Climate Change, Green Growth, Green Economy, Green Jobs, Green Investment, Green . . . . . . .

Perubahan iklim.

Bagaimana iklim di Indonesia ? Bagaimana iklim di Amerika Serikat ? Bagaimana iklim di RRT ? Bagaimana iklim di Jepang ? Bagaimana iklim di Afrika ? Bagaimana iklim di Australia ? Ternyata di dunia ada beberapa tipe iklim yang sudah ajeg, seperti di negara-negara yang berada pada lingkaran garis khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia, Filipina,dst memiliki dua musim yang ajeg yaitu musim kemarau (panas) dan musim hujan, dan panjangnya pun juga sudah ajeg, artinya musim hujannya hampir 8 bulan dan musim panasnya mendekati 4 bulan. Begitu juga di negara-negara yang posisinya di atas khatulistiwa dan di bawah khatulistiwa, rata-rata memiliki 4 musim, musim semi, musim gugur,musim panas dan  musim dingin(salju), durasi waktunya pun sudah tertentu.

Itu dulu . . . . . . . . ., dimana orang sudah menyesuaikan dengan alam, bahkan dalam segala bentuk kehidupannya dan yang terkait dengan kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, budaya dan pemerintahanpun beradaptasi secara ajeg terhadap keadaan iklim. Dalam bercocok tanam manusia telah ajeg ilmu pengetahuannya untuk pertanian, dalam berniaga hasil produksi pertanian dan tataniaganya juga sudah ajeg. Semuanya sudah ajeg.

Seiring dengan waktu dan seiring dengan kemajuan zaman dan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mulai membuat inovasi-inovasi baru seperti membuat pabrik untuk dapat berproduksi secara besar-besaran dan mereka membuat berbagai mesin yang menggunakan bahan bakar fosil, mereka membangunan pembangkit  listrik dengan tenaga air,uap, diesel, dan nuklir yang kesemuanya mengeksploitasi sumbber daya alam.  Hutan tropis yang memproduksi O2 sudah mulai terkikis habis, gunung perbukitan sekarang sudah rata karena diambil batubaranya, tanahnya, batugunungnya, biji besinya, mangannya, bumi sudah berongga di dalam perutnya karena minyaknya sudah tersedot dikuras terus menerus. Air tercemar karena limbah beracun limbah pabrik dan limbah konsumsi manusia, udara juga tercemar karena kebanyakan CO dan CO2nya atau karena banyaknya partikel-partikel dalam udara yang menyebabkan ispa. Menipisnya ozon sebagai benteng sinar ultraviolet matahari yang masuk kepermukaan bumi. Kesemuanya terakumulasi dalam meningkatkan suhu bumi dan berbagai bencana alam bermunculan.

Bencana-bencana tersebut yang menimpa manusia, hampir semuanya adalah bencana alam yang sangat merugikan manusia secara pribadi masing-masing baik itu jiwa dan hartanya, dan yang tak kalah pentingnya adalah dapat mengganggu perekonomian masyarakat bahkan ketingkat yang lebih besar yaitu pada sebuah negara, begitu masuk ranah negara berarti akan masuk keranah keamanan nasional baik dari sisi ekonomi negara maupun dari stabilitas politik negara. Dan seterusnya lagi juga akan berimbas kepada negara-negara tetangga dan akhirnya mendunia.

Nampaknya bayangan-bayangan kejadian ini sudah pula dibayangkan oleh negara-negara ekonomi maju, negara-negara kaya seperti Amerika, Jepang, Cina, Korea, Brazil, dan lain-lain. Mereka menyikapinya secara bijak dengan memberikan paket-paket stimulus untuk melawan menurunnya konsidi lingkungan akibat perubahan iklim tersebut.

Contoh Republik Korea, dalam 4 tahun kedepan negaranya akan membelanjakan hampir 38 milyar USD paket stimulus fiskal atau hampir setara 3 % GDPnya  yang akan terbagi untuk beberapa kegiatan sebagai berikut :

–          7 milyar USD investasi dalam bidang transportasi massal dan kereta api yang diharapkan menyediakan 138.000 pekerjaan.

–          5,8 milyar USD investasi dalam bidang konservasi energi di desa-desa dan sekolah-sekolah, yang akan menyediakan 170.000 pekerjaan.

–          Lebih dari 1,7 milyar USD sebagai stimulus restorasi hutan, akan menyediakan lebih dari 130.000 pekerjaan.

