Climate Change, Green Growth, Green Economy, Green Jobs, Green Investment, Green . . . . . . .

Perubahan iklim.

Bagaimana iklim di Indonesia ? Bagaimana iklim di Amerika Serikat ? Bagaimana iklim di RRT ? Bagaimana iklim di Jepang ? Bagaimana iklim di Afrika ? Bagaimana iklim di Australia ? Ternyata di dunia ada beberapa tipe iklim yang sudah ajeg, seperti di negara-negara yang berada pada lingkaran garis khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia, Filipina,dst memiliki dua musim yang ajeg yaitu musim kemarau (panas) dan musim hujan, dan panjangnya pun juga sudah ajeg, artinya musim hujannya hampir 8 bulan dan musim panasnya mendekati 4 bulan. Begitu juga di negara-negara yang posisinya di atas khatulistiwa dan di bawah khatulistiwa, rata-rata memiliki 4 musim, musim semi, musim gugur,musim panas dan  musim dingin(salju), durasi waktunya pun sudah tertentu.

Itu dulu . . . . . . . . ., dimana orang sudah menyesuaikan dengan alam, bahkan dalam segala bentuk kehidupannya dan yang terkait dengan kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial, budaya dan pemerintahanpun beradaptasi secara ajeg terhadap keadaan iklim. Dalam bercocok tanam manusia telah ajeg ilmu pengetahuannya untuk pertanian, dalam berniaga hasil produksi pertanian dan tataniaganya juga sudah ajeg. Semuanya sudah ajeg.

Seiring dengan waktu dan seiring dengan kemajuan zaman dan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mulai membuat inovasi-inovasi baru seperti membuat pabrik untuk dapat berproduksi secara besar-besaran dan mereka membuat berbagai mesin yang menggunakan bahan bakar fosil, mereka membangunan pembangkit  listrik dengan tenaga air,uap, diesel, dan nuklir yang kesemuanya mengeksploitasi sumbber daya alam.  Hutan tropis yang memproduksi O2 sudah mulai terkikis habis, gunung perbukitan sekarang sudah rata karena diambil batubaranya, tanahnya, batugunungnya, biji besinya, mangannya, bumi sudah berongga di dalam perutnya karena minyaknya sudah tersedot dikuras terus menerus. Air tercemar karena limbah beracun limbah pabrik dan limbah konsumsi manusia, udara juga tercemar karena kebanyakan CO dan CO2nya atau karena banyaknya partikel-partikel dalam udara yang menyebabkan ispa. Menipisnya ozon sebagai benteng sinar ultraviolet matahari yang masuk kepermukaan bumi. Kesemuanya terakumulasi dalam meningkatkan suhu bumi dan berbagai bencana alam bermunculan.

Bencana-bencana tersebut yang menimpa manusia, hampir semuanya adalah bencana alam yang sangat merugikan manusia secara pribadi masing-masing baik itu jiwa dan hartanya, dan yang tak kalah pentingnya adalah dapat mengganggu perekonomian masyarakat bahkan ketingkat yang lebih besar yaitu pada sebuah negara, begitu masuk ranah negara berarti akan masuk keranah keamanan nasional baik dari sisi ekonomi negara maupun dari stabilitas politik negara. Dan seterusnya lagi juga akan berimbas kepada negara-negara tetangga dan akhirnya mendunia.

Nampaknya bayangan-bayangan kejadian ini sudah pula dibayangkan oleh negara-negara ekonomi maju, negara-negara kaya seperti Amerika, Jepang, Cina, Korea, Brazil, dan lain-lain. Mereka menyikapinya secara bijak dengan memberikan paket-paket stimulus untuk melawan menurunnya konsidi lingkungan akibat perubahan iklim tersebut.

Contoh Republik Korea, dalam 4 tahun kedepan negaranya akan membelanjakan hampir 38 milyar USD paket stimulus fiskal atau hampir setara 3 % GDPnya  yang akan terbagi untuk beberapa kegiatan sebagai berikut :

–          7 milyar USD investasi dalam bidang transportasi massal dan kereta api yang diharapkan menyediakan 138.000 pekerjaan.

–          5,8 milyar USD investasi dalam bidang konservasi energi di desa-desa dan sekolah-sekolah, yang akan menyediakan 170.000 pekerjaan.

–          Lebih dari 1,7 milyar USD sebagai stimulus restorasi hutan, akan menyediakan lebih dari 130.000 pekerjaan.

