Dadahup, the Fishing Field

DSC00081

Jum’at pagi jam 09.00 tanggal 15 Mei 2009, aku bersama-sama dengan kawan-kawan mulai melakukan persiapan untuk melakukan perburuan ikan papuyu dan haruan (ikan gabus) yang menurut khabar berita ukuran besarnya diatas normal. Target lokasi  Dadahup-Palingkau Provinsi Kalimantan Tengah.

Nampaknya masing-masing mempersiapkan segala peralatan dan sarana pendukung sesuai dengan pengalaman masing-masing selama ini.

Aku sendiri juga melakukan persiapan pada pagi dan siang antara lain :

  1. Menyiapkan kawat pancing ukuran/no.12 dengan nilon (fishingline) diameter 0,30 mm kekuataan tarik 21 lbs, diberi timah pemberat supaya cepat mencapai dasar sungai atau danau sebab kalau lambat mencapai dasar sungai maka umpan akan diserbu ikan-ikan kecil atau ikan yang bermulut kecil seperti jenis sepat, sepat siam, patung, dll. Untuk lebih sempurna biasanya kuberi pelampung agar disaat umpan disambar ikan maka akan terlihat pelampungnya tertarik kedalam air sehingga kita cepat dapat bereaksi. Namun ada juga sebagian yang tidak terbiasa menggunakan pelampung, jadi polos saja !!  Untuk keberangkatan kali ini kubuat 6 set cadangan dan 2 terpasang pada stick (tantaran/ilasan).
  2. Beli umpan 6 biji ulat bumbung dan anak tabuan 2 keping.
  3. Stick (tantaran/ilasan/joran) 2 unit , panjang 3,6 m dan 4,5 m.
  4. Kurungan ikan, kali ini aku membawa tas dari anyaman purun (nama lokalnya bakul purun karena terbuat dari tanaman purun yang dikeringkan dan dianyam) sebanyak 2 buah, sebuah khusus untuk papuyu dan sebuah untuk haruan. Keuntungannya banyak memakai bakul purun ini, antara lain kulit ikan tidak rusak dan bisa direndam dalam air serta harganya murah dan tahan lama.
  5. Menyiakan stock kawat berbagai ukuran, nilon, timah, stopper, pelampung serta peralatan pendukung lainnya.
  6. Umpan untuk sang pemancing . . . . kali ini aku memilih membawa roti keju karena faktor kepraktisan saja dan minuman botol Nu Green Tea 500 ml ukuran tanggung.

Sorenya aku memeriksa kondisi mobil untuk meyakinkan saja supaya keberangkatan ke dadahup ini lancar tidak terhambat karena mobil angkutan.
Tepat jam 01.00 malam Sabtu mulai meluncur dari bincau untuk menjemput rombongan, sehingga baru jam 01.30 rombongan lengkap dan berangkat meninggalkan kota Martapura.

Karena masih malam hari, jalanan Martapura Banjarmasin masih lengang kecuali truk-truk batu bara dan sesekali mobil klas minivan dan sedang melintas berpapasan, sehingga mobil kami melaju tanpa hambatan yang berarti. Kira-kira jam 02.00 kami sudah sampai di lampu merah Gatot Subroto, sebelumnya direncanakan lewat jalan pintas Km 17 tapi aku ingat bahwa jalan tersebut sedang dalam peningkatan kualitas alias ada pekerjaan peningkatan. Akhirnya diputuskan lewat Jl. Gatot subroto menuju Bundaran Kayutangi Banjarmasin.

Sampai di jembatan kayu tangi ujung mobil masih melaju lancar sampai jembatan Barito yang panjang bentangnya 1.040 meter yang berada di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Naah . . .sejak melintas jembatan Barito ini mobil mulai melambat kecepatannya bukan karena drivernya ngantuk tapi karena jalannya rusak berat, lapis permukaan hilang artinya sisa perkerasan saja dan banyak kubangan dan lubang yang besar padahal statusnya adalah jalan Nasional atau jalan Negara.  Tapi begitu memasuki Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah . . . wow . . . jalannya mulus, entah itu ATB atau HRS tapi yang jelas hitam mulus walaupun belum ada garis pembatas jalannya.

Mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi sehingga tanpa terasa sudah sampai di bundaran Kota Kapuas, kalau terus akan sampai ke Palangka Raya tapi kami belok kanan menuju Palingkau, jalannyapun masih mulus hanya ada beberapa jembatan kayu yang lantai maupun railbannya yang rusak tapi tidak menjadi masalah.

Akhirnya kami sampai di Palingkau jam 03.30 pagi, hari masih gelap tapi pasar Palingkau terang benderang bercahaya, bukan karena lampu penerangan jalan tapi dari warung-warung yang buka dan berjualan makanan minuman dan lain-lain.

Suatu pemandangan yang unik, yang menjadi pelanggan warung-warung tersebut bukan seperti di jalan A. Yani antara Martapura sampai Binuang yang warungnya  terang benderang ditepi jalan dan banyak truk truk batubara parkir, tapi warung ini terang benderang  dan yang parkir adalah kendaraan roda 2 dan mobil-mobil pick-up maupun mpv yang semuanya berisi para pemancing baik yang amatir mapun profesional. Merekalah yang duduk-duduk mengisi warung tersebut sambil menunggu subuh dan fajar pagi menyingsing.

Pemancing amatir seperti kami . . . beda dengan pemacing profesional, pemancing profesional yang nampak tegar dan penuh semangat dengan peralatan yang sangat sederhana serba tradisional, contohnya adalah stick mereka adalah asli dari pering/paring yang dikeringkan ( dalam bahasa Banjar: dikadang), umpannyapun tidak beli cukup dengan cacing dan anak kodok (cirat) khusus untuk memancing ikan haruan. Tapi kalau nanti dibandingkan perolehannya . . . ha ha ha jangan ditanya !!!  . . . . . pasti lebih banyak mereka !!! Walaupun kami juga tegar dan penuh semangat!!  Yang membedakan lagi kami dengan pemancing profesional, adalah hasil pancingan kami, kami bawa pulang untuk dimakan sedang pemancing profesioal, hasilnya sebagian besar dijual dan dibawa pulang sekedarnya untuk lauk makan keluarga dirumah.