–          690 juta USD sebagai stimulus manajemen sumber daya air, akan menyediakan 16.000 pekerjaan.

–          10 milyar USD investasi di bidang restorasi sungai yang akan menyediakan hampir mendekati 200.000 pekerjaan.

Contoh lain lagi, Amerika serikat akan mengalokasikan 800 milyar USD digunakan sebagai stimulus , 100 milyar USD diarahkan untuk ekonomi hijau(green economy), termasuk didalamnya investasi di bidang transportasi publik dan efisiensi energi, hampir 20 milyar USD untuk energi terbarukan dan 11 milyar USD untuk memodernisasi kelistrikan. Diperkirakan akan tersedia 2,5 juta pekerjaan-pekerjaan hijau (green jobs).

Contoh lain lagi, RRT akan mengalokasikan 586 milyar USD sebagai paket stimulus fiskal, dimana diperkirakan 140 milyar USD diperuntukkan sebagai investasi hijau (green investment). Dalam paket investasi hijaunya ini mungkin sebesar 17 milyar USD digunakan pada investasi sektor energi terbarukan,  telah dapat mempekerjakan jutaan rakyatnya.

Apakah contoh-contoh ini dapat mengilhami kita untuk membuat perencanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan demi masa depan spesies kita (manusia), demi kehidupan kita, demi ekonomi kita, demi lapangan kerja kita, demi kesinambungan pertumbuhan ekonomi kita yang didasarkan pada lingkungan hidup kita.

Sudah saatnya kita merencanakan pertumbuhan hijau (green growth) di segala aspek perencanaan.

Listrik Kalimantan Selatan 2025

Kalimantan Selatan 2025 sebagai wilayah perdagangan dan jasa ditambah dengan spesifikasi agro industri, dapat kita bayangkan bahwa untuk kegiatan perdagangan dan jasa pasti memerlukan sejumlah perkantoran dan sejumlah pasar dalam berbagai bentuk mulai yang tradisional maupun yang modern bahkan yang sudah menggunakan pola virtual market, semuanya memerlurkan sumber daya listrik yang besar. Ditambah lagi dengan industri pendukung yang tentunya pasti memerlukan daya listrik terpasang yang besar pula dan yang tidak kalah penting adalah listrik yang diperlukan oleh masyarakat Kalimantan Selatan pada tahun 2025 dengan prediksi jumlah penduduk sebesar 4.643.573 jiwa , dengan mengambil rata-rata 1 KK terdiri dari 5 orang maka jumlah KKnya adalah 928.715 dan dengan asumsi 1 KK memerlukan daya listrik 1.500 Watt maka yang diperlukan adalah sekitar 1.393.071.900 Watt atau 1.292 MW. Secara gampang-gampangan menghitung total keperluan listrik kalsel 2025, kita kalikan 2 saja maka daya yang dibutuhkan 2.584 MW.

Sekarang ini kapasitas listrik Kalselteng hanya 300 MW, berasal dari PLTA Riam Kanan, PLTU Asam Asam tahap pertama, serta beberapa buah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Sementara, pemakaian listrik pada beban puncak sudah mencapai 310 MW sehingga di wilayah ini seringkali mengalami pemadaman.
Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam Asam tahap kedua dengan investasi Rp1,3 triliun dan kapasitas 2 x 65 MW atas bantuan Cina dengan masa pengembalian 10 tahun.

Untuk sementara sampai 2010 berarti kapasitas terpasang sudah mencapai 365 MW, namun juga harus kita sadari bahwa saat ini antrean pemasangan sambungan RT untuk perumahan sudah menumpuk sehingga kapasitas terpasang yang ada inipun nantinya akan segera terserap semua.

Menyikapi ini, PLN juga sudah memiliki kiat khusus untuk penanggulangan jangka pendek berskala nasional melalui fast track program 10.000 MW, dimana salah satunya adalah pengembangan PLTU Asam-Asam tahap kedua tersebut.

Kondisi ini lebih spesifik seyogyanya disikapi sendiri oleh Kalimantan Selatan yang tidak mungkin menggantungkan pada program pengembangan dari PLN saja, tetapi harus difasilitasi oleh masyarakat Kalimantan Selatan sendiri dengan memberikan kemudahan-kemudahan investasi di bidang kelistrikan serta membantu menjembatani para pengembang kelistrikan dengan pihak PLN sehingga cepat terealisasinya penandatangan PPA (Power Purchase Aggreement / Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik).

