Dadahup, the Fishing Field

DSC00081

Jum’at pagi jam 09.00 tanggal 15 Mei 2009, aku bersama-sama dengan kawan-kawan mulai melakukan persiapan untuk melakukan perburuan ikan papuyu dan haruan (ikan gabus) yang menurut khabar berita ukuran besarnya diatas normal. Target lokasi  Dadahup-Palingkau Provinsi Kalimantan Tengah.

Nampaknya masing-masing mempersiapkan segala peralatan dan sarana pendukung sesuai dengan pengalaman masing-masing selama ini.

Aku sendiri juga melakukan persiapan pada pagi dan siang antara lain :

  1. Menyiapkan kawat pancing ukuran/no.12 dengan nilon (fishingline) diameter 0,30 mm kekuataan tarik 21 lbs, diberi timah pemberat supaya cepat mencapai dasar sungai atau danau sebab kalau lambat mencapai dasar sungai maka umpan akan diserbu ikan-ikan kecil atau ikan yang bermulut kecil seperti jenis sepat, sepat siam, patung, dll. Untuk lebih sempurna biasanya kuberi pelampung agar disaat umpan disambar ikan maka akan terlihat pelampungnya tertarik kedalam air sehingga kita cepat dapat bereaksi. Namun ada juga sebagian yang tidak terbiasa menggunakan pelampung, jadi polos saja !!  Untuk keberangkatan kali ini kubuat 6 set cadangan dan 2 terpasang pada stick (tantaran/ilasan).
  2. Beli umpan 6 biji ulat bumbung dan anak tabuan 2 keping.
  3. Stick (tantaran/ilasan/joran) 2 unit , panjang 3,6 m dan 4,5 m.
  4. Kurungan ikan, kali ini aku membawa tas dari anyaman purun (nama lokalnya bakul purun karena terbuat dari tanaman purun yang dikeringkan dan dianyam) sebanyak 2 buah, sebuah khusus untuk papuyu dan sebuah untuk haruan. Keuntungannya banyak memakai bakul purun ini, antara lain kulit ikan tidak rusak dan bisa direndam dalam air serta harganya murah dan tahan lama.
  5. Menyiakan stock kawat berbagai ukuran, nilon, timah, stopper, pelampung serta peralatan pendukung lainnya.
  6. Umpan untuk sang pemancing . . . . kali ini aku memilih membawa roti keju karena faktor kepraktisan saja dan minuman botol Nu Green Tea 500 ml ukuran tanggung.

Sorenya aku memeriksa kondisi mobil untuk meyakinkan saja supaya keberangkatan ke dadahup ini lancar tidak terhambat karena mobil angkutan.
Tepat jam 01.00 malam Sabtu mulai meluncur dari bincau untuk menjemput rombongan, sehingga baru jam 01.30 rombongan lengkap dan berangkat meninggalkan kota Martapura.

Karena masih malam hari, jalanan Martapura Banjarmasin masih lengang kecuali truk-truk batu bara dan sesekali mobil klas minivan dan sedang melintas berpapasan, sehingga mobil kami melaju tanpa hambatan yang berarti. Kira-kira jam 02.00 kami sudah sampai di lampu merah Gatot Subroto, sebelumnya direncanakan lewat jalan pintas Km 17 tapi aku ingat bahwa jalan tersebut sedang dalam peningkatan kualitas alias ada pekerjaan peningkatan. Akhirnya diputuskan lewat Jl. Gatot subroto menuju Bundaran Kayutangi Banjarmasin.

Sampai di jembatan kayu tangi ujung mobil masih melaju lancar sampai jembatan Barito yang panjang bentangnya 1.040 meter yang berada di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Naah . . .sejak melintas jembatan Barito ini mobil mulai melambat kecepatannya bukan karena drivernya ngantuk tapi karena jalannya rusak berat, lapis permukaan hilang artinya sisa perkerasan saja dan banyak kubangan dan lubang yang besar padahal statusnya adalah jalan Nasional atau jalan Negara.  Tapi begitu memasuki Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah . . . wow . . . jalannya mulus, entah itu ATB atau HRS tapi yang jelas hitam mulus walaupun belum ada garis pembatas jalannya.

Mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi sehingga tanpa terasa sudah sampai di bundaran Kota Kapuas, kalau terus akan sampai ke Palangka Raya tapi kami belok kanan menuju Palingkau, jalannyapun masih mulus hanya ada beberapa jembatan kayu yang lantai maupun railbannya yang rusak tapi tidak menjadi masalah.

Akhirnya kami sampai di Palingkau jam 03.30 pagi, hari masih gelap tapi pasar Palingkau terang benderang bercahaya, bukan karena lampu penerangan jalan tapi dari warung-warung yang buka dan berjualan makanan minuman dan lain-lain.

Suatu pemandangan yang unik, yang menjadi pelanggan warung-warung tersebut bukan seperti di jalan A. Yani antara Martapura sampai Binuang yang warungnya  terang benderang ditepi jalan dan banyak truk truk batubara parkir, tapi warung ini terang benderang  dan yang parkir adalah kendaraan roda 2 dan mobil-mobil pick-up maupun mpv yang semuanya berisi para pemancing baik yang amatir mapun profesional. Merekalah yang duduk-duduk mengisi warung tersebut sambil menunggu subuh dan fajar pagi menyingsing.

Pemancing amatir seperti kami . . . beda dengan pemacing profesional, pemancing profesional yang nampak tegar dan penuh semangat dengan peralatan yang sangat sederhana serba tradisional, contohnya adalah stick mereka adalah asli dari pering/paring yang dikeringkan ( dalam bahasa Banjar: dikadang), umpannyapun tidak beli cukup dengan cacing dan anak kodok (cirat) khusus untuk memancing ikan haruan. Tapi kalau nanti dibandingkan perolehannya . . . ha ha ha jangan ditanya !!!  . . . . . pasti lebih banyak mereka !!! Walaupun kami juga tegar dan penuh semangat!!  Yang membedakan lagi kami dengan pemancing profesional, adalah hasil pancingan kami, kami bawa pulang untuk dimakan sedang pemancing profesioal, hasilnya sebagian besar dijual dan dibawa pulang sekedarnya untuk lauk makan keluarga dirumah.

Tepat jam 04.15 kami melanjutkan perjalan ke Dadahup, waktu tempuh cukup lama sekitar 1 jam 15 menit, sebab walaupun jalannya mulus tapi jembatannya banyak yang rusak bahkan lantainya banyak yang jebol dan dilapis dengan batang pohon kelapa.

Disaat fajar pagi mulai terlihat kami sampai di dermaga Dadahup, kelotok sudah siap menunggu untuk mengantarkan kami kelokasi  alam berupa bekas kerokan atau bekas jalur transportasi kayu.

Dengan sedikit tergesa kami memindah perlengkapan dari mobil ke dalam kelotok, kelotoknya sebetulnya adalah jukung tiung yang besar yang biasa dipergunakan untuk mengangkut barang atau kayu, jadi tanpa atap dan lantai kecuali sedikit didekat  kemudi yang berlantai dan beratap.

Image009

Sepoi  angin pagi yang dingin  sejuk menyegarkan menerpa tubuh dan wajah kami, yang menyebabkan mata menjadi ngantuk dan memang akhirnya da juga beberapa orang dari kami yang tertidur. Nampak dikiri kanan sungai pohon-pohon bakau dan rambai padi yang lebat dan rimbun menghiasi bibir sungai dan yang khas lagi adalah gumpalan kelompok tanaman air enceng gondok (ilung dalam bahasa Banjar) baik besar maupun kecil nampak mengapung dipermukaan air mengikuti gerak arus air dan bahkan menurut informasi pemilik kelotok bahwa disungai yang kami lalui ini masih banyak berkeliaran buaya-buaya sungai baik yang moncong panjang (buaya sapit dalam istilah lokal) dan buaya biasa ( buaya kodok dalam istilah lokal). Masih menurut informasi pemilik kelotok , kata orang tuanya sungai yang kami lalui ini dulunya bukan sungai melainkan adalah saluran yang digali oleh pemerintah pada tahun 1954 yang menghubungkan antara sungai Barito dan sungai Kapuas dimana dari tahun ke tahun karena tergerus air dan erosi  maka akhirnya menjadi persis seperti sungai alam yang dalam dan lebar.