Tepat jam 04.15 kami melanjutkan perjalan ke Dadahup, waktu tempuh cukup lama sekitar 1 jam 15 menit, sebab walaupun jalannya mulus tapi jembatannya banyak yang rusak bahkan lantainya banyak yang jebol dan dilapis dengan batang pohon kelapa.

Disaat fajar pagi mulai terlihat kami sampai di dermaga Dadahup, kelotok sudah siap menunggu untuk mengantarkan kami kelokasi  alam berupa bekas kerokan atau bekas jalur transportasi kayu.

Dengan sedikit tergesa kami memindah perlengkapan dari mobil ke dalam kelotok, kelotoknya sebetulnya adalah jukung tiung yang besar yang biasa dipergunakan untuk mengangkut barang atau kayu, jadi tanpa atap dan lantai kecuali sedikit didekat  kemudi yang berlantai dan beratap.

Image009

Sepoi  angin pagi yang dingin  sejuk menyegarkan menerpa tubuh dan wajah kami, yang menyebabkan mata menjadi ngantuk dan memang akhirnya da juga beberapa orang dari kami yang tertidur. Nampak dikiri kanan sungai pohon-pohon bakau dan rambai padi yang lebat dan rimbun menghiasi bibir sungai dan yang khas lagi adalah gumpalan kelompok tanaman air enceng gondok (ilung dalam bahasa Banjar) baik besar maupun kecil nampak mengapung dipermukaan air mengikuti gerak arus air dan bahkan menurut informasi pemilik kelotok bahwa disungai yang kami lalui ini masih banyak berkeliaran buaya-buaya sungai baik yang moncong panjang (buaya sapit dalam istilah lokal) dan buaya biasa ( buaya kodok dalam istilah lokal). Masih menurut informasi pemilik kelotok , kata orang tuanya sungai yang kami lalui ini dulunya bukan sungai melainkan adalah saluran yang digali oleh pemerintah pada tahun 1954 yang menghubungkan antara sungai Barito dan sungai Kapuas dimana dari tahun ke tahun karena tergerus air dan erosi  maka akhirnya menjadi persis seperti sungai alam yang dalam dan lebar.

Image012

Image013

Dikiri kanan sungai nampak cabang-cabang sungai kecil dan menurut pendapatku sebetulnya adalah saluran pengglontor untuk menurunkan kadar asam air dan FeO2 yang ada pada sawah-sawah dan rawa masyarakat, dengan pola pasang surut. Adapun dimensinya rata-rata lebar 6 meter den gan kedalaman 2 meter.

Akhirnya perjalanan melintas sungai kami berakhir dimuara sungai/saluran yang kami tuju, kami disambut pemilik saluran tersebut dengan senyum dan sapaan khas mereka dalam bahasa bakumpai sebab yang bersahabat dengan pemilik saluran adalah pemilik kelotok dan salah seorang anggota rombongan kami.

Saluran/sungai di Dadahup ini punya ke khasan tersendiri, artinya ada yang bebas siapa saja boleh memancing, namun ada juga yang dipungut biaya sekedar untuk biaya pemeliharaan dan menjaga  serta membersihkan lokasi agar mudah memancing.

Begitu kelotok merapat ke tebing, dengan semangat 45 masing-masing menurunkan perlengkapannya dan tanpa babibu lansung bergerak mencari lokasi lokasi strategis untuk memancing. Memang bukan isapan jempol dan terbukti, tidak berhitung menit begitu pancing digelar langsung disambar ikan . . . fantastik !!!  Haruan 9 ons yang menyambar umpan pancing, tidak berapa lama yang lain juga disambar ikan baik itu haruan maupun papuyu  dengan standar ukuran ubaran (ubaran adalah ukuran pepuyu yang dibakar dengan berat 1,5 ons ke atas).

Ikan banyak , nyamuk banyak . . . . . . .tapi dapat diatasi dengan autan, atau saking asyiknya gigitan nyamuk kurang terasa lagi, kalau dalam bahasa Banjar  “kada kasisitan”.

Image016Image017

Tiada pesta yang tak usai, . . . . dengan wajah dan perasaan masih ingin terus memancing tapi waktu jua yang mengakhirinya karena sudah perjanjian dengan pemilik kelotok bahwa dijemput jam 15.30 sore. Masing-masing membawa ikan hasil pancingan minimal 2 kilogram dari berbagai jenis ikan yang didapat.

Pulangnya kami diiringi hujan dipertengahan jalan di kelotok menuju dermaga Dadahup, jam 16.30 kami meluncur pulang ke Martapura dan masih hujan lebat sampai di Banjarmasin, alhamdulillah dari Banjarmasin menuju  Martapura hujan telah reda dan jalan raya nampak ramai sekali lalulintasnya, ternyata malam kami pulang adalah malam minggu !!

Jam 21.30 sampailah kami di Martapura dengan sebuah harapan kapan ada waktu dan kesempatan kembali ke Dadahup.

Iklan

Lomba Lintas Kahung (Kahung CC )

lintaskahung

Lomba Lintas Kahung direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Januari atau Pebruari 2009, acara ini dilaksanakan dalam rangka untuk sebuah appresiasi terhadap keindahan alam disekitar kita dan sekaligus rekreasi sambil olah raga dan menyegarkan kembali jiwa kita. Pesertanya terbuka untuk umum baik perorangan maupun beregu (direncanakan 1 regu 5 orang) kecuali penduduk setempat desa Belangian Kecamatan Aranio.

Peserta berkumpul di dermaga Tiwingan Lama (dekat Bendungan Ir. Pangeran M. Noor) pada lokasi no.1 peta di atas dan bawah ini.

riamkanan-copyimg_8919

Peserta akan diantar dari dermaga tersebut untuk berkumpul di desa Belangian, perjalanan akan memakan waktu 2jam 30 menit untuk sampai di dermaga desa Belangian, pada lokasi no. 2 pada peta di bawah ini.

desabelangian-copyimg_8947

Para peserta lomba akan diistirahatkan dengan menginap di desa belangian, malam harinya akan dilaksanakan apresiasi seni budaya lokal (masih dicari jenisnya, mungkin mamanda, wayang gong, atau wayang kulit, tapi masih ditunggu masukan dari kawan-kawan).