–          690 juta USD sebagai stimulus manajemen sumber daya air, akan menyediakan 16.000 pekerjaan.

–          10 milyar USD investasi di bidang restorasi sungai yang akan menyediakan hampir mendekati 200.000 pekerjaan.

Contoh lain lagi, Amerika serikat akan mengalokasikan 800 milyar USD digunakan sebagai stimulus , 100 milyar USD diarahkan untuk ekonomi hijau(green economy), termasuk didalamnya investasi di bidang transportasi publik dan efisiensi energi, hampir 20 milyar USD untuk energi terbarukan dan 11 milyar USD untuk memodernisasi kelistrikan. Diperkirakan akan tersedia 2,5 juta pekerjaan-pekerjaan hijau (green jobs).

Contoh lain lagi, RRT akan mengalokasikan 586 milyar USD sebagai paket stimulus fiskal, dimana diperkirakan 140 milyar USD diperuntukkan sebagai investasi hijau (green investment). Dalam paket investasi hijaunya ini mungkin sebesar 17 milyar USD digunakan pada investasi sektor energi terbarukan,  telah dapat mempekerjakan jutaan rakyatnya.

Apakah contoh-contoh ini dapat mengilhami kita untuk membuat perencanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan demi masa depan spesies kita (manusia), demi kehidupan kita, demi ekonomi kita, demi lapangan kerja kita, demi kesinambungan pertumbuhan ekonomi kita yang didasarkan pada lingkungan hidup kita.

Sudah saatnya kita merencanakan pertumbuhan hijau (green growth) di segala aspek perencanaan.

Iklan

1 Komentar

  1. Iya Pak…, yang sangat relevan dengan kita adalah tentunya pengaruh perubahan iklim terhadap Banjarmasin dan dampaknya terhadap kota-kota disekitarnya seperti Banjarbaru, Martapura, Pelaihari & Marabahan.
    KATA seorang Pakar dari ITB di http://www.armisusandi.com. …. dampak perubahan iklim antara lain :
    • Semakin banyak penyakit (Tifus, Malaria, Demam, dll.)
    • Meningkatkan frekuensi bencana alam/cuaca ekstrim (tanah longsor, banjir, kekeringan, badai tropis, dll.)
    • Mengancam ketersediaan air
    • Mengakibatkan pergeseran musim dan perubahan pola hujan
    • Menurunkan produktivitas pertanian
    • Peningkatan temperatur akan mengakibatkan kebakaran hutan
    • Mengancam biodiversitas dan keanekaragaman hayati
    • Kenaikan muka laut menyebabkan banjir permanen dan kerusakan infrastruktur di daerah pantai.
    Kata beliau DAMPAK KENAIKAN MUKA LAUT DI BANJARMASIN adalah :
    1. Bekunya aktifitas-aktifitas industri dan bisnis diakibatkan
    kerusakan/terganggunya infrastruktur-infrastruktur pembangunan
    2. Infrastruktur yang tergenang :
     Instansi Pemerintah – 10
     Swasta dan BUMN – 12
     Fasilitas Kesehatan – 2
     Fasilitas Pendidikan – 19
    Beliau memberikan simpulan & prediksi sebagai berikut :
    • Banjarmasin merupakan salah satu kota di Indonesia yang akan terkena dampak kenaikan muka laut.
    • Dampak perubahan iklim akan mempengaruhi berbagai sektor
    • Setiap daerah harus mempersiapkan strategi adaptasi untuk mengurangi kerugian akibat dampak perubahan iklim
    • Proyeksi kenaikan muka laut Banjarmasin mencapai ≈1 m pada 2100.
    • Arahan pembangunan disarankan ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari banjir akibat kenaikan muka laut.
    • Setiap kebijakan berkenaan dengan adaptasi, perlu membuat peta kerentanan dampak perubahan iklim.
    SAYA MEMBAYANGKAN, suatu saat yang tidak lama kota Banjarmasin akan tenggelam karena naiknya permukaan air laut. BANAJARBARU DAN MARTAPURA akan menjadi kota terpadat akibat migrasi penduduk yang tak terencanakan secara sistematik. Bahkan kota Martapura berubah dari Serambi Mekkah menjadi Serambi ……? Entahlah. Jadi generasi kita semualah yang punya tugas untuk mencegahnya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s