Memang tidak sedikit dana yang diperlukan, bayangkan saja untuk mendapatkan 65 MW saja diperlukan dana Rp.1,3 triliun, jadi kalau untuk memenuhi kekurangan daya tersebut yaitu (2.584 MW-365 MW)= 2.219 MW diperlukan dana sekitar (2.219 MW/65 MW) x Rp.1,3 Triliun= Rp.44,38 Triliun.

Besarnya angka ini tentunya tidak sekaligus diperlukan tapi dialokasikan secara bertahap setiap tahun tahapan pembangunan dimana yang ideal adalah 3 kali saja sesuai dengan waktu yang tersisa yaitu tinggal 16 tahun saja kita akan berada di tahun 2025.

Kebutuhan akan listrik ini bagi masyarakat sudah hampir setara dengan kebutuhan sembako, jadi pasti laku dijual dan tidak akan rugi, apalagi kalau melihat kebutuhan listrik nasional yang cukup besar.

Peluang ini terbuka untuk para investor bahkan bagi pemerintah prov, kab/kota untuk berkonsorsium membangun bersama PLTU dengan didanai sendiri secara bersama melalui Bank BPD yang memiliki motto “Banknya Urang Banua” .

Visi Kalimantan Selatan 2025

Kalimantan Selatan 2025 Maju dan Sejahtera sebagai wilayah Perdagangan  dan jasa berbasis  agro  Industri.

Mengandung makna bahwa dalam 20 tahun mendatang Provinsi Kalimantan Selatan memiliki sumber daya yang handal dan fondasi ekonomi yang kuat serta dapat memberikan kesempatan yang secara relatif seimbang pada semua lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya.

Mengandung makna bahwa pembangunan yang dilaksanakan berorientasi pada perdagangan dan jasa dengan menumbuhkan agro industri sebagai pilar utama. Agro industri dimaksud merupakan kegiatan yang berperan menciptakan nilai tambah, menghasilkan produk untuk dipasarkan/digunakan/dikonsumsi, meningkatkan daya simpan, menambah pendapatan serta menarik pembangunan sektor pertanian sebagai sektor penyedia bahan baku. Optimalisasi nilai tambah dicapai dengan pola industri yang berintegrasi langsung dengan usaha tani keluarga dan perusahaan pertanian.

Mari kita membutiri satu persatu kata kunci dari visi dan makna visi ini.

Maju, secara harfiah boleh dikatakan sebagai bergerak ke arah depan dengan pengertian melebihi dari yang ada sekarang. Maju dalam kaitannya sebagai sebuah propinsi yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah negara,  maka dicoba mencari pengertian akan kata majemuk “ negara maju”.  Bayangan yang muncul dalam benak kita adalah negara-negara yang telah menguasai teknologi tinggi dalam bidang apa saja dan mengoperasionalkannya. Negara yang mampu menguasai teknologi tinggi adalah negara yang masyarakatnya mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi atau dengan kata lain mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas.

Sejahtera, sebuah kata yang menjadi idaman setiap orang, setiap bangsa dan setiap negara namun kata “sejahtera”  bagi  setiap orang akan memberi arti dan makna yang berbeda, begitu juga bagi setiap negara. Apakah tercukupinya sandang, pangan dan papan saja, bagaimana dengan rasa aman ? bagaimana dengan tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan tingkat pendapatan mereka ? sampai disini akan terlihat mulai susah menentukan rumusan sejahtera tersebut. Secara akademis memang ada pelajaran tentang teori sejahtera( welfare theory), sejahtera adalah kondisi atau keadaan yang baik di mana manusia dalam keadaan makmur, sehat, dan damai ( kamus wikipedia)  namun juga akan sulit menentukan tingkat sejahtera yang bagaimana yang akan dicapai atau ada berapa tingkat sejahtera yang harus dicapai, ataukan memang sejahtera itu tidak akan pernah tercapai karena keinginan dan kepuasan manusia yang selalu tak terpuaskan.