Pada pagi harinya dimulai lomba dengan titik start di muka mesjid desa Belangian untuk menuju Air Terjun Lembah Kahung sebagai titik Finish. Sebelum mencapai air terjun anda akan menemukan pemandangan-pemandangan dan fenomena alam yang mempesona, secara berurutan sebagai berikut :

100_0450img_8981

dsc_0037dsc_0033

100_0481100_0463

dsc_0062dsc_0067

dsc_0052dsc_0097

dscn1592dscn1597

 

Selayang Pandang Ekspedisi Sungai 15/16 Nov 2008

Sabtu pagi yang sejuk di sebuah dermaga pekauman dengan langit sedikit mendung, nampak peserta ekspedisi sungai sedikit tegang dengan sesekali memandang ke atas. Mungkin dengan sebuah do’a “ mudahan jangan hujan !”. Akupun do’anya sama, mudahan jangan hujan juga, sebab naik kelotok atau kapal, posisi yang paling didambakan adalah diatas atap ! ! !

Dengan diiringi do’a selamat dan pesan Bapak Bupati H.G. Khairul Saleh beserta Ibu bahwa banyak yang dapat dilihat dalam alur sungai, baik itu jejak sejarah kerajaan Banjar dahulu maupun kerajaan Daha, juga banyak fenomena sosiokultural masyarakat tepian sungai.

Tepat Hari Sabtu tanggal 15 November 2008 jam 08.15 peserta ekspedisi sungai berjumlah 87 orang berangkat dari dermaga pekauman menuju dermaga Banjar Raya Banjarmasin dengan 2 buah kelotok besar.

image080

Dalam perjalanan menuju Banjar Raya banyak yang kami lihat yang pertama kali terlihat adalah banyaknya orang yang mandi di atas rakit bambu (istilah bahasa banjar ‘batang’ tapi kalau digunakan untuk sarana transportasi namanya berubah menjadi ‘ lanting’) yang berfungsi sebagai MCK (mandi,cuci,kakus). Mudah-mudahan tidak terimbas Undang-undang Pornografi, karena baik laki-laki maupun wanita mandinya ditempat terbuka dengan pakaian mandi yang khas , kalau laki-laki cukup celana pendek dan wanita cukup dengan kain sarung atau jarig sampai didada ( istilah bahasa banjar ‘tilasan di dada’).

Dari hasil catatan Tim Kesehatan yang ikut serta tercatat sebanyak 1.831 buah jamban (istilah kakus yang ada di batang/rakit) sepanjang sungai Martapura dari pekauman sampai sungai lulut perbatasan dengan kota Banjarmasin, dengan perkiraan masih ada hulu sungainya Martapura dan cabang-cabang anak sungai martapura maka diperkirkan total jamban di Kabupaten Banjar adalah 3×1.831=5.493 buah jamban.

Andai kata dalam 1 jamban dipergunakan oleh 10 orang dan asusmi kotoran manusia dalam 1hari seberat 2 ons, maka jumlah kotoran manusia yang ditampung sungai dalam 1 hari adalah 10 x 0,2 kg x 5.493 = 10.986 kg. Dulu waktu ikan disungai masih banyak, diperkitakan yang dimakan ikan cuma 30 %, sisanya yang 70 % larut terurai secara alami di sungai tapi prlu waktu yag cukup lama. Sekarang ikannya yang ada disungai jauh sangat berkurang karena setrum, potas dan racun lainnya, dapat anda bayangkan akibatnya !

Yang terlihat kedua, beberapa saat setelah kelotok bergerak nampak dermaga curah bahan galian golongan C dengan kelotok angkutan yag cukup lebar (‘jukung tiung’ dalam istilah bahasa banjar), yang menurut khabar bahwa bahan galian golongan C itu dikirim ke Batola atau ke propvinsi Kalimantan Tengah. Yang menjadi pertanyaan apakah pajaknya terpungut ? sebab tidak ada pos jaga sepanjang aliran sungai Martapura yang kami lalui ini.

Selain dermaga curah tadi, yang terlihat banyak juga adalah tempat penggilingan padi yang cukup banyak jumlahnya dengan sekam yang nampak larut ke sungai.

Nampaknya sepanjang aliran sungai Martapura ini terjadi penzona-an , misalnya ada satu zona yang khusus memproduksi batu bata mentah yang belum dibakar yang harganya Cuma berkisar antara Rp.150,- s/d Rp.200,- per biji, ada juga yang memproduksi sagu, ada yang memproduksi atap daun pohon rumbia (‘hatap rumbia’ dalam bahasa banjar) yang harganya Cuma Rp.500,- per lembar, ada yang memproduksi alat pemisah gabah yang hampa dan yang berisi dengan teknis sederhana ( “gumba’an” dalam bahasa banjar), bahkan ada juga zona yang khusus memiliki keramba pembesaran ikan bakut.

image081

Dalam tim ekspedisi kami juga ada yang berasal dari sector perhubungan, dengan komentar bahwa transportasi sungai kita sudah mulai hilang karena kalah dengan transportasi darat, tapi walaupun demikian masih nampak ada kegiatan trans[ortasi sungai walaupun minim, dimana saat ini hanya banyak digunakan untuk transportasi material pembangunan saja, tapi secara tak diduga kami berpapasan dengan 2 buah kelotok yang lengkap dengan bendera yang kami kira sudah ada kampanye, ternyata ada promosi keliling produk obat via kelotok.

Dalam waktu yang cukup panjang yaitu 4 jam, akhirnya sampailah kami di dermaga banjar raya tepat jam 12.15.

2 buah kelotok kami secara bergiliran merapat ke bus air yang akan membawa kami ke Nagara, dan kamipun melakukan transit pindah kapal (bukan pindah pesawat seperti di bandara) dengan meloncat secara hati-hati sambil membawa tas masing-masing.

image089_1image088_1image091

Setelah semua peserta berpindah ke bus air, 2 buah klotok kami kembali ke martapura, masing-masing peserta menyusun dan menata barang bawaan masing-masing. Kepada semua peserta diberi kesempatan untuk mencari snack atau rokok atau apapun tambahan makanan sesuai selera masing dan juga untuk menunaikan sholat dzuhur dan asar yang diqasar dan jama’ taqdim.

Sebelum berangkat, peserta di check kembali, ternyata bertambah 3 orang, yaitu 2 juru masak dan 1 peserta karena mereka membawa peralatan masak dan bahan masakan yang tidak muat dikelotok kami yang 2 buah tadi.

