmasin menuju  Martapura hujan telah reda dan jalan raya nampak ramai sekali lalulintasnya, ternyata malam kami pulang adalah malam minggu !!

Jam 21.30 sampailah kami di Martapura dengan sebuah harapan kapan ada waktu dan kesempatan kembali ke Dadahup.

Iklan

Keutamaan Hari SENIN

17092006033Senin, adalah nama hari pertama dalam setiap minggu, pada umumnya juga hari pertama diawal minggu bagi semua orang yang bekerja setelah libur sabtu minggu atau minggu saja. Biasanya pada hari Senin semua pekerja nampak fresh, nampak penuh semangat menatap hari depan, para PNS pada hari senin pada umumnya di setiap kantor pasti melaksanakan upacara bahkan ada kabupaten/kota atau provinsi yang melaksanakan apel gabungan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Nampaknya hari Senin adalah hari yang patut untuk menjadi perhatian kita, bahkan hari Senin bagi umat Islam dianggap sebagai hari yang baik karena pada hari itu Nabi Besar Muhammad saw dilahirkan dari rahim ibunya yang bernama Aminah, dan pada hari itu juga kitab suci AL Qur’an diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad swa.

Hari Senin, (dan hari Kamis juga) adalah jadwal semua amal perbuatan kita dibukukan dan diangkat ke langit, maka perbanyaklah kebaikan pada hari senin itu seperti puasa sunat, dan lain-lain.

Pada hari Senin pula ( dan hari Kamis juga) semua pintu ampunan dibuka lebar-lebar oleh Allah swt.

So . . . . manfaatkanlah semaksimal mungkin hari senin itu , sebagaimana keutamaan-keutamaannya tersebut.

Sang PUNAKAWAN

punakawan1

Semar dalam tugas pendampingannya di dunia manusia, mendapat bantuan dari anak-anaknya, yang mereka berempat beranak ini dikenal dengan istilah punakawan. Dalam pakem aslinya wayang purwa tidak dikenal istilah atau adanya punakawan ini, namun di pewayangan Indonesia berkembang dan beradaptasi dengan budaya lokal.

Semar yang sebenarnya adalah Batara Ismaya, didampingi oleh anaknya yang pertama bernama Nala Gareng, yang kedua Petruk dan yang bungsu adalah Bagong. Semar sebagaimana kita maklumi adalah pendamping para ksatria dalam pembentukan dan penempaan diri, yang memberikan pendapat diminta atau tidak diminta, memberi nasehat dan pertimbangan, memberi bimbingan kearah kebaikan, dan bahkan kadang sebagai pelipur lara dan penyejuk hati para ksatria. Begitu juga Nala Gareng, dia banyak teman dan menjaga silaturahmi, Petruk tidak kalah kelebihannya dengan Nala gareng, dia kantongnya berlubang besar, tidak pernah ada uang dalam kantongnya, sebuah perlambang bahwa dia tidak pernah memiliki harta, semua dia dermakan dan dia hanya memiliki Sang Hyang Wanang.  Dan yang terakhir juga punya kelebihan tersendiri, Bagong tidak dapat melihat kebathilan dan angkara murka, langsung dilabrak untuk dihancurkan.

Semua itu dalam pewayangan adalah pelajaran bagi kita, bahwa disaat kita mengarungi hutan belantara kehidupan yang penuh dengan jebakan dan  dan binatang buas yang setiap saat menerkam dan memangsa, maka isilah hidup kita dengan watak dan sifat para punakawan tadi.

Tiga Bersaudara Putra Sang Hyang Wanang

semar11togogbatara-guru

Dalam jagat pewayangan zaman dahulu kala hingga sekarang , dikenal Sang Hyang Tunggal atau dikenal juga dengan Sang Hyang Wanang sebagai penguasa jagat raya ini, dia mempunyai tiga orang putra, yang tertua Batara Ismaya atau lebih dikenal sebagai Semar , kemudian adiknya terkenal dengan nama Togog, dan yang bungsu Batara Manikmaya atau mashur dengan nama Batara Guru. Sampai pada suatu masa Sang Hyang Wanang ingin memberikan kekuasan akan alam mayapada ini kepada salah satu dari ketiga anaknya tadi, tapi dengan suatu syarat siapa yang paling sakti diantara ketiganya.

Pertandingan kesaktiannya adalah siapa yang mampu menelan bulan purnama, putra pertama nampaknya tidak sabar dan sedikit tergesa-gesa walaupun mampu menelan bulan purnama tapi tidak sempurna sehingga nampak perut dan pantatnya bulat membesar seperti bulatnya bulan purnama, sebagaimana penampilan Semar sekarang ini. Putra yang keduapun tidak jauh beda, juga tidak sabar dan sangat memaksakan diri, memang mampu juga menelannya tapi terpaksa mulut dan rahang membesar sebagaimana tampilan Togog sekarang ini. Dan yang paling bungsu nampaknya yang sabar dan telaten serta hati-hati dan nampaknya dialah yang paling sempurna menelan bulan purnama tersebut.

Akhirnya terpilihlah Batara Manikmaya menjadi penguasa alam mayapada ini dengan dibantu anak-anaknya berbagai macam dewa yang mengatur berbagai macam alam mayapada ini seperti pengaturan angin diserahkan kepada Dewa Bayu, pengaturan api diserahkan kepada Dewa Agni, dst.