Sebagai gambaran pada tahun 1950 tingkat kesejahteraan diukur dari aspek fisik, seperti gizi, tinggi dan berat badan, harapan hidup, serta pendapatan. Sampai pada tahun 1980 an tingkat kesejahteraan berubah sudut pandang pengukurannya, sejahtera diukur dari aspek  pendapatan, tenaga kerja, dan hak-hak sipil. Dan mulai tahun 1990 berkembang lagi cara pengukuran kesejahteraan, yaitu dengan melihat HDI (Human Development Index) atau IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang dihitung dari gabungan 3 komponen yaitu Indeks Harapan Hidup,  Indeks Pendidikan, Indeks Pendapatan Per kapita. Sekarang kesejahteraan suatu daerah diukur tidak hanya dengan melihat angka IPM saja tetapi juga dilihat dari tingkat angka kriminalitas yang terjadi, semakin hari semakin banyak cara-cara menentukan kesejahteraan suatu wilayah.

Perdagangan, adalah pertukaran atau jual beli barang dan jasa yang mempunyai alas hak yang sah. Kalau memperhatikan pertukaran barang dan jasa, maka kita juga harus melihat sumber daya yang ada di Kalimantan Selatan, luas Kalimantan Selatan hanya 37.530,52 Km2 atau hanya 6,98 % dari total luas pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk 4.643.573 jiwa (prediksi 2025). Untuk konsumsi dasar saja sudah cukup banyak seperti sembako, ditambah kebutuhan sekunder dan primernya.

Sumber daya, secara umum sumber daya dapat kita bagi memjadi 3 (tiga) komponen yaitu sumber daya alam, sumber daya buatan dan sumber daya manusia. Sumber daya alam dalam hal ini adalah bumi, air dan udara. Khusus untuk sumber daya alam bumi, dapat dibagi menjadi 2 bagian lagi yaitu sumber daya alam yang berada di dalam bumi dalam hal ini berkaitan dengan mineral (bahan tambang) dan yang menempel di atas bumi yang berkaitaan erat dengan lingkup pertanian secara umum seperti pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan dan peternakan. Sumber daya alam air, ini juga salah satu sumber daya alam penopang kehidupan manusia, flora dan fauna, begitu juga sumber daya alam udara. Sumber daya buatan adalah sumber daya yang dihasilkan oleh hasil karya manusia seperti listrik, bendungan dan waduk, dan lain-lain. Sedangkan sumber daya manusia adalah sumber daya yang dinamis yang berubah dari waktu ke waktu.

Sumber daya yang handal, dapatlah diartikan sebagai sumber daya yang memiliki nilai tambah yang besar dengan kualitas yang baik, yang siap untuk diolah lebih jauh lagi pada tingkatan lebih tinggi. Contoh sumber daya air yang handal adalah sumber daya air yang debitnya tetap dengan kandungan mineral yang cukup, secara fisik bersih, atau juga sumber daya udara yang handal adalah udara yang bersih, baik bersih dari partikel debu dan asap serta tidak berbau atau tidak tercemar dengan kandungan O2 yang mencukupi. Bagaimana dengan sumber daya manusia yang handal ? sehat secara jasmani dan rohani, berpendidikan tinggi (educated and skilled people)  dan berbudi pekerti yang luhur dan masih banyak lagi kriteria-kriteria manusia yang handal.

Fondasi ekonomi yang kuat, kalau boleh diterjemahkan adalah stabilitas ekonomi yang dapat bertahan dari berbagai guncangan apakah itu inflasi, jatuhnya nilai kurs, timpangnya neraca perdagangan, dan lain-lain.

Sekarang kita sudah berada pada bulan Juli 2009, 2025 hanya tinggal 16 tahun saja lagi !!! . . . . . . . 16 tahun kita pergunakan untuk menyiapkan dan mengolah  sumber daya alam, sumber daya buatan dan sumber daya manusia agar menjadi handal sehingga memnuhi syarat untuk mampu  menyokong, berinteraksi dan menyelam dalam wilayah Kalimantan Selatan sebagai wilayah perdagangan barang dan jasa. Sehingga visi maju dan sejahtera dapat dicapai.

Kalimantan Selatan 2025 dari sudut demografi

Kalimantan Selatan sebuah provinsi dengan luasan terkecil diantara provinsi-provinsi  di pulau Kalimantan yaitu 37.530,52 Km2 atau hanya 6,98 % dari total luas pulau Kalimantan, dengan luasan tersebut dihuni oleh penduduk sebanyak 2.969.028 jiwa pada tahun 2000 dan pada tahun 2005 telah mencapai 3.250.100 jiwa.