Tepat jam 13.00 kami berangkat dengan bus air menuju kota Marabahan sebagai persinggahan pertama, nampak kawan-kawan sibuk dengan celotehnya dan topiknya juga macam-macam mulai dari cerita betapa jayanya perusahaan-perusahaan kayu seperti Barito Pasific, Jayanti Jaya, dll sampai cerita bahwa di alur sungai barito juga banyak perompak. Tapi semua celoteh tadi akhir sunyi senyap , kalah dengan dengan suguhan makan siang nasi salik lauknya ayam yang aku tidak tahu dimasak apa tapi yang jelas enak dengan sambal yang tidak begitu pedas.

Peserta terbagi dua kelompok. Ada yang duduk dengan masing-masing kegaiatannya di dalam bus air dan satu kelompok lagi duduk-duduk di atas atap bus air, dan ini memang yang paling asyik dalam perjalanan lewat sungai karena pemandangan bebas luas sejauh mata memandang tanpa ada halangan.

Dua buah jembatan rangka baja yang besar dengan bentangnya yang panjang yang kami temui yaitu jembatan Barito dan jembatan Rumpiang.

Jam 18.36 kami merapat di dermaga Marabahan, kami kesempatan untuk mandi sore dan sholat magrib dan isya’ di masjid dekat dermaga. Kami sempat minum STMJ di pasar malam di kota marabahan sambil mencari tambahan snack dan lainnya.

Setiap persinggahan peserta tetap di absen, supaya jangan sampai ada peserta yang tertinggal.

Jam 19.45 tepat azan Isya’ berkumandang dan setelah azan selesai , bus air kami meluncur kembali menuju Margasari dalam suasana sungai yang gelap dan hanya nampak kerlipan lampu dari rumah-rumah penduduk ditepian sungai.

Mestinya kami makan malam sesaat setelah bus air berangkat, tapi banyak yang usul agar ditunda dulu karena msih terasa kenyang akibat jajan di pasar malam kota Marabahan, dan akhirnya jadilah makam malam jam 20.45 dengan nasi putih lauk ayam masak merah.

Sebelum makan tadi, Tim kesehatan mulai beraksi dengan buka praktek mengukur tekanan darah, check perut kembung, dll . Aku juga sempat check tekanan darah, ternyata 140/90, kata dokternya “masih aman” dan masih boleh makan sate kambing ’ kalau ada ‘.

Dalam perjalanan menyusuri alur marabahan-margasari kami banyak berpapasan dengan tongkang batubara yang ditarik atau didorong oleh kapal tug-boat yang lampunya terang benderang, bahkan kami sempat singgah di sungai putting tempat batubara di langsir dari truk ke tongkang. Dan kami berangan dan berandai-andai bagaimana setealh perda larangan angkutan batubara dilarang melewati jalan nasional dan jalan propinsi pada Juli 2009 nanti, maka alur marabahan-margasari ini akan semakin padat dan ramai dengan hilir mudiknya tongkang dan tugboat, dan kamipun berangan-angan akan membangun hotel dan restoran terapung yang dapat disinggahi para pekerja batubara.,

Di bawah terangnya cahaya bulan kami menyusur alur ini dan udara yang cukup dingin akhirnya kami sampai di margasari jam 22.15. Sebuah kejutan dan tak pernah terbayang dan terkirakan bahwa kami disambut dengan meriah dan hidangan yang tersaji di atas karpet warna merah diatas lantai dermaga, peserta ekspedisi semuanya langsung menengok dari jendela bahkan ada yang naik naik keatas kapal untuk melihat lebih jelas.

Dalam suasana udara yang dingin disuguhkan the panas dan kopi panas, siapa yang tidak bahagia? Apalagi ditambah ubi goreng dan kacang rebus yang panas pula. Suasananya sangat meriah dan penuh kekeluargaan. Selidik punya selidik, ternyata salah satu peserta ekspedisi mempunyai family di kota margasari ini !!! rupanya sebelumnya sudah saling kontak bahwa rombongan ekspedisi akan singgah di Margasari.

Cukup lama juga kami singgah di Margasari ini, jam 23.16 kembali bus air bergerak menuju persinggahan terakhir yaitu Kota Nagara di Hulu Sungai Selatan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama sekitar hampir 13 jam dan perut juga sudah terisi, terlihat peserta ekspedisi mulai ada yang menguap tanda mengantuk dan akhirnya juga banyak yang tertidur, namun sebagian juga masih banyak yang bertahan tidak tidur, ada yang masih mampu bertahan duduk di atap bus air sampai-sampai juga tertidur di atas atap juga, ada yang duduk diajungan muka.

Tidak banyak yang dapat dilihat dalam perjalanan pada alur ini karena memang sudah jauh tinggi malam dan menjelang tengah malam maka aktivitas sungaipun sunyi senyap.

Jam 03.33 pagi hari Minggu tanggal 16 November 2008 kami merapat di dermaga Kota Nagara, nampak masih sunnyi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan. Kami tetap berada dalam bus air, sampai menjelang subuh dan kehidupan sungai kota Nagara mulai terasa dengan lalu lalang kelotok denga suaranya yang cukup nyaring membangunkan orang yang masih tertidur nyenyak alam buaian mimpi indah.

Setelah matahari pagi mulai menyinarkan cahayanya , peserta mulai mengemas barang-barang bawaannya untuk siap kembali ke Martapura.

Dengan dijembut 2 buah bus perhubungan, 1 pregio, 1 L300 dan 2 buah double cabin dan truck Satpoll PP, rombongan kembali ke Martapura dengan masing-masing membawa kenangan.

Sate Domba Afrika

Sate atau kadangkala ditulis satay atau satai adalah makanan yang terbuat dari potongan daging (ayam, kambing, domba, sapi, babi, ikan, dan lain-lain) yang dipotong kecil-kecil,dan ditusuki dengan tusukan sate yang biasanya dibuat dari bambu, kemudian dibakar menggunakan bara arang kayu. Sate kemudian disajikan dengan berbagai macam bumbu (bergantung pada variasi resep sate).

Itulah pakem sate, namun ada sate yang menyalahi pakem sebagaimana layaknya sate yang umum di Indonesia, yaitu sate domba afrika. Dari sisi rasa tidak kalah kalah jauh dengan sate kambing yang terkenal di mana-mana, dagingnya empuk seperti daging kambing muda.

image073

Penyimpangan dari pakem satenya adalah bahwa 1). Dagingnya tidak dipotong kecil-kecil melainkan potongan hampir 1 sampai 1,5 ons tanpa ada tusuk satenya dipanggang di atas bara api yang terbuat dari arang.