Adapun Semar dan Togog turun ke mayapada menjalankan tugasnya masing-masing, mereka diperintahkan untuk turun ke alam mayapada untuk membimbing para ksatria di alam dunia. Semar membimbing ksatria yang berwatak dasar baik, Togog membimbing para ksatria yang berwatak dasar jahat.

Meskipun mendapat tugas untuk membimbing para ksatria yang berwatak dasar jahat, bukan berarti Togog selalu mendukung sikap perbuatan para ksatria itu. Ia tetap bertanggungjawab untuk mengarahkan ksatria jahat itu ke arah kebaikan.

Kresna lambang kebijaksanaan

kresna_ensik

Kresna, adalah sepupu dari para  Pandawa dan Korawa, dan bersahabat dekat dengan Pandawa, dimasa kecilnya Kresna adalah seorang penggembala yang tumbuh dewasa lengkap dengan segala kesaktiannya dan kebijaksanaannya. Dimasa dewasa karena akrab dan juga karena kebijaksanaannya maka dia menjadi penasehat para Pandawa. Dimasa sekarang Kresna dijadikan lambang kebijaksanaan. Adapun Kresna terkenal dengan berbagai nama panggilan, antara lain :

  1. Achyuta (Acyuta, yang tak pernah gagal)
  2. Arisudana (penghancur musuh)
  3. Bhagavān (Bhagawan, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa)
  4. Gopāla (Gopaala, Pengembala sapi)
  5. Govinda (Gowinda, yang memberi kebahagiaan pada indria-indria)
  6. Hrishikesa (Hri-sikesa, penguasa indria)
  7. Janardana (juru selamat umat manusia)
  8. Kesava (Kesawa, yang berambut indah)
  9. Kesinishūdana (Kesini-sudana, pembunuh raksasa Kesin)
  10. Mādhava (Madawa, suami Dewi Laksmi)
  11. Madhusūdana (Madu-sudana, penakluk raksasa Madhu)
  12. Mahābāhu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)
  13. Mahāyogi (Maha-yogi, rohaniawan besar)
  14. Purushottama (Purusa-utama, manusia utama, yang berkepribadian paling baik)
  15. Varshneya (Warsneya, keturunan wangsa Wresni)
  16. Vāsudeva (Waasudewa, putera Basudewa)
  17. Vishnu (Wisnu, penitisan Batara Wisnu)
  18. Yādava (Yaadawa, keturunan dinasti Yadu)
  19. Yogesvara (Yoga-iswara, penguasa segala kekuatan batin)

Disaat saat genting dimana terjadi sengketa antara Pandawa dan Korawa, terjadilahan kegelisahan dan kegalauan hati para Pandawa dalam menghadapi rencana peperangan melawan Korawa, bagaimana tidak gelisah dan galau kalau yang akan diperangi, dihancurkan dan mungkin dimusnahkan adalah saudara sendiri, sepupu sendiri dan teman sepermainan disaat saat tumbuh bersama sejak kecil hingga menjadi dewasa. Kresna sebagai sahabat dan penasehat memberikan pandangan kepada para Pandawa dalam sebuah dialog yang cukup panjang yang terkenal dengan bhagawatgita , dialog ini memberikan pandangan dan membulatkan tekad para Pandawa serta meluruskan niat peperangan yang akan dihadapi dimana perang bukanlah menyalurkan amarah, bukanlah sebagai tempat balas dendam dan bukan pula sebagai pelampiasan angkara murka. Mari kita lihat dan selami beberapa kalimat dialog tersebut, seperti :

Kapan pun kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itu Aku turun menjelma, wahai keturunan Bharata (Arjuna)

Untuk menyelamatkan orang saleh dan membinasakan orang jahat, dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman

O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk

Wahai Arjuna, di antara semua pendeta, ketahuilah bahwa Aku adalah Brihaspati, pemimpinnya. Di antara para panglima, Aku adalah Kartikeya, dan di antara segala sumber air, Aku adalah lautan

Di antara para Detya, Aku adalah Prahlada, yang berbakti dengan setia. Di antara segala penakluk, Aku adalah waktu. Di antara segala hewan, Aku adalah singa, dan di antara para burung, Aku adalah Garuda.

Di antara segala penipu, Aku adalah penjudi. Aku adalah kemulian dari segala sesuatu yang mulia. Aku adalah kejayaan, Aku adalah petualangan, dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat

Di antara keturunan Wresni, Aku ini Kresna. Di antara Panca Pandawa, Aku adalah Arjuna. Di antara para Resi, Aku adalah Wyasa. Di antara para ahli pikir yang mulia, aku adalah Usana.

Mahabharata (saduran)

pandawa_putih1

Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.

Para Raja India Kuno

Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.

Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2]. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.

Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.

Prabu Santanu dan keturunannya

Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti dan memiliki tiga orang putera bernama Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madri, dan memiliki putera kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata.

Pandawa dan Korawa

Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.

Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.

Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Arjuna mewakili para Pandawa untuk memenangkan sayembara dan ia berhasil melakukannya. Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.

Permainan daduAgar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira secara perlahan namun pasti, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Yudistira yang gemar main dadu tidka menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura dengan harapan dapat merebut harta dan istana milik Duryodana. Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Satu persatu kekayaan Yudistira jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara dan istrinya sendiri. Dalam peristiwa tersebut, pakaian Dropadi berusaha ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna. Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.

Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus menyerahkan kerajaan dan mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.

Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.

Pertempuran di Kurukshetra

Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi.

Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.

Penerus Wangsa Kuru

Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.