Kalimantan Selatan 2025 dari sudut demografi

Kalimantan Selatan sebuah provinsi dengan luasan terkecil diantara provinsi-provinsi  di pulau Kalimantan yaitu 37.530,52 Km2 atau hanya 6,98 % dari total luas pulau Kalimantan, dengan luasan tersebut dihuni oleh penduduk sebanyak 2.969.028 jiwa pada tahun 2000 dan pada tahun 2005 telah mencapai 3.250.100 jiwa.

Mari kita hitung berapa rata-rata jumlah penduduk yang ada dalam 1 kilo meter persegi atau dalam 100 Ha tanah di Kalimantan Selatan, berarti 3.250.100 jiwa dibagi 37.530,52 KM2 = mendekati 86 jiwa/KM2. Namun itu hanyalah rata-rata walaupun dalam kenyataannya dan kita lihat sendiri ada daerah-daerah yang padat sekali penduduknya tapi juga ada yang tidak ada penduduknya sama sekali.

Itu kondisi pada tahun 2005 !!! sekarang ? . . .2009? . . . nanti 2025 ? sebagai masa akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang , berapa jumlah penduduk Kalimantan Selatan ? Dengan sebuah asumsi bahwa setiap wanita hanya melahirkan 2 sampai dengan 3 orang, angka kematian bayi sebesar 57 per 1000 Balita yang lahir hidup serta migran yang datang ke Kalimantan Selatan berjalan seperti saat ini, yaitu spontan atas kemauan sendiri, dan juga melihat trend pertambahan penduduk dari 2000 ke 2005 dengan laju pertumbuhan 1,18 % maka penduduk Kalimantan Selatan pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 4.643.573 jiwa.

Angka tersebut bisa bergerak turun atau naik, sangat tergantung lagi dengan tingkat kemakmuran masyarakat sebab apabila masyarakat makin makmur maka kesempatan untuk menjadi sehat lebih terbuka atau mungkin ada musibah apakah bencana alam besar atau mungkin berupa wabah penyakit yang belum ada obatnya, semoga jangan terjadi, amin Allahuma amin.

Angka tersebut bukan angka yang kecil dan itu mengandung konsekwensi yang sangat besar bagi kita bersama, contohnya kalau 1 orang memerlukan 40 liter air bersih/hari, 0,25 kg beras/hari maka akan diperlukan air bersih sebanyak 40 lt x 4.643.573= 185.742.923 liter/hari atau 185.743 M3/hari dan  beras sebanyak 0,25 kg x 4.643.573 =  1.160.893 kg/hari atau 1.161 ton/hari.

Naah . .apa yang harus kita lakukan menyikapi hal ini, apakah akan dibiarkan saja masyarakat mencari dan mengolah sendiri air bersih dari air sungai atau sumber lain yang belum tentu bersih dan higienis, jawabannya tentunya …TIDAK. Apakah petani kita lepaskan saja bagaimana caranya memenuhi permintaan masyarakat akan jumlah beras 1.161 ton/hari . . . .jawabannya juga TIDAK.

Dari berbagai sudut pandang, kondisi ini adalah peluang dan tantangan. Contoh, . . .kekurangan pasokan air bersih ini akanmenjadi peluang pasar bagi PDAM untuk mengembangkan diri dan akan menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakatnya sendiri untuk mempertahankan ketersediaan air baku yang nota bene semakin hari semakin menyusut dan kualitasnya semakin menurun akibat menurunnya kualitas lingkungan hidup kita sendiri.

Itu baru dari air bersih dan beras, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia lainnya seperti pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan lain-lain. Sungguh menjadi beban yang berat bagi kita bersama, namun dengan suatu kerarifan bahwa tidak ada masalah yanag tak terpecahkan, mari kita dari sisi masyarakat mencoba berhemat atas sumber daya alam dan sumber daya lingkungan kita. Sisanya mari kita dukung program-program pemerintah dalam pembangunan daerah.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s