2). Penyajiannyapun otomatis tanpa ada terlihat tusuk satenya, tapi potongan daging domba yang sudah masak tadi itu dipotong-potong kembali seukuran umumnya sate yang umum di Indonesia namun diberi racikan bawang Bombay yang besar-besar.

image0743

3). Penyerta makan sate yang umum di Indonesia ialah kalau tidak nasi putih, pasti longtong atau ketupat pilihannya, tapi inilah membedakan dengan sate umumnya yaitu pisang goreng.

Inilah wisata kuliner yang kutuju setelah selesai penerimaan Penghargaan Khusus untuk lembaga pemerintah yang mengaplikasikan e-procurement terbaik pada malam tanggal 041108, lokasinya di Jalan Gajah Mada berseberangan dengan Holand Bakery Jl. Hayam Wuruk Jakarta.

Caping – Tanggui – Tutudung

Sebuah produk local yang dibuat masyarakat di desa untuk tutup kepala dengan caping yang lebar guna melindungi dari silau serta sengatan matahari siang dari bahan kajang atau purun atau daun rumbia. Harganya di pasar local entah itu pasar kota, pasar kecamatan atau pasar desa semua mirip-mirip saja sekitar Rp.4.500,- per buah.

Kerajinan tangan ini dapat berupa tutup kepala atau dengan istilah local “tanggui” ternyata dengan inovasi yang kreatif dan sedikit sentungan seni air guci maka hasilnya menjadi jauh berbeda, berbeda designnya berbeda harganya bahkan beberapa kali lipat, hasil kreasi tadi kalau masuk pasar seni atau toko kerajinan atau dalam pameran seni menjadi Rp. 150.000,- untuk ukuran sedang.

Dengan mengharap dari Dinas Perindustrian dan Dinas-dinas lain yang dapat membantu , bahakan mungkin Tim Penggerak PKK Kabupaten dapat memberikan bimbingan dan membantu pemasarannya. Yang diharapkan oleh pasar, baik itu pasar local ataupun pasar nasional/internasional adalah kualitas yang baik dan kontinyuitas produk walaupun secara periodic, entah itu mingguan ataupun bulanan, yanag terpenting adalah kesepakatan kuota dapat dijaga sesuai kontrak.

Rencana Ekspedisi Sungai dari Martapura-Bjm-Marabahan-Margasari-Negara


Ekspedisi akan dilaksanakan pada :

Hari : Sabtu

Tanggal : 15 November 2008

Jam : 06.30 WITA

Route     : garis merah menyusuri sungai pada peta di atas

Titik Awal : Dermaga Jembatan Martapura I ( KM Bjm 42)

Titik Akhir : Dermaga Pasar Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Rencana waktu tempuh :

a. Martapura – Banjarmasin . . . . . . . . . . . . . 3 jam

b. istirahata di Banjarmasin . . . . . . . . . . . . . 1 jam

c. Banjarmasin – Marabahan . . . . . . . . . . . . 4 jam

d. istirahat di Marabahan . . . . . . . . . . . . . . . 1 jam

e. Marabahan – Margasari . . . . . . . . . . . . . . 4 jam

f. istirahat di Margasari . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 jam

g. Margasari – Negara . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 jam

T O T A L . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19 jam

Sarana Transpportasi :

2(dua) atau 3  buah Perahu motor (kelotok) dengan kapasitas 30 sd 35 orang/buah ada toiletnya di belakang (jumlah kelotok disesuaikan dengan jumlah yang mendaftar) untuk mengangkut dari martapura ke Banjar Raya, Dari Banjar Raya ke Nagara pakai kapal nagara (bus air) dengan daaya tampung 100-150 orang.

perahuekspedisi02

Sarana Pendukung : GPS, VHF Transceiver, Komputer, Digital Camera, Camcoder,emergency light, fishing kit.

Logistik : beras, corned beef, sarden, kareh kambing, kambing goreng, ubi kayu, ubi jalar , air mineral

Peserta : masih dicari sampai dengan tanggal 10 11 08(pendaftaran sudah ditutu)

Yang sudah mendaftar sampai dengan tanggal 05 11 08  sudah 16 orang.

Yang sudah mendaftar sampai dengan tanggal 06 11 08 menjadi : 39 orang.