Mari kita hitung berapa rata-rata jumlah penduduk yang ada dalam 1 kilo meter persegi atau dalam 100 Ha tanah di Kalimantan Selatan, berarti 3.250.100 jiwa dibagi 37.530,52 KM2 = mendekati 86 jiwa/KM2. Namun itu hanyalah rata-rata walaupun dalam kenyataannya dan kita lihat sendiri ada daerah-daerah yang padat sekali penduduknya tapi juga ada yang tidak ada penduduknya sama sekali.

Itu kondisi pada tahun 2005 !!! sekarang ? . . .2009? . . . nanti 2025 ? sebagai masa akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang , berapa jumlah penduduk Kalimantan Selatan ? Dengan sebuah asumsi bahwa setiap wanita hanya melahirkan 2 sampai dengan 3 orang, angka kematian bayi sebesar 57 per 1000 Balita yang lahir hidup serta migran yang datang ke Kalimantan Selatan berjalan seperti saat ini, yaitu spontan atas kemauan sendiri, dan juga melihat trend pertambahan penduduk dari 2000 ke 2005 dengan laju pertumbuhan 1,18 % maka penduduk Kalimantan Selatan pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 4.643.573 jiwa.

Angka tersebut bisa bergerak turun atau naik, sangat tergantung lagi dengan tingkat kemakmuran masyarakat sebab apabila masyarakat makin makmur maka kesempatan untuk menjadi sehat lebih terbuka atau mungkin ada musibah apakah bencana alam besar atau mungkin berupa wabah penyakit yang belum ada obatnya, semoga jangan terjadi, amin Allahuma amin.

Angka tersebut bukan angka yang kecil dan itu mengandung konsekwensi yang sangat besar bagi kita bersama, contohnya kalau 1 orang memerlukan 40 liter air bersih/hari, 0,25 kg beras/hari maka akan diperlukan air bersih sebanyak 40 lt x 4.643.573= 185.742.923 liter/hari atau 185.743 M3/hari dan  beras sebanyak 0,25 kg x 4.643.573 =  1.160.893 kg/hari atau 1.161 ton/hari.

Naah . .apa yang harus kita lakukan menyikapi hal ini, apakah akan dibiarkan saja masyarakat mencari dan mengolah sendiri air bersih dari air sungai atau sumber lain yang belum tentu bersih dan higienis, jawabannya tentunya …TIDAK. Apakah petani kita lepaskan saja bagaimana caranya memenuhi permintaan masyarakat akan jumlah beras 1.161 ton/hari . . . .jawabannya juga TIDAK.

Dari berbagai sudut pandang, kondisi ini adalah peluang dan tantangan. Contoh, . . .kekurangan pasokan air bersih ini akanmenjadi peluang pasar bagi PDAM untuk mengembangkan diri dan akan menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakatnya sendiri untuk mempertahankan ketersediaan air baku yang nota bene semakin hari semakin menyusut dan kualitasnya semakin menurun akibat menurunnya kualitas lingkungan hidup kita sendiri.

Itu baru dari air bersih dan beras, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia lainnya seperti pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan lain-lain. Sungguh menjadi beban yang berat bagi kita bersama, namun dengan suatu kerarifan bahwa tidak ada masalah yanag tak terpecahkan, mari kita dari sisi masyarakat mencoba berhemat atas sumber daya alam dan sumber daya lingkungan kita. Sisanya mari kita dukung program-program pemerintah dalam pembangunan daerah.

Indonesia 2025 dalam RPJP Nasional

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025 yang berisi visi, misi, dan arah pembangunan nasional merupakan pedoman bagi pemerintah dan masyarakat di dalam penyelenggaraan pembangunan nasional 20 tahun ke depan.

RPJPN ini juga menjadi acuan di dalam penyusunan RPJP Daerah dan menjadi pedoman bagi calon Presiden dan calon Wakil Presiden dalam menyusun visi, misi, dan program prioritas yang akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) lima tahunan dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Keberhasilan pembangunan nasional dalam mewujudkan visi Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur perlu didukung oleh (1) komitmen dari kepemimpinan nasional yang kuat dan demokratis; (2) konsistensi kebijakan pemerintah; (3) keberpihakan kepada rakyat; dan (4) peran serta masyarakat dan dunia usaha secara aktif.

