SOP Makan dan Minum

Standard Operating Procedure, prosedur/tata cara urutan pelaksanaan yang sudah distandarisasikan juga meliputi cara Makan dan Minum, khususnya bagi kaum muslimin/muslimat dan mukminin/mukminat.

Terlepas dimanapun dia makan dimana, apakah di rumah sendiri, di rumah saudara, di rumah orang, di restoran, di café atau di tengah hutan belantara, tetap ada SOPnya !
Begeitu juga tempatnya, apakah di meja makan atau di lantai, tetap ada SOPnya !!! . . . . . tapi yang jelas dalam Islam tidak pernah diperkenankan makan dan minum dengan berdiri, kecuali darurat !

Urutannya sebagai berikut :
1.Beri salam kepada orang yang telah duduk lebih awal di meja atau di lantai.
2.Duduklah bersama mereka dengan tenang.
3.Berdo’alah sendiri-sendiri, sebaiknya berdo’a bersama dengan satu orang yang ditunjuk untuk memimpin do’a dengan do’a yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.
4.Cucilah kedua tanganmu terlepas apakah makannya menggunakan sendok&garpu, pisau&garpu atau dengan tangan sebagaimana adanya.
5.Ambillah makan yang terdekat darimu secukupnya.
6.Suapan pertama bacalah “ Bismillah”
7.Suapan kedua bacalah “ Bismillah hirrohman”
8.Suapan ketiga bacalah “ Bismillah hirrohmanirrohim”
9.Lanjutkan suapan-suapan berikutnya dengan tenang dan kunyahlah hingga makanan menjadi lembut baru ditelan ( kalau menurut anjuran adalah 32 kunyahan).
10.Makanlah hingga bersih piring tempat makan.
11.Apabila selesai makan, ucapkanlah “Alhamdulillah hirrobbil ‘alamin”
12.Cuci tangan hingga bersih dan keringkan.
13.Minumlah air, disarankan air putih saja.
14.Sebelum minum bacalah “Bismillah hirrohmanirrohim” 3x
15.Minumlah dengan tiga tegukan secara perlahan dan jangan bernafas di dalam gelas, (catatan minum tidak diperkenankan memakai gelas yang terbuat dari emas atau perak)
16.Selesai dengan tiga tegukan berhenti sejenak dan ucapkan “Alhamdulillah hirobbil ‘alamin” 3 x
17.Selesaikan minum hingga habis air di gelas

Demikian SOP makan dan minum, selesai prosedur standar kalau mau diterukan dengan minum-minum kopi atau makan buah sebagai hidangan penutup. Selamat menikmati !!!

Metode Pendidikan

Pendidikan, adalah sebuah kata penting dan dalam prakteknya adalah bertujuan untuk merubah satu keadaan kepada keadaan lain yang lebih baik keadaannya. Kegiatan merubah ini banyak cara digunakan baik secara tradisional maupun secara modern, terlepas dari cara atau dengan istilah dalam dunia pendidikan disebut metode, baik metode tradisional maupun metode modern kalau untuk pendidikan akhlak, maka saat ini telah banyak metode yang direkomendasikan untuk dipakai dalam dunia pendidikan secara umum.

Namun kalau kita mau mengambil sebuah refrensi nyata yang telah terbukti secara factual dan tertuang dalam sejarah maka alangkah baiknya kita menengok bagaimana Rasulullah Muhammad saw mendidik masyarakat Mekah dan sekitarnya yang pada saat itu akhlaknya sudah dianggap hancur lebur bahkan dikatakan ahlak jahiliah dan dalam kurun waktu 23 tahun sejak awal kenabian hingga beliau wafat telah berhasil merubah menjadi akhlakul karimah.

Metode yang digunakan pada waktu itu adalaah sebuah metode pendidikan yang bertumpu pada kelembutan, kesadaran fitrah individu, dan pemahaman mereka (para sahabat Rasulullah) terhadap perintah Allah SWT.

Rasulullah juga berupaya mengajarkan mereka (para sahabat Rasulullah) bagaimana membuat insting mereka teridur dalam hal ini adalah insting ketertarikan akan ajakan nafsu untuk berbuat hina dan lupa diri, dan juga bagaimana menampik godaan setan.

Semoga lontaran pemikiran ini menjadi bahan pemikiran kita bersama untuk meningkatkan akhlak bangsa kita sampai ke tingkat ahlakul karimah.

(Sumber; Tariq Ramadan: Muhammad Rasul Zaman Kita)

Orang Kaya

Kaya, hartawan, jutawan, milyuner adalah kebanyakan harapan cita-cita manusia, dan tentunya sah-sah saja obsesi tersebut dan memang patut untuk diperjuangkan dengan menuntut ilmunya sehingga diperoleh kemampuan berupa ketrampilan diri untuk menjadi kaya. Namun cara yang bagaimana dan bagaimana setelah menjadi kaya lah yang perlu untuk disikapi secara serius.

Jangan seperti Qarun yang diabadikan dalam Al-Qur’an pada surah Al-Qasas,yaitu :

Ayat 76 : Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “ Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh , Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.”

Ayat  77: Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Ayat 78 : Dia (Qarun) berkata, “ Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidaklah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.

Ayat 79 : Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang  yang menginginkan kehidupan dunia berkata , “ Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada  Qarun, sesungguhnya dia mempunyai keuntungan yang besar.”

Ayat 80 : Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata,” Celakalah kamu ! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.”

Ayat 81 : Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golonganpun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.

Ayat 82 : Dan orang-orang yang kemarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, “ Aduhai, bernarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya). Sekira Allah tidak melimpahkan karuniaNya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang meningingkari (nikmat Allah).”

Ayat 83 : Negeri Akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Adab anak kepada ortunya

Adab menyangkut etika dan nilai, bagaimana seorang anak bersikap juga mempunyai etika dan etika ini sangat tergantung kepada siapa dia berhadapan, bagaimana kalau seorang anak dihadapkan dengan orang tuanya, maka ada adabnya tersendiri.

Adab seorang anak kepada kedua orang tuanya:

  1. Mentaati semua perkataan kedua orangtuanya kecuali kalau perintahnya bertentangan dengan perintah agama.
  2. Hendaklah ia berdiri pada saat kedua orangtuanya bangkit berdiri dari keadaan duduk.
  3. Jangan berjalan melintas dihadapan kedua orangtuanya.
  4. Jangan bersuara lebih nyaring/keras melebihi suara kedua orangtuanya.
  5. Apabila kedua orangtuanya memanggil hendaklah dijawab dengan sopan seperti “ya, inggih, dll”
  6. Hendaklah bersungguh-sungguh dalam segala perbuatan dan perkataan agar kedua orangtuanya ridho.
  7. Bantulah kedua orangtuanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya.
  8. Jangan memandang kedua orangtuanya dengan pandangan menyakitkan hati kedua orangtuanya atau dengan pandangan marah atau merendahkannya.
  9. Jangan bermuka masam dihadapan kedua orangtuanya karena sebab marah kepada kedua orangtuanya.
  10. Jangan melakukan perjalanan tanpa izin kedua orangtuanya kecuali untuk menunaikan ibadah haji yang wajib, tapi hanya disunatkan untuk meminta izin kepada kedua orangtuanya.