Yang sudah mendaftar saampai dengan tanggal 08 11 08 menjadi 49 orang,

Yang sudah mendaftar sampai dengan tanggal 10 11 08 jam 12.00   69 orang,

Yang sudah mendaftar sampai dengan tanggal 10 11 08 jam17.30  75 orang,

Yang sudah mendaftar sampai dengan tanggal 10 11 08 jam 20.30  79 orang,

Saat penutupan pendaftaran jumlahnya 95 peserta, yaitu

AMBANG S

2. FIRMANSYAH

3. YUSNI ANANI

4. YUDI HARTANA

5. YAHMI YADI

6. RAHMADDIN

7. M. NOOR

8. SAYUTI

9. DANI

10. MADA TERUNA

11. STAF PARAMASAN

12. IMAM SUHARJO

13. RAHMADI

14. TAJUDIN

15. MUDZAKIR

16. HERU PITAYA

17. ADE RIZALI

18. ZAINAL

19. YURNIE YUSRIE

20. A. YAMANI

21. M. TARMIJI

22. JUMBERI

23. HUSAINI

24. M. HUSAINI

25. DIDIK HARYONO

26. ABRANI SULAIMAN

27. SURYADI APDANI

28. FAKHRUDDIN

29. HUSNI

30. MASRANI

31. BUDI DAYA

32. GT. RUSLI

33. ARMANIAH

34. JUBAIDAH

35. FANI REDHANI

36. DAHLAN

37. MADE

38. ALI FAHMI

39. MEMED

40. FAHRIN

41. SHADIQ

42. SLAMAT

43. MISLIANNOR

44. KASIANTO

45. SAMSUL RAMLI

46. TEJA

47. ASLIANSYAH

48. RUBAINI

49. MUSLIH

50. WASIS

51. BAMBANG TUNGGONO

52. BAHRUDDIN

53. ANTO

54. SELAMAT

55. ANANG BADAK

56. MULYADI

57. HALIDIN RAHMADI

58. DARKUNI

59. SUHADI

60. HIDAYAT

61. TONDANG

62. RIDUAN

63. WAHYU

64. GUNAWAN

65. HERLINA

66. AHYAR

67. DONY

68. SAFARIANSYAH

69. NASRULLAH

70. ABDUL BASIT

71. AGUS HIDAYAT

72. SALIM

73. SUMARMAN

74. SYARIFUDDIN

75. SAHAR

76. M. HASBI

77. HOLIL

78. MAHYUNI

79. DR. EKO

80. SAWIYAN

81. R. AGUSTINA

82. SAIFUL R

83. SAIFUL R BINI

84. MURYANI

85. DRS. SYAHMIRAN

86. HM YUSUF

87. ASNAWI

88. BAHRIANNOR

89. M. ROYANI

90. WAHYU

91. APRI SUHARTO

92. BAHRUDIN

93. SALHAN

94. M. MAHDI

95. NAHRIN

Perjalanan Martapura – Samarinda PP

Perjalanan ke Samarinda kali ini, aku bersama sama dengan rombongan BKD menggunakan 2 buah mobil dalam rangka Seminar Peningkatan Kapasitas Teknologi Informasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Dalam Rangka Percepatan Reformasi Birokrasi.

Diawalai dengan kesepakatan bahwa berangkat beriringan dengan start jam 06.00 hari minggu tanggal 19 Oktober 2008 di Bincau Martapura, ternyata baru terealisasi jam 06.30 pagi. Perjalanan dari Martapura menuju ibukota kabupaten pertama yaitu Rantau, berjalan lancar dan sampai di Binuang sebagai kota persinggahan, ini memang direncanakan untuk makan pagi disini dengan menu pundut dengan lauk ayam kampung goreng atau telur asin dan menu ini hanya ada di warung Beruntung Binuang. Sampai di Rantau sekitar jam 08.00 langsung menuju kota Kandangan yaitu ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sampai sejauh ini jalan masih lancar.

Dari Kandangan tanpa berhenti perjalanan masih diteruskan melalui kota Barabai sebagai ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, juga sama , nothing change . . . . . . artinya kalau travelling pagi pada jalan darat masih lancar tanpa gangguan traffic jam dan jalannya juga masih bagus dalam artian tidak rusak bergelombang atau berlubang dengan kubangan berair.

Dari Barabai menuju Paringin, ibukota Kabupaten pemekaran dari kabupaten Hulu Sungai Utara yaitu kabupaten Balangan, jalan mulai menyempit dengan lebar rata-rata 6 meter dan bahu jalan yang kadang tidak menentu lebarnya, ada yang 0,5 meter sampai dengan 1 meter. Namun ada perubahan yang cukup mencolok, mungkin karena aku sudah lama tidak lewat jalan ini lagi, yaitu lebar jalan menjelang masuk kota Paring lebarnya menjadi 2 x 6 meter dengan rencana median ditengahnya selebar 1 meter. Satu lagi yang berubah bagi aku yaitu banyaknya gedung-gedung pemerintah namun diantara gedung-gedung ada dua gedung yang paling megah yaitu Kantor Bupati Balangan dan Kantor DPRD Balangan. Bravo pak Bupati Balangan . . . . . . . tapi patut dimaklumi beliau Ir. Sevek adalah seorang civil engineer dan pengalaman di Kimpraswil yang cukup lama sampai menjadi Kepala Kimpraswil Provinsi Kalimantan Selatan.

Melintas perempatan kota Paringin sebagai kota lama, jalan agak tersendat karena di perempatan itulah terjadi perputaraan roda ekonomi masyarakat Paringin dengan pasar tradisionalnya. Dimana masyarakat di desa desa datang membawa hasil bumi untuk dijual kepada para pedagang pasar yang akan menjual kembali dengan menggelarnya dipinggir jalan sebagai PKL, namun ada juga yang sudah memiliki toko tetap. Secara umum Paringin sudah menggeliat untuk bergerak maju mengejar kakaknya yaitu kota Amuntai.

Tanpa terasa hampir 30 menit perjalanan , sampailah kami di pertigaan Mabu’un, suatu daerah baru yang akan dikembangkan menjadi kota yang baru setelah Tanjung sebagai ibukota Kabupaten Tabalong, karena nampak terlihat fasilitas fasilitas umum mulai bermunculan seperti SPBU, terminal antar propinsi, pasar yang representative, dan yang nampak megah adalah kantor DPRDnya, dengan sebuah keyakinan bahwa Mabu’un akan tumbuh menjadi kota besar karena dia dilintasi jalan nasional yang menghubungkan provinsi Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Timur. Dengan landmark dipertigaan Mabu’un adalah tugu obor yang tak pernah padam sejak didirikan beberapa puluh tahun yang lalu dengan bahan bakar gas alam abadi.

Mesin mobil masih belum panas dan driver masih nampak kokoh memegang kemudi, perjalanan masih diteruskan menuju perbatasan Kalsel Kaltim. Setelah sekian ratus km jalan nasional dilalui dengan kontur datar tidak ada jalan turun naik kecuali tikungan tikungan tajam, maka mulailah jalannya sekarang mendaki dan menurun. Kalau hanya mendaki dan menurun saja tentunya tidak menjadi masalah bagi mobil dan driver, tapi setelah kecamatan Jaro jalannya mulai rusak, rusak berat lagi sehingga kecepatan mulai agak tersendat. Akhirnya sampailah kami di tugu perbatasan , dan nampaknya tugu perbatasan dengan pintu gerbangnya yanag tinggi ini didesign sebagai tempat pemberhentian semua angkutan, karena di kanan jalan ada halaman yang cukup luas untuk parkir 20 buah mobil dan juga tersedia warung warung minum serta musholla yang representative untuk ukuran daerah setempat yanga rata-rata bangunannya adalah konstruksi kayu, karena musholla tersebut dibangun dengan konstruksi beton. Di atas tebing di bangun sebuah pasanggrahan dengan tipe rumah banjar bubungan tinggi sebagai tempat perisitirahatan bagi siapa saja yang ingin melepas lelah dengan berbaring menikmati sejuknya udara pegunungan.