Visi

INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR

Misi

1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika,

berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila

2.  Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing

3.  Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum

4.  Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu

5.  Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan

6.  Mewujudkan Indonesia asri dan lestari

7.  Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri,

maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional

8.  Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia

internasional

ARAH PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG TAHUN 2005–2025

1. MEWUJUDKAN MASYARAKAT YANG BERAKHLAK MULIA,

BERMORAL, BERETIKA, BERBUDAYA, DAN BERADAB

2. MEWUJUDKAN BANGSA YANG BERDAYA-SAING

3. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG DEMOKRATIS BERLANDASKAN

HUKUM

4. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN, DAMAI DAN BERSATU

5. MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN YANG LEBIH MERATA DAN

BERKEADILAN

6. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ASRI DAN LESTARI

7. MEWUJUDKAN INDONESIA MENJADI NEGARA KEPULAUAN YANG

MANDIRI, MAJU, KUAT DAN BERBASISKAN KEPENTINGAN NASIONAL

8. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG BERPERAN AKTIF DALAM

PERGAULAN INTERNASIONAL

TAHAPAN

RPJM ke-1 (2005 – 2009)

RPJM ke-2 (2010 – 2014)

RPJM ke-3 (2015 – 2019)

RPJM ke-4 (2020 – 2024)

Isu-isu RPJM Nasional 2010-2014

Isu-isu RPJM Nasional 2010-2014 menurut hematku adalah sebuah jembatan menuju penetapan RPJM 2010-2014 dengan memperhatikan ekstrasi dari implementasi RPJM Nasional 2005-2009, untuk itu mari kita pelajari bersama.

rpjmn1

Lampiran UU No. 17 Tahun 2007 Tentang RPJPN 2005-2025 hal. 79-80]

RPJM ke-2 (2010 – 2014)

Memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian.

Bidang-Bidang:

Pertahanan dan Keamanan

Kondisi aman dan damai terus membaik dengan meningkatnya kemampuan dasar pertahanan dan keamanan negara yang ditandai dengan: Peningkatan kemampuan postur dan struktur pertahanan negara; Peningkatan kemampuan lembaga keamanan negara.

Hukum

  • Meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum
  • Tercapainya konsolidasi penegakan supremasi hukum
    penegakan hak asasi manusia
  • Kelanjutan penataan sistem hukum nasional.

Politik

Kehidupan bangsa yang lebih demokratis semakin terwujud ditandai dengan: Membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah; Kuatnya peran masyarakat sipil dan partai politik dalam kehidupan bangsa; Posisi penting Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar makin meningkat dengan keberhasilan diplomasi di fora internasional dalam upaya pemeliharaan keamanan nasional, integritas wilayah, dan pengamanan kekayaan sumber daya alam nasional.

Pelayanan Publik

Kualitas pelayanan publik yang lebih murah, cepat, transparan dan akuntabel makin meningkat yang ditandai dengan terpenuhinya standar pelayanan minimum di semua tingkatan pemerintah.

Kesejahteraan Rakyat

Kesejahteraan rakyat terus meningkat ditunjukkan oleh membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia : Meningkatnya pendapatan per kapita; Menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas disertai dengan berkembangnya lembaga jaminan sosial; Meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat yang didukung dengan pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang mantap; Meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat; Meningkatnya kesetaraan gender; Meningkatnya tumbuh kembang optimal, kesejahteraan, dan perlindungan anak; Terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk; Menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu, antarkelompok masyarakat, dan antardaerah; Dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa; Makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa.

Daya Saing Perekonomian

Daya saing perekonomian meningkat melalui : Penguatan industri manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan kelautan serta sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu; Meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; Percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha; Peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan; Penataan kelembagaan ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat; Pengembangan jaringan infrastruktur transportasi, serta pos dan telematika; Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, khususnya bioenergi, panas bumi, tenaga air, tenaga angin, dan tenaga surya untuk kelistrikan; Pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman; Industri kelautan yang meliputi perhubungan laut, industri maritim, perikanan, wisata bahari, energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara sinergi, optimal, dan berkelanjutan.

Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup makin berkembang melalui : Penguatan kelembagaan dan peningkatan kesadaran masyarakat yang ditandai dengan berkembangnya proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang disertai dengan menguatnya partisipasi aktif masyarakat; Terpeliharanya keanekaragaman hayati dan kekhasan sumber daya alam tropis lainnya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai tambah, daya saing bangsa, serta modal pembangunan nasional pada masa yang akan datang; Mantapnya kelembagaan dan kapasitas antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan; Terlaksananya pembangunan kelautan sebagai gerakan yang didukung oleh semua sektor; Meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang.

Sumber : http://www.bappenas.go.id