Image012

Image013

Dikiri kanan sungai nampak cabang-cabang sungai kecil dan menurut pendapatku sebetulnya adalah saluran pengglontor untuk menurunkan kadar asam air dan FeO2 yang ada pada sawah-sawah dan rawa masyarakat, dengan pola pasang surut. Adapun dimensinya rata-rata lebar 6 meter den gan kedalaman 2 meter.

Akhirnya perjalanan melintas sungai kami berakhir dimuara sungai/saluran yang kami tuju, kami disambut pemilik saluran tersebut dengan senyum dan sapaan khas mereka dalam bahasa bakumpai sebab yang bersahabat dengan pemilik saluran adalah pemilik kelotok dan salah seorang anggota rombongan kami.

Saluran/sungai di Dadahup ini punya ke khasan tersendiri, artinya ada yang bebas siapa saja boleh memancing, namun ada juga yang dipungut biaya sekedar untuk biaya pemeliharaan dan menjaga  serta membersihkan lokasi agar mudah memancing.

Begitu kelotok merapat ke tebing, dengan semangat 45 masing-masing menurunkan perlengkapannya dan tanpa babibu lansung bergerak mencari lokasi lokasi strategis untuk memancing. Memang bukan isapan jempol dan terbukti, tidak berhitung menit begitu pancing digelar langsung disambar ikan . . . fantastik !!!  Haruan 9 ons yang menyambar umpan pancing, tidak berapa lama yang lain juga disambar ikan baik itu haruan maupun papuyu  dengan standar ukuran ubaran (ubaran adalah ukuran pepuyu yang dibakar dengan berat 1,5 ons ke atas).

Ikan banyak , nyamuk banyak . . . . . . .tapi dapat diatasi dengan autan, atau saking asyiknya gigitan nyamuk kurang terasa lagi, kalau dalam bahasa Banjar  “kada kasisitan”.

Image016Image017

Tiada pesta yang tak usai, . . . . dengan wajah dan perasaan masih ingin terus memancing tapi waktu jua yang mengakhirinya karena sudah perjanjian dengan pemilik kelotok bahwa dijemput jam 15.30 sore. Masing-masing membawa ikan hasil pancingan minimal 2 kilogram dari berbagai jenis ikan yang didapat.

Pulangnya kami diiringi hujan dipertengahan jalan di kelotok menuju dermaga Dadahup, jam 16.30 kami meluncur pulang ke Martapura dan masih hujan lebat sampai di Banjarmasin, alhamdulillah dari Banjarmasin menuju  Martapura hujan telah reda dan jalan raya nampak ramai sekali lalulintasnya, ternyata malam kami pulang adalah malam minggu !!

Jam 21.30 sampailah kami di Martapura dengan sebuah harapan kapan ada waktu dan kesempatan kembali ke Dadahup.

Iklan

5 Komentar

  1. ikuuuuuuuuuuttttttttttt petualangan yang mengasyikan dan yg pasti melelahkan juga ya pak

  2. Boooleeeeeeeeeeeeeeeh , kalau mau ikut Sabtu ini ke Buas-buas via Margasari, peralatan standar meunjun pupuyu. Berangkat dari homebase Bincau jam 03.00 pagi. Silahkan konfirmasi ke hpku 0811508522 by sms. Wass

  3. waahhhh rupanya hobii kita sama juga kalau kami sering kelaut, kalau mancing papayu sering di benowa atao boboh gresik. papuyunya ganal ganal. kisaran 1kg 7 ekor.
    karna orang jawa kada tapi katuju lawan iwak papuyu atau iwak beti, kalau umpanya anak jangkrek pasti sikap di patuk.

  4. Rasa dandaman ulun mambaca kisah dandahup kapingin gabung
    Lagi maunjun, bila tulak ulun umpat

  5. nah…sama hobby pian 2 laki ulun,dirumah ulun tekumpul bu2han peunjunan pak…kami suka kelaut,juga di daratan.baru2 ini aja kami keliling mencari lokasi,tp papuyu di martapura ini halus,kami ke kurau lumayan jg dapatnya.kalo ke riam kanan kami meunjun kallui,


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s