Tepat jam 12.45 siang setelah beristirahat kami memasuki wilayah provinsi Kalimantan Timur dengan jalan yang menanjak terus, dan tanjakan yang terkenal sejak jaman dahulu adalah tanjakan gunung rambutan, tapi sekaranag sudah tidak seseram dahulu beberapa tahun yang lalu. Pertama karena disekitar tanjakan tadi sudah banyak permukiman penduduk dengan membuka warung warung makan dan minum, kedua ketinggian tanjakannya sekarang sudah jauh berkurang karena puncak tertingginya sudah dipangkas sehingga tanjakannya menjadi landai.

Jalan masih menanjak terus dan mobil masih dengan persneling rendah, serta kadang kadang ac mobil harus kami matikan kalau tidak ingin mobil mati mesinnya . Namun setelah setengan jam perjalanan yang cukup berat bagi mobil dan pengemudi serta juga bagi penumpangnya yang ikut tegang, nampak dikiri jalan ada air terjun yang cukup tinggi dengan hembusan uap air yang sejuk menerpa muka kita kalau jendela mobil dibuka. Disinipun tersedia areal parkir yang cukup luas pula untuk beristirahat mengembalikan tenaga dan semangat, bahkan dapat pula bagi yang ingin mandi atau sekedar mencuci muka disekitar air terjun tadi yang tentunya kita akan segar kembali setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Tidak ada laut yang tak bertepi, dan tak ada gunung yang tak berpuncak, akhirnya jalanan kami mulai menurun dan menurun, andaikan mungkin . . . ini berandai andai saja, mesin mobil kami matikan maka mobil akan meluncur terus tanpa haris kehabisan bahan bakar, tentunya dapat menghemat bahan bakar . . . . harapan kami beda dengan pengalaman driver, yang mengatakan mesin harus tetap hidup kalau tidak hidup maka remnya tidak berfungsi, bila rem tidak berfungsi . . . . maka mobil akan emergency landing di jurang ! Tepat jam 14.15 sampailah kami di Simpang Tiga Kuaro sebagai tempat persinggahan tetap untuk angkutan jurusan Banjarmasin Balikpapan/Samarinda. Disini ada sebuah warung special seperti halnya warung Beruntung di Binuang dengan menu andalannya pundut panas dengan telur asin, maka disini andalannya adalah payau masak habang (payau adalah menjangan/rusa/kijang liar, masak habang adalah adalah bumbu Lombok merah atau kalau di jawa timur diistilahkan dengan masak bali).

Disini kami istirahat cukup lama untuk ukuran perjalanan jauh, kami sempat makan dengan santai bahkan masih dapat menghabiskan 2 batang rokok ji sam su kretek. Juga mengontrol mesin, air radiator, kekencangan ban, dan lain-lain serta juga mengisi bahan bakan di SPBU.

Jam 16.00 perjalanan kami lanjutkan kembali dengan rasa segar dan semangat baru serta bahan bakar full tank seperti orang-orang yang didalam mobil semuanya full tank alias kenyang ! beberapa kecamatan kami lalui kembali seperti Long Ikis, Long Iram, Long Kali, oh ya . . . . ada satu daerah yang sering menjadi bahan guyonan dan bahan cerita yaitu kampung Babulu dengan sebuah pertanyaan yang konyol dan lucu apabila kita tanyakan kepada orang disamping kita . . . . . sudahkah babulu nak ? . . . . .’”

Sebetulnya kami tiba di Panajam tidaklah terlalu sore yaitu sekitar jam 17.00, namun antri masuk penyeberangan ini yang membuat kami kemalaman sampai di Samarinda. Bayangkan dari jam 17.00 tiba di penyeberangan, masuk kedalam kapal ferry jenis RORO jam 19.30 malam, jadi namanya penyeberangan panajam ini jarang pernah kosong, pasti antri lama walaupun kapal ferrynya beroperasi sebanyak 4 unit, tapi memang mobil yang mau menyeberang ke Balipapannya yang tidak pernah sedikit semakin tahun semakin banyak jumlah dan jenisnya. Jadi yang berubah di penyeberangan panajam ini tidak hanya jam antri tapi tarif penyeberangannya juga berubah dari Rp.75.000,- untuk jenis mobil penumpang, sekarang sudah menjadi Rp. 133.000,- untungnya penumpang dan driver tidak perlu bayar lagi !

Kapal ferry memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai dermaga Balikpapan di malam hari, ada yang duduk nonton tv dianjungan, ada yang meninkmati pemandangan kota Balikpapan di malam hari yang katanya seperti hongkong diwaktu malam nanpak cahaya lampu bersinar yang dipantulkan kembali oleh permukaan air laut seolah olah lampunya bergerak gerak menampak bayangan, dan nampak pula sebuah menara/atau cerobong berapi seperti obor pramuka saat jurit malam.

Walaupun sampai di Balikpapan sudah malam hari, tepatnya jam 20.15 namun tekad ke Samarinda sudah bulat bahwa selarut apapun harus tetap ke Samarinda sebab besok Senin pagi acara seminar sudah dimulai. Karena memang sudah yakin pasti akan datang larut malam di Samarinda dan dengan satu keyakinan pula bahwa di Samarinda tidak ada warung makan yang buka, maka kami putuskan untuk makan malam di Balikapan walaupun cukup di warteg, yang penting kenyang perut terisi.

Dari Balikpapan ke Samarinda kembali jalannya menanjak dan berliku liku dengan tikungan tajam, menyebabkan jalannya mobil tidak bias cepat ditambah pada malam itu hujan turun walaupun tidak lebat tapi cukup membuat permukaan jalan menjadi licin, inipun semakin memperlambat jalannya mobil, wal hasil . . . . . tiba di Samarinda seusai dengan perkiraan yaitu Jam 01.00 pagi Senin. Betapa susahnya mencari hotel di malam yang larut tanpa ada tempat bertanya, akhirnya dengan hunting by feeling dapatlah hotel kelas III yang lumayan bagus, artinya tidak mewah tapi bersih dalam arti sesungguhnya.

Esok paginya langsung ke PKP2A III- LAN Samarinda di Jalan Letjen MT. HAryono No.36, tidak sulit untuk menemukan gedung Kantor tersebut karena berada di tepi jalan besar, sesampainya disana langsung mendaftar sebagai peserta seminar, nampaknya pesertaanya seluruh wilyah Kalimantan walaupun yang dominan pesertanya berasal dari Kalimantan Timur. Acara dapat diselesesaikan on schedule tapi dilanjutkan dengan pengisian kuisioner dan pembagian sertifikat serta makan siang.

Selesai acara kami langsung ke Balikpapan dengan pertimbangan bahwa besok pagi bias kebih cepat datang ke penyeberangan ferry. Setelah sampai pada sore hari menjelang magrib di Balikpapan, yang pertama dilakukan sebagai prioritas adalah mencari penginapan, akhirnya dapat juga hotel baru yang lagi discount harga . . . promosi kali ya . . . . . yaitu Hotel Menara Bahtera. Hotelnya bagus bersih dst dst . . . .tapi ada pajangan yang menarik di lobby hotel yaitu sebuah motor besar merk Honda . . .yang gress . . . . antik lagi !! aku yakin pasti harga mahal .

Nah dalam perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan, kami sempat singgah disebuah resto di pinggir sungai mahakam, viewnya sangat bagus karena tempat kami duduk dapat melihat bentangan sungai mahakam yang lebar dengan arus lalu lintas trasportasi sungai yang ramai, ada tongkang batubara, ada speed boad, dan ada lagi kumpulan kayu log dalam jumlah yang besar, tidak tahu apakah ini legal atau illegal logging !

Selasa  jam 06.00 tanggal 21 Oktober 2008 dalam keadaan hujan rintik rintik . . . kami beserta rombongan setelah makan pagi di hotel meluncur menuju penyeberangan Kariangau. Dan tiba dipenyeberangan jam 06.45 ternyata kami sudah masuk antrian yang ke sekian jauh di belakang. Setelah satu jam lebih antri baru sampai di loket pembelian karcis penyeberangan, bayangan setelah dapat karcis bias langsung masuk ferry. . ternyata kembali antri dengan parkir di lapangan, adapun yang mendapat prioritas masuk ferry adalah truk tangki BBM untuk SPBU yang rata rata ukuran truknya besar besar mampu mengangkut 10.000 liter bahkan lebih sedangkan truk tangki BBM untuk industry sama saja dengan kami antri sesuai urutan, untuk keadaan ini antrian tidak ada yang protes karena maklum memang penting. Jadi yang mendapat prioritas pertama masuk kapal ferry adalah truk tangki BBM untuk SPBU, angkutan sembako apapun jenis mobilnya, baru disusul angkutan bis antar propinsi dilanjutkan untuk angkutan umum dan pribadi lainnya.

Setelah jam10.15 punahlah sudah masa penantian sebab 1 jam lagi insya Allah kami akan sampai di Panajam, cuaca masih sama hujan rintik rintik. Kebetulan bahan bakar mobil sudah sampai pada garis E maka kami berusaha mencari SPBU terdekat, SPBU pertama yang didapati ternyata ada papan pengumuman “ solar dan bensin habis”, terpaksa beli eceran di kios bensin pinggir jalan dengan harga yang lebih tinggi. Belinya cukup 5 liter saja dengan pertimbangan bahwa 5 liter bensin mampu menempuh jarak 60 km dengan harapan ada SPBU lain yang ditemukan. Tidak berapa lama memang didapati kembali SPBU kedua yang buka tapi juga dengan pengumuman “solar ada, bensin habis”, SPBU ketiga juga dengan pengumuman yang sama, akhirnya baru pada SPBU ke empatlah yang ada, tapi harus sabar menunggu dulu antri karena truk tangki bensinnya baru datang dan akan mengisi stok tangki pendam milik SPBU. Tidak tanggiung-tanggung mobil langsung kami isi full tank 65 liter.

Jam 13.15 siang kami tiba kembali di Simpang Tiga Kuaro, kembali pula dengan menu tetap payau masak habang, setelah makan dan berisitirahat , perjalananan kami lanjutkan kembali dengan cuaca yang masih sama pula yaitu hujan rintik rintik dan langitpun masih tetap mendung dengan wan hitamnya. Cuaca seperti ini sangata berbahaya bagi semua angkutan yang lewat pada jalan yang berliku dan menanjak seperti antara Kuaro sampai dengan tugu perbatasan Kalsel Kaltim. Dugaan kami cukup beralasan dan terbukti ada beberapa buah truk angkutan material ATB (asphalt treated base) yang terbalik.

Dengan waktu tempuh 75 menit, sampailah kami diperbatasan, tanpa istirahat perjalanan tetap kami teruskan sampai di Kandangan jam 19.00 dan mampir untuk makan malam dengan masakan khasnya Katupat Kandangan. Dengan perut kenyang perjalanan pulang diteruskan dengan semangat 45 karena secapek apapun kalau sudah dirumah tidak ada masalah lagi, bisa langsung mandi dan tidur.

Nyatanya harapan tinggal harapan, mobil kami terjebak dalam macetnya angkutan batubara di ruas jalan nasional sepanjang mungkin 10 km lebih, macetnya luar biasa ! Mungkin fenomena ini . . . . . .maksudnya bukan macetnya tapi truk angkutan batubara yang lewat jalan umum . . . . hanya terjadi di propinsi Kalimantan Selatan. Semoga kejadian kejadian ini nanti bulan Juli 2009 akan berakhir seiring dengan telah terbitnya Perda Propinsi Kalimantan Selatan yang melarang semua angkutan batubara dan hasil perkebunan dilarang melalui jalan umum (jalan NAsional dan jalan Propivinsi). Saya pernah bertanya kenapa hanya dilarang pada Jalan Nasional dan jalan Propinsi saja ? ternyata jawabnya yang berhak melarang untuk jalan Kabupaten adalah masing masing Bupati. Betul juga karena wewenang pembinaan jalan kabupaten dan jalan desa adalah Bupati. Tapi akan terjadi kelucuan sementara di Kabupaten A dilarang tapi di kabupaten tetangga tidak dilarang, padahal jalannya berada dalam satu link atau satu ruas jalan yang menerus.

Dapat anda bayangkan macetnya sampai 3 jam lebih, dalam 3 jam berapa peluang perputaran uang yang hilang percuma.

Akhirnya setelah terbebas dari macet dengan kecepatan tergesa gesa (pengganti istilah kecepatan tinggi) tibalah kami kembali di rumah masing masing peserta rombongan perjalanan ke Samarinda.

  • Kalender

    • Oktober 2017
      S S R K J S M
      « Mei